memasuki gerbang langit
aku mendengar suaraMu
aku bersimpuh di sajadah awan
kelembutan yang menentramkan
sambut dzikirku ya Allah
tepiskan kehinaanku di sini
aku ingin Engkau saja bersemayam di hati
membangkitkanku dari kematian iman
menuju betapa indahnya hidup dalam ketaatan
terima dzkirku ya Allah
aku tak ingin terpisah dariMu
dari keindahan cintaMu
dari ketulusan kasih sayangMu
peluklah aku, selagi aku masih terus berdzikir kepadaMu
kuncilah gerbang langit, agar ku tak terjatuh lagi
di sini abadi...di sorgaMu ya Robbi
Januari 3, 2012
Pondok Gede
SAJADAH JIWA
Membentangkan segala yang ada, disujudkan dengan sepenuh jiwa dan dengan kekhusyukan yang sempurna, dari dan kepada-Nya melalui semesta.
03 Januari 2012
19 September 2011
Kematian
Aku melihat kematian berdiri tidak jauh dariku. Dia hanya diam membisu. Tidak tertawa,tidak juga tersenyum. Namun aku merasakan getarannya, yang seakan mengatakan,"Siapkan dirimu hai Si Hidup!" Aku ingin bertanya, tapi takut dia langsung merenggut jantungku. Aku coba menyimpulkannya sendiri, bahwa yang disuruh persiapkan adalah amalku. Lalu aku berpaling malu-malu melihat kalbuku. Ternyata belum ada apa-apa di sana. Astaghfirullah, ini pasti karena aku terlena dan terlalu banyak memikirkan urusan dunia. Sementara akhirat yang kekal dan indah dilalaikan begitu saja. lalu aku menyelinap menjauh darinya. Dari kematian itu. Aku ingin meningkatkan ibadahku, agar ada segenggam amal mengisi kekosongan kalbuku. Namun ternyata dia pun selalu mengikutiku. Bahkan sangat dekat, semakin dekat. Aku tak berani mengusirnya. Sebaliknya, aku memberanikan diri membiarkan dia selalu menguntitku. Dengan demikian aku bisa memotivasi diri, agar berjuang sekuat tenaga meningkatkan keimanan dan ketaqwaanku, sehingga saat ia kelak tiba-tiba merenggut nyawaku, aku telah benar-benar siap menghadapNya.
Jakarta, Agustus 2011.
Jakarta, Agustus 2011.
28 Juli 2010
Sketsa Rasa
Lapar dan Haus
Harris Cinnamon
Lapar dan haus sebentar lagi pasti akan kita alami. Ramadhan memang diciptakan Allah agar kita merasakan hal itu di dalamnya. Namun apakah kita harus menahannya? Ternyata tidak, justru sebaliknya kita itu memang harus lapar, harus haus? Kita harus merasa betapa kita sangat menginginkan makan, bahkan sangat menginginkan minum. Tapi makan dan minum justru bisa membatalkan puasa kita. Itu juga benar.
Lho jadi kita harus bagaimana? Untuk fisik, kita memang harus menahan agar tidak memasukkan apapun yang bersifat mengenyangkan nafsu perut dan nafsu birahi. Tapi untuk ruhani, kita tidak dipantang untuk memasukkan apapun yang mengandung nilai-nilai ibadah dan ketaqwaan kita. Karena itu kita harus menyantap makanan dan mereguk meminum dari segala sumber kaibaikan: dari bacaan Islami, dari ustadz-ustadz, dari guru agama,dll. Lebih-lebih selama ramdahan ini, kita harus tingkatkan rasa lapar dan haus kita untuk dapat mengisi ruhani kita, yang dapat mengenyakan dan melepaskan dahaga kita kelak dengan keindahan surga.
Harris Cinnamon
Lapar dan haus sebentar lagi pasti akan kita alami. Ramadhan memang diciptakan Allah agar kita merasakan hal itu di dalamnya. Namun apakah kita harus menahannya? Ternyata tidak, justru sebaliknya kita itu memang harus lapar, harus haus? Kita harus merasa betapa kita sangat menginginkan makan, bahkan sangat menginginkan minum. Tapi makan dan minum justru bisa membatalkan puasa kita. Itu juga benar.
Lho jadi kita harus bagaimana? Untuk fisik, kita memang harus menahan agar tidak memasukkan apapun yang bersifat mengenyangkan nafsu perut dan nafsu birahi. Tapi untuk ruhani, kita tidak dipantang untuk memasukkan apapun yang mengandung nilai-nilai ibadah dan ketaqwaan kita. Karena itu kita harus menyantap makanan dan mereguk meminum dari segala sumber kaibaikan: dari bacaan Islami, dari ustadz-ustadz, dari guru agama,dll. Lebih-lebih selama ramdahan ini, kita harus tingkatkan rasa lapar dan haus kita untuk dapat mengisi ruhani kita, yang dapat mengenyakan dan melepaskan dahaga kita kelak dengan keindahan surga.
