30 Januari 2008

SOSOK

Tukang Sate itu, Pak Subairi
Harris Cinnamon
E-mail:
harris.cinnamon@tpi.tv
harris.cinnamon@yahoo.com


Pak Subairi, 61 tahun, Pedagang sate di kawasan komplek lokalisasi Sarkem. Ia berasal dari Sampang, Madura. Ia sudah jualan sate di sini sejak tahun 1982. Sekarang tahun 2008, berarti ia sudah 26 tahun jualan sate di kawasan esek-esek ini.
Penghasilannya dari berjulan sate permalam-nya sekitar Rp 250.000. Wah suatu income yang lumayan! Income itu tentu saja didapat dari ratusan cewek-cewek “P” dan ratusan lelaki hidung belang yang berkeliaran di sini setiap malamnya.
Sebagaimana komplek lokalisasi umumnya, cewek-cewek “P’ tersebut, senantiasa berpenampilan seronok dan dengan tingkah laku yang genit nan menggoda. Karena itu merupakan daya tariknya.
Tapi saya jadi penasaran dengan Pak Subairi, bagaimana perasaannya selama 26 tahun berjualan sate di sini, di dalam suasana remang-remang dan hawa mesum yang santer setiap malamnya.
“Pak, pernah tergoda ndak untuk nyobain cewek-cewek di sini?” tanya saya menyelidik.
“Waduh, Dik, nusikin sate aja udah capek, semalam bisa 250 tusuk,” jawabnya polos. “Jadi ndak kepikiran, Dik.”
Hebat. Ternyata Pak Subairi tidak tergoda sama sekali. Dan lebih hebatnya lagi, dari hasil dia jualan sate itu, ia bersama istri tercinta telah menunaikan haji tahun 1997.
Terus tanpa diminta, kemudian Pak Subairi berceloteh, “Lagian yang dirasain sama-sama daging kok, Dik.”
“Tapi meskipun sama-sama daging, pasti ada bedanya ‘kan?” celetuk saya.
“Bedanya daging yang satu buang duit, sedang daging yang satunya lagi dapat duit,” jawab Pak Subairi, sambil menyodorkan sepiring sate pada saya.
(Jogyakarta, 28 Januari 2008)

Perjalanan Panjang Perahumu

Puisi: Harris Cinnamon


Perjalanan panjang telah engkau tempuh
Basah bersama luka dan peluh
Aku yakin engkau berusaha tak mengeluh
Namun manusia ada batas rapuh
Dengan terpaksa melepas kayuh
Perahu dihentikan dan berlabuh


Pulau dan pantai lain coba direngkuh…
Selamat jalan dan sempurnakan damaimu, tepiskan angkuh….


(Buat Yayuk Purchasing TPI, yang hari ini mengakhiri masa kerjanya)

PUISI

Perjalanan Panjang Perahumu
Harris Cinnamon

Perjalanan panjang perahumu telah engkau tempuh
Basah bersama luka dan peluh
Aku yakin engkau berusaha tak mengeluh
Namun manusia ada batas rapuh
Dengan terpaksa melepas kayuh
Perahu dihentikan dan berlabuh


Pulau dan pantai lain coba direngkuh…
Selamat jalan dan sempurnakan damaimu, tepiskan angkuh….


(buat Yayuk Purchasing TPI, yang hari ini mengakhiri masa kerjanya)

24 Januari 2008

CERPEN

Ujung Jalan
Harris Cinnamon
E-mail:
harris.cinnamon@tpi.tv
harris.cinnamon@yahoo.com