01 Juli 2010
Puisi
Terang Tanah
Harris Cinnamon
Aku melayang...mengalir...menjelajah...
tahajud...hening...witir...tenang...
sunnah mesjid...tahmid...
sunnah subuh...teduh...subuh...
sejuk...
Ya, Allah, terasa begitu dekat denganMu
tapi selalu merinduMu...
Selamanya bersamaMu.
Akangkah alangkahnya. Begitu!
Inginku. Inginku.
Pondok Gede, 28 Juni 2010
Harris Cinnamon
Aku melayang...mengalir...menjelajah...
tahajud...hening...witir...tenang...
sunnah mesjid...tahmid...
sunnah subuh...teduh...subuh...
sejuk...
Ya, Allah, terasa begitu dekat denganMu
tapi selalu merinduMu...
Selamanya bersamaMu.
Akangkah alangkahnya. Begitu!
Inginku. Inginku.
Pondok Gede, 28 Juni 2010
21 Desember 2009
Puisi
Ibu, lebih dari buku
Harris Cinnamon
...ketika aku hendak menulis satu kata,
engkau telah menjelma satu buku.
ketika aku usai menulis satu buku,
engkau telah menjadi rak buku.
ketika aku membuat rak buku untuk mengumpulkan beberapa buku,
engkau telah menjadi perpusatakaan...
engkaulah segala ilmuku, ibu......
Sadar I, Lubang Buaya,
22 Desember 2009
Harris Cinnamon
...ketika aku hendak menulis satu kata,
engkau telah menjelma satu buku.
ketika aku usai menulis satu buku,
engkau telah menjadi rak buku.
ketika aku membuat rak buku untuk mengumpulkan beberapa buku,
engkau telah menjadi perpusatakaan...
engkaulah segala ilmuku, ibu......
Sadar I, Lubang Buaya,
22 Desember 2009
11 Desember 2009
Sketsa Rasa
Segala
Harris Cinnamon
Allah adalah segalanya.
Apakah mesti meragukan segalaNya?
Jangan ragukan segalanya Allah!
Ragukan segalamu saja.
11 Desember 2009
Sadar 1, Jakarta Timur
Harris Cinnamon
Allah adalah segalanya.
Apakah mesti meragukan segalaNya?
Jangan ragukan segalanya Allah!
Ragukan segalamu saja.
11 Desember 2009
Sadar 1, Jakarta Timur
24 Agustus 2009
Puisi
Aku datang di rumahMu
Harris Cinnamon
Aku datang di rumahMu
di saat tubuhku berdebu
aku ingin numpang mandi:
bersuci.
Bolehkah?
Aku juga lapar dan haus kasihMu.
Bolehkan jiwaku numpang makan dan minum cintaMu?
Pikir dan rasaku juga kelelahan.
Bolehkah aku meminta kasur pijatMu untuk melenyapkan kelelahan itu,
agar aku bisa tenang di dekatMu...
Aku datang di rumahMu.
Oh, banyak sekali permintaanku.
Engkau Maha Tahu, yang mana paling indah bagiku...
23 Agustus 2009
di awal ramadhan
Harris Cinnamon
Aku datang di rumahMu
di saat tubuhku berdebu
aku ingin numpang mandi:
bersuci.
Bolehkah?
Aku juga lapar dan haus kasihMu.
Bolehkan jiwaku numpang makan dan minum cintaMu?
Pikir dan rasaku juga kelelahan.
Bolehkah aku meminta kasur pijatMu untuk melenyapkan kelelahan itu,
agar aku bisa tenang di dekatMu...
Aku datang di rumahMu.
Oh, banyak sekali permintaanku.
Engkau Maha Tahu, yang mana paling indah bagiku...
23 Agustus 2009
di awal ramadhan
Ziarah
Berziarah Ke Makam Sultan Agung
Komplek Makam Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1718-1727 M) merupakan salah satu kekayaan arkeologi di Palembang. Komplek ini terdapat di kawasan Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, berbatasan dengan lingkungan PT Pusri. Dibatasi sebuah masjid, yaitu Masjid Sultan Agung.
Karena perkembangan kota, letak komplek makam yang merupakan bagian dari Kota Plembang Lamo ini sekarang bersebelahan pula dengan Kantor Kelurahan 1 Ilir, sebelah selatan.