Satu setengah jam kemudian, kami satu rombongan Produksi Film Indie akan segera meninggalkan Bali, berangkat dengan pesawat menuju Jakarta. Sialnya salah seorang dari kami, Tito – seorang seleberitis yang ikut berperan dalam Film Indie tersebut, kedatangan teman kenalannya, Santi. Tito menyambut hangat wanita berwajah cantik dan tubuh seksi itu. Sejenak mereka berpelukan dan cipika-cipiki. Asyik masyuk sendiri. Seolah tiada orang lain di sekelilingnya.
Sebelum mengajak wanita itu ke dalam kamar hotel yang kami sewa, Tito sempat melirik ke arah kami dengan mata berbinar sekaligus nakal. Ia hanya melempar kata pendek kepada kami, “Aku berlayar dulu ya…!”
Kami hanya bisa saling pandang dan menggeleng atas sikap Tito dan wanita “apanya” itu. Entah apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar. Kami tak begitu perduli. Kami hanya takut ia berlama-lama bersama wanita itu, dan akhirnya ketinggalan pesawat.
5 menit. 10 menit. 15 menit…Akhirnya ketakutan kami tersingkirkan. Tito dan wanita itu keluar dari kamar. Dan kembali seperti awal kedatangannya, sejenak ia berpelukan dan cipika-cipiki dengan Tito, dan kemudian pergi sambil menyisakan senyumnya yang sumringah.
Dan…Astaghfirullah. Secara serentak kami melihat retsliting celana Tito terbuka. Agaknya ia tergesa-gesa dan lupa untuk mengancingkannya. Melihat hal ini, tentulah bisa diduga apa yang telah dilakukan Tito dangan wanita kenalannya (baca: kenakalannya) itu. Karena sesungguhnya, “Di antara lelaki dan wanita yang bukan muhrimnya bercengkerama, maka syetanlah yang akan merasukinya”. Mereka pasti telah melakukan maksiat, terlaknat.
Benar. Tanpa diminta, sambil mengatupkan pintu celananya yang terbuka, Tito kemudian menceritakan dengan bangga perbuatannya. Ia telah benar-benar berlayar dan mereguk sampai tuntas kenikmatan anggur dunia. Ia merasa itulah manifestasi dari kejantanan dan kesejatian pria. Padahal, di mata Allah justru saripati dari kejantanan dan kesejatian pria (ataupun wanita) adalah akhlakul karimah, bukan nafsu syahwat syetaniah.
Naudzubillah. Kami saling pandang dan menggelengkan kepala. Kami merasakan kegundahan mendera jiwa. Betapa tidak, sebentar lagi, kami akan berangkat dengan pesawat, dengan salah seorang yang hati dan badannya dilumuri kotoran maksiat. Apalagi secara nyata-nyata, setelah berbuat zina tidak mandi mensucikan jiwa dan bertaubat atasnya. Benar-benar najis dan nista.



Kalau tadi kami ketakutan akan ketinggalan pesawat, sekarang kami sangat ketakutan kalau harus terbang satu pesawat dengan orang yang mengusung noda dosa di dalam kalbu dan raganya. Kami kembali saling pandang. Tampak benar binar ketakutan memerah di wajah kami. Kami cemas akan azab Allah menimpanya, dan tentu saja akan berimbas pada kami yang bersamanya.

***

Satu setengah jam telah berlalu. Sekarang kami telah memasuki perut pesawat. Ketakutan dan kecemasan makin kencang membuncah jiwa. Dalam ketakutan dan kecemasan itu, tentu tak ada lain yang dapat kami lakukan, kecuali berdoa sekhusyuk-khusyuknya, “Ya Allah, ampunilah dia atas kenikmatan dunia yang telah direguknya, ampunilah dia atas ketidakatahuannya bahwa sesungguhnya Engkau telah menyediakan wanita-wanita yang muda, indah dan mulia di alam sorga, dan hindarkanlah kami dari kecelakaan pesawat yang kami tumpangi ini, ya Allah.”
Pesawat telah makin tinggi mengudara. Mulut kami terus menerus komat-kamit melantunkan doa keselamatan. Sementara Tito, kami lihat tenang-tenang saja, seperti orang suci dan alim layaknya.
Tanpa dinyana…! Tiba-tiba, di luar terdengar suara petir menyambar bersahutan seiring hujan yang mengucur lebat. Sesekali pesawat terguncang dengan hebat. Ketakutan dan kecemasan pun terasa makin mendahsyat. Apalagi ditimpali suara pramugari yang mengingatkan agar kami semua tetap tenang dan tetap mengenakan sabuk pengaman dengan kuat. Sungguh, saat itu, serasa azab dari Allah segera datang mendera. Dan sungguh pula, ketika itu, tak ada lagi yang bisa diharap, kecuali berserah pasrah pada takdir-Nya. La haula wala quwwata illa billah…
Namun, kenyataan berkata lain, tak ada kecelakaan yang menimpa. Pesawat yang kami tumpangi tiba dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Kami semua, termasuk Tito, juga selamat. Utuh, tak ada yang kurang. Alhamdulillah. Namun, sejenak timbul pikiran picik dalam benak, mengapa Allah tidak menimpakan balak pada orang seperti Tito dengan telak? Tapi pada sisi lain, aku (dan aku yakin kami semua) merasa diuntungkan. Coba jika seandainya azab Allah itu benar datang menimpa, maka semua akan mengalami celaka…

***

Kisah maksiat yang dilakukan Tito telah berlalu. Cerita ketakutan dan kecemasan di dalam pesawat terhadap azab Allah juga telah berlalu. Berlalu beberapa tahun yang lalu. Dan kami, terutama aku, sudah lama tidak berjumpa dengan Tito, bahkan sudah tidak satu pekerjaan lagi. Entahlah bagaimana keadaan Tito sekarang? Mungkin ia masih terus berkubang dalam lumpur kemaksiatan atau sudah jadi orang yang beriman?
Hari ini, aku akan bepergian ke luar kota. Ke Yogyakarta. Aku ingin mengikuti acara pengajian di sebuah masjid yang baru dibangun di daerah Bantul, setelah sebelumnya porak-poranda dihantam bencana.



Begitu aku memasuki ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, aku terperangah menyaksikan seraut wajah yang sangat bersih. Wajah itu sangat bercahaya. Namun yang membuat aku merasa aneh, pemilik wajah ber-Nur Illahiah itu adalah Tito. Alangkah…? Mungkinkah…?
Dengan hati diliputi tanya dan rasa tak percaya yang mendalam, aku menghampirinya. Dia tersenyum menyambut kedatanganku. Setelah berjabat tangan, aku duduk di sebelahnya. Terjadi basa-basi sejenak di antara kami, sebelum terlibat perbincangan yang cukup serius.
“Aku lihat kamu banyak berubah…” tukasku beberapa saat kemudian.
“Banyak yang mengatakan begitu, “ jawabnya, “Tapi aku merasa biasa-biasa saja.”
“Masih berkecimpung di dunia keartisan?” Pertanyaan ini tiba-tiba terlontar, karena memang sudah cukup lama aku tidak melihatnya di layar kaca.
“Mungkin ini yang disebut ‘banyak berubah’, karena sudah sejak lama aku meninggalkan dunia yang penuh glamor itu.”
“Terus sekarang kegiatannya apa?”
Belum sempat menyelidik lebih jauh lagi mengenai kiprahnya, tiba-tiba ada panggilan yang menyuruh kami agar segera memasuki pesawat. Aku, Tito dan semua calon penumpang segera berhamburan beranjak memasuki pesawat.
Di dalam pesawat, kami duduk terpisah jauh. Tito duduk di bangku deretan depan, sedang aku duduk di bangku paling belakang. Sehingga niat ingin melanjutkan perbincangan, tak kesampaian.
Begitupun ketika turun dari pesawat, ia seperti di telan zaman. Lenyap. Menghilang. Tinggallah harapan di dalam benakku, semoga suatu saat bisa bertemu lagi.