Sebagaimana layaknya komplek pemakaman kuno lain di Palembang, Komplek Makam Sultan Agung berjarak sekitar 45 meter dari tepian sungai, yaitu Sungai Musi. Posisi tanahnya pun lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di sekitarnya. Sultan Agung adalah sultan ketiga di Kesultanan Palembang Darussalam, wafat sebelum Komplek Kawah Tekurep selesai dibangun. Dengan demikian, makamnya pun terpisah dari kompleks makam Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo itu.
Di komplek makam ini, terdapat dua deret makam, yaitu deretan di sebelah utara dan selatan yang masing-masing terdiri atas empat makam. Makam di deretan utara, satu makam utama karena letak tanahnya lebih tinggi dibandingkan makam-makam lainnya, saat ini dibangun pula semacam bangunan pelindung, adalah makam Sultan Agung. Makam ini diapit oleh dua makam yang nama di nisannya tidak terbaca. Ditambah pula dengan satu makam nisan dari unglen dan kini dalam kondisi genting yang juga tidak diketahui namanya.
Di kelompok makam kedua, terdapat satu makam yang dikenal, yaitu Raden Tubagus Karang. Tokoh ini adalah panglima perang dari Banten, kakak kandung Raden (Tu) Bagus Kuning yang makamnya berada di kawasan Patrajaya, bersebelahan dengan Kompleks Pertamina Baguskuning, Kelurahan Baguskuning, Kecamatan Plaju.
Sultan Agung memerintah di Kesultanan Palembang Darussalam selama hampir sepuluh tahun sebelum kekuasaan dikembalikan kepada Pangeran Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1727 M.
Proses peralihan kekuasaan pada masa ini cukup menarik. Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (1706-1718 M) merasa bahwa harus turun tahta, dia menyerahkan tahta di Kraton Beringin Janggut. Saat itu, putra-putranya masih sangat muda, termasuk Pangeran Jayo Wikramo. Karena itu, tahta diserahkannya kepada adiknya, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Komaruddin Seri Teruno. Pangeran Jayo Wikramo akhirnya meninggalkan Palembang dan bertualang di wilayah Nusantara. Saat kembali dia menjadi Sultan Mahmud Badaruddin I.
Komplek Makam Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1718-1727 M) merupakan salah satu kekayaan arkeologi di Palembang. Komplek ini terdapat di kawasan Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, berbatasan dengan lingkungan PT Pusri. Dibatasi sebuah masjid, yaitu Masjid Sultan Agung.
Karena perkembangan kota, letak komplek makam yang merupakan bagian dari Kota Plembang Lamo ini sekarang bersebelahan pula dengan Kantor Kelurahan 1 Ilir, sebelah selatan.
Sebagaimana layaknya komplek pemakaman kuno lain di Palembang, Komplek Makam Sultan Agung berjarak sekitar 45 meter dari tepian sungai, yaitu Sungai Musi. Posisi tanahnya pun lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di sekitarnya. Sultan Agung adalah sultan ketiga di Kesultanan Palembang Darussalam, wafat sebelum Komplek Kawah Tekurep selesai dibangun. Dengan demikian, makamnya pun terpisah dari kompleks makam Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo itu.
Di komplek makam ini, terdapat dua deret makam, yaitu deretan di sebelah utara dan selatan yang masing-masing terdiri atas empat makam. Makam di deretan utara, satu makam utama karena letak tanahnya lebih tinggi dibandingkan makam-makam lainnya, saat ini dibangun pula semacam bangunan pelindung, adalah makam Sultan Agung. Makam ini diapit oleh dua makam yang nama di nisannya tidak terbaca. Ditambah pula dengan satu makam nisan dari unglen dan kini dalam kondisi genting yang juga tidak diketahui namanya.
Di kelompok makam kedua, terdapat satu makam yang dikenal, yaitu Raden Tubagus Karang. Tokoh ini adalah panglima perang dari Banten, kakak kandung Raden (Tu) Bagus Kuning yang makamnya berada di kawasan Patrajaya, bersebelahan dengan Kompleks Pertamina Baguskuning, Kelurahan Baguskuning, Kecamatan Plaju.
Sultan Agung memerintah di Kesultanan Palembang Darussalam selama hampir sepuluh tahun sebelum kekuasaan dikembalikan kepada Pangeran Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1727 M.
Proses peralihan kekuasaan pada masa ini cukup menarik. Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (1706-1718 M) merasa bahwa harus turun tahta, dia menyerahkan tahta di Kraton Beringin Janggut. Saat itu, putra-putranya masih sangat muda, termasuk Pangeran Jayo Wikramo. Karena itu, tahta diserahkannya kepada adiknya, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Komaruddin Seri Teruno. Pangeran Jayo Wikramo akhirnya meninggalkan Palembang dan bertualang di wilayah Nusantara. Saat kembali dia menjadi Sultan Mahmud Badaruddin I.
Langganan:
Entri (Atom)
Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa
Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.