***

Ba’dah Isya, aku telah berada di antara ratusan (lebih dari 500 jamaah) yang hadir dalam pengajian di masjid di daerah Bantul tersebut. Panitia pengajian menginformasikan, bahwa sebentar lagi Ustadz yang akan memberikan tausyiah segera menaiki mimbar.
Dan betapa tercangangnya aku begitu mengetahui bahwa Ustadz yang dimaksud adalah Tito. Seeorang pria yang pernah melakukan maksiat di depan mata kepalaku sendiri, sekarang sudah menjadi seorang mubaligh…Subhanallah…Aku tenggelam dalam kemustahilan. Sampai-sampai aku tak mendengar tausyiah yang disampaikannya.
Begitu tersadar, aku langusung mengejarnya seusai ia turun dari mimbar. Aku langsung menemuinya. Seperti ketika ketemu tadi siang di bandara, ia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku menjabat tangannya dengan erat, dan seperti mengerti apa yang berkecamuk dalam benakku, dia langsung berujar.
“Inilah kegiatanku sekarang, “ tukasnya. “Dan inilah jawaban atas pertanyaan yang kamu ajukan siang tadi di ruang tunggu bandara.”
“Mungkin kamu masih ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, kira-kira satu setengah jam menjelang keberangkan kita ke Jakarta, “ tiba-tiba ia bercerita, tanpa kuminta. “Aku kedatangan wanita, teman kencanku. Di dalam kamar, aku melakukan maksiat dengannya. Ketika itu aku sangat bangga atas perbuatanku. Bahkan aku merasa tidak berdosa sama sekali. Aku memasuki pesawat tanpa junub, tanpa membersihkan badan terlebih dahulu. Tapi ketika badai dan petir mengguncang dengan dahsyat pesawat yang kita tumpangi. Aku begitu ketakutan…!”
“Tapi kulihat kamu tenang-tenang saja waktu itu,” pancingku.
“Karena ketakutan yang dahsyat mencekamku, aku jadi diam terpaku. Jantungku serasa berhenti berpacu. Seolah sakratul maut sudah datang menjemput. Kurasakan kematian sudah sangat dekat denganku. Aku pasrah ketika itu.”
“Bagaimana orang yang berdosa, orang yang habis melakukan maksiat bisa begitu pasrah?”
“Aku memang salah, aku memang berdosa, “ ujarnya lirih. “Aku tak menolak jika Tuhan mencabut nyawaku dalam keadaan bernoda waktu itu. Aku pasrah sekalipun harus meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Karena aku yakin, kalau bencana itu benar-benar datang menimpa, maka dosa-dosaku makin lengkap dan sempurna. Karena kematian pasti bukan hanya menimpa diriku, tapi merenggut juga seluruh nyawa penumpang yang tak berdosa yang ada di pesawat itu. Tapi nyatanya Tuhan berkehendak lain. Ia menyelamatkanku. Ia menyelematkan kita semua. Dan sejak saat itu, aku berjanji pada diriku untuk tidak berbuat maksiat lagi…aku taubat…taubatan nasuhah…dan inilah -- seperti yang kujalani ini – hikmah dari kemaksiatan yang aku lakukan…”
“Subhanallah,” hanya itu yang keluar dari bibirku, sambil menepis sisa-sisa prasangka yang selama ini bersarang di dalam jiwa…
“Banyak episode sinetron telah aku bintangi,” tukas Tito memutus keherananku. “Aku jago akting. Jadi, kenapa tidak kumanfaatkan keahlianku ini untuk berdakwah?”
Aku terharu mendengar penuturannya. Sekarang justru aku merasa kerdil di mataNya, aku yang sering mengikuti pengajian, justru belum bisa berdakwah atau memberikan tausyiah, seperti yang Tito lakukan.
“Aku telah menemukan jalanku,” ujarnya kemudian, seperti hendak mengakhiri perbincangan, karena tanpa terasa malam telah larut. “Inilah ujung jalan dari kemaksiatanku…” (Dimuat di m ajalah islam Alia)



Pondok Gede, 20 April 2007

Harris Cinnamon
Jl. Sadar I, No. 35, Rt.02/Rw.06
Lubang Buaya, Jakarta Timur 13810

Sajadah Cinta

Lirik/lagu : Cinnamon

Kami bentangkan sajadah cinta
di bumi-Mu, ya Allah…
Kami bentangkan sajadah cinta
di bumi-Mu, ya Allah…
untuk bersujud, untuk ibadah
mencari ridho-Mu jua, mencari ridho-Mu jua
Lilahi ta’alla…lilahi ta’alla…

Kami bentangkan sajadah cinta
di bumi-Mu, ya Allah…
Kami bentangkan sajadah cinta
di bumi-Mu, ya Allah…
bawa amanah, bawa perintah
sampaikan kebenaran, mencegah kemungkaran
Lilahi ta’alla…lilahi ta’alla…

Kami berdakwah di jalan Allah
Kabarkan berita gembira
tentang indahnya sorga, tentang indahnya sorga
Kami berdakwah di jalan Allah
Menyeru dengan penuh cinta
sampai akhir dunia, sampai akhir dunia…

Jakarta, 16 Oktober 2006

(dari Album Religi NAVAZ BAND --nama kemudian: Sorga Band?)

23 Januari 2008

PUISI

Embun yang Pulang
Harris Cinnamon

Relakan embun yang masih bening itu pulang
Matahari telah menjemputnya
karena kepergian bukanlah hilang
hanya berpindah dimensi: waktu dan ruang
dan keikhlasan kan menenteramkan jiwanya
dan memberi hikmah untuk kehidupan yang berdebu, yang masih berjalan.....

(Puisi untuk Cemung Karjia yang kehilangan putra pertama, 23 Januari 2008)

20 Januari 2008

KACA JIWA

Nasihat Teman dari Agama Lain
Harris Cinnamon
E-mail:
harris.cinnamon@tpi.tv
harris.cinnamon@yahoo.com

Sabtu, 06.15 Wib. Di restoran hotel, saat sarapan pagi, 3 orang temanku ngumpul di satu meja. Biasa sambil makan, cerita tentang pengalaman jalan malam mereka, setelah siang sebelumnya sibuk bekerja.
Ada salah seorang temanku, yang termasuk 'penjahat kelamin' bercerita semangat, bahwa tadi malam ia menghabiskan waktunya bersama teman kencannya. Temanku yang lain, bertanya padaku.
'Kalau kamu apakah bercinta juga semalam?'.
'Aku cuma ngendon di kamar. Soalnya aku baru cukur rambut kemaluanku. Tapi bentuknya berantakan. Nggak ada modelnya.'
'Jadi karena itu kamu nggak berusaha mencari teman untuk melepaskan syahwat?'
'Insya Allah!' jawabku singkat.
'Bersyukurlah. Karena salah cukur, imanmu terjaga dan tidak menambah dosa.'
Lantas aku bertanya kepada temanku yang beragama kristen, -- selain dia, kami bertiga muslim, 'Kalau kamu biasanya sudah punya jaringan sendiri?'
'Sekarang aku sudah di atas 40.'
'Lantas apa hubungannya usia di atas 40 dengan kebebasan bercinta.'
Dengan ringan dia menjawab, 'Ustadz Arifin Ilham bilang: jika seseorang di atas usia 40 tahun masih juga melakukan maksiat, itu berarti dia sangat sesat.'
Kami bertiga tentu saja kaget, dia 'kan kristen, tapi justru ulama dari kalangan muslim yang dia sebut untuk memperingatkan kita (bukan berdasarkan Pendeta, injil atau lainnya). Subhanallah.......
(dalam tulisan ini sengaja tidak dicantumkan nama kota atau daerah tempat kejadian, karena yang penting adalah isi pesan moralnya).

17 Januari 2008

Selengkapnya Profil Harris Cinnamon

Sutradara, Penulis, Vocalis Band

Memulai karier sebagai penulis Cerpen (1983) di berbagai majalah Remaja dan Koran, seperti ANEKA, Anita Cemerlang, RIA REMAJA, FANTASI, SUARA PEMBARUAN, PELITA. Sampai sekarang pun masih aktif menulis Cerpen dan Skenario Sinetron. Sempat pula beberapa tahun menjadi wartawan freelance di berbagai media cetak Indonesia.Sebelum bergabung di Bengkel Teater Rendra (1985), memperdalam ilmu akting dan penataan artistik, sempat kuliah di INSTITUT KESENIAN JAKARTA (IKJ) mengambil jurusan Ilmu Seni Peran (1985-1986). Setelah itu melanjutkan pendidikan wartawan di INSTITUT ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK (IISIP) JAKARTA tahun 1996 s.d 1990.Pada tahun 1991, seusai ikut Diklat Penyutradaraan di TVRI, beralih profesi menjadi Sutradara hingga saat ini. Dari dan atau berkat pekerjaan menyutradarai sinetron ia pernah dikirim ke Singapura untuk memperdalam ilmu penyutradaraan dan manajemen produksi di ASIAN INSTITUTE BROADCASTING DEVELOPMENT (AIBD) tahun 2003. Pernah pula karyanya reality show misteri GENTAYANGAN (UKA-UKA) menjadi nominee pada festival ASEAN TELEVISION AWARD, Singapura (2005).Prestasi lainnya, sinetron DALAM SANGKAR yang disutradainya mendapat nominasi pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) tahun 1994. Tahun berikutnya sinetron BAWANG EMAS terdaftar juga sebagai nominasi FSI 1995. Di tahun 1996, karyanya berduet dengan (alm.) TEGUH KARYA berjudul MAINAN DARI KELAS juga menjadi nominasi FSI 1996.Karya-karya sinetron yang lainnya, yang pernah disutradainya, antara lain:Sinetron komedi OPERA ODOL, 26 episode, tayang di TPI tahun 1995. Pemainnya NURUL ARIFIN, YURIKE PRASTIKA, KIKI FATMALA, BEBY AYU, DIAH PERMATASARI, TETTY LIZ INDRIATY, OMAS, dll.Sinetron komedi GOSIP RESMI, 13 Episode, tayang di TPI tahun 1995. Pemainnya EL MANIK, HENGKY SULAIMAN, LINA BUDIARTY, BABY AYU, dll.Sinetron komedi BINTANG-BINTANG, 13 Episode, tayang di TPI tahun 1995. Pemainnya HENGKY SULAIMAN, SASHA BENJAMIN, YURIKE PRASTIKA, dll.Senetron seri AKHIR SEBUAH KERINDUAN (Skenario ZARA ZETTIRA ZR), 18 Episode, tayang di TPI tahun 2000. Pemainnya PONCO BUWONO, SARAH VI, TORRO MARGENS, dan LILIS SUGANDHA.Sinetron seri FAJAR CINTA MEREKAH, 8 Episode, tayang di TPI tahun 1997. Pemain: AGUS KUNCORO, PONCO BUWONO, VINI ALVIONITA, RATNA LISTY.Sinetron (FTV) ORDE CINTA produksi PRIMA Entertainment, 2001, tayang di SCTV. Pemainnya AMARA LINGUA, FRANS MOEHEDE dan DELA PUSPITA.Sinetron (SMS) PENANTIAN 3 MALAM produksi INDIKA, tahun 2002, tayang di SCTV. Pemain: ATTARSYAH, ANANDA LONTOH, DEDE YUSUF, FRANS TUMBUAN, EVA ROSDIANA DEWI.Sinetron (Layar Anak) EMY TOMBOY produksi INDIKA/CGH, tahun 2002, tayang di SCTV. Pemain: ADIPURA, DYOZA C.Sinetron (Layar Anak) PEMBALASAN PANJI produksi INDIKA/CGH, tahun 2002, tayang di SCTV. Pemain: DIMAS DW, CHELSEA OLIVIA, DYOZA C.Cerpen TV GURUKU HANDSOME, tayang di TPI tahun 2002.Sinetron misteri PERJANJIAN DENGAN SETAN, tulisan Abdullah Harahap, produksi VIRGO PUTRA FILM, tahun 2002, tayang di TPI. Pemain: AGUS KUNCORO, LILIS SUGANDHA, HENGKY KURNIAWAN.Sinetron seri BAYI GEDE, produksi 2005, tayang di TPI, pemain: RONY DOZER, FITRI HANDAYANI, AGUS LEO, KUBIL.DllKaryanya yang lain yang cukup fenomenal adalah reality show misteri GENTAYANGAN (UKA-UKA) sebanyak 250 episode.Di samping menyutradai sinetron, juga menyutradarai program-program talk show, reality show, game show, quis, infotainment dan juga konser-konser musik, seperti NADA & DAKWAH Rhoma Irama, SEMARAK DANGDUT, MUSIK LEGENDARIS, DANGDUT YOO JALAN-JALAN, MUSIK SUPERSTAR RHOMA IRAMA & ADA BAND, dll.

HARRIS CINNAMON
Jln. Sadar I No. 35, Rt.02, Rw.06
Lubang Buaya, Jakarta 13810
Telp: 021-8416207, 021-98105377
HP: 08161654040, 08888003113

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa

Boleh Dong Numpang Mejeng....

Boleh Dong Numpang  Mejeng....
Mencoba menatap masa depan sebisanya, sesapanya...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...
Ah....kayaknya cukup keren jugalah...

Gadis Aceh

Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.