28 Februari 2008

Sketsa Rasa

Asuransi Jiwa? Ha!!??
Harris Cinnamon

Sebulan terakhir aku sedikit kesal dan jengkel, orang dari jasa asuransi mengejar-ngejar terus, menawarkan asuransi jiwa...

Aku menolaknya.
Aku jelaskan kepadanya, masak nyawaku harus aku asuransikan, seakan nyawa aku beli dari Tuhan...padahal Tuhan memberikannya kepadaku secara cuma-cuma, dan boleh aku pakai semauku, sampai Tuhan mengambilnya kembali....

Tapi dasar!
Orang itu tidak mau menyerah, terus saja memburu...aku jadi membayangkannya, seakan dia adalah malaikat maut...Padahal, terus terang jika dia benar malaikat pencabut nyawa, tentu aku senang dan dengan bangga akan aku tanda-tangani sertifikat polis-nya. Tapi berhubung yang datang jelas-jelas adalah orang, maka jelas-jelas pula aku menolaknya.

Sesungguhnya jiwaku ada yang menggenggamnya, yaitu Allah. KepadaNya-lah jiwaku 'kan kupersembahkan, dengan setulus-tulusnya.

27 Februari 2008

PUISI

Rapat
Harris Cinnamon

ketika engkau sibuk merindu
hiruk pikuk duniamu
kusembunyikan sepiku
di dalam batu

Jakarta, 26 Februari 2008

19 Februari 2008

CERPEN

KEKAGUMAN
Harris Cinnamon
E-mail:

Delia, kamu cantik!
Rambutmu, matamu, hidungmu, lesung pipimu, merah jambu bibirmu, dan tubuhmu yang tinggi semampai itu menyempurnakan kecantikanmu.
Tapi sungguh, bukan itu yang membuat aku mengagumimu.
Aku kagum padamu karena kamu adalah seorang broadcaster sejati bagiku…

Sebagai seorang juru kamera, aku kerap ditugaskan bersamamu. Tapi kita jarang saling tegur sapa. Kalaupun sempat berbincang, itupun just say hallo atau ala kadarnya saja. Apalagi saat kamu menjadi penyiar berita, dan aku hanya juru kamera studio, saling beradu pandang saja sudah lumayanlah. Seusai on air membacakan berita, kamu segera melepas clip on dari bajumu, membereskan skrip-skrip berita, sejenak senyum kepada crew, termasuk juru kamera seperti aku, lantas setelah itu kamu beranjak menjauh, meninggalkan ruang studio yang dinginnya bisa bikin badan beku. Begitulah, selalu.
Sampai suatu saat, mungkin karena prestasi atau alasan lainnya –- dan aku tidak mempersoalkannya, aku lantas dimutasi ke bagian lapangan. Menjadi juru kamera luar ruang, out door. Dan otomatis sejak saat itu, aku tidak lagi bisa bertemu dan melihatmu secara langsung, seperti biasanya. Aku kemudian hanya bisa melihat dan mendengar suaramu lewat layar kaca televisi. Terkadang ada kerinduan untuk bertemu kamu. Karena ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu, sesuatu yang menyentuh naluriku.Tapi aku takut kamu salah sangka padaku, dikira nanti ada maksud-maksud tertentu. Dan apa pula alasannya kalaupun ada waktu buat bertemu. Hubungan antara juru kamera lapangan dengan penyiar berita di studio, nyaris tak ada sama sekali. Kecuali jika profesiku produser berita, tentu akan aku gunakan jabatan itu untuk menemuimu dan mengatakan yang menjadi uneg-unegku.
Lewat tugas-tugas yang menumpuk di lapangan -- merekam peristiwa membuncahnya lumpur Lapindo di Sidoarjo, longsor di Padang , Banjir di Samarinda, keributan warga di Sorong, dan lain-lainnya --, aku coba melupakan kamu. Memang bisa, tapi sesaat. Artinya pada saat aku hanyut dalam pekerjaan, kamu bisa kulupakan. Namun, di saat istirahat di kamar hotel, menjelang tidur dan apalagi ketika menyalakan TV ada kamu menyiarkan berita – yang gambar-gambarnya adalah hasil bidikan kameraku, maka ingatan terhadap kamu mengusik benakku. Rasanya sulit melupakanmu.
Beberapa waktu berlalu, seolah sudah tak ada kemungkinan lagi untuk bertemu kamu. Seolah kamu adalah seleberitis di layar kaca, sedangkan aku hanyalah seorang pemirsa, yang ketika menyukai artis idolanya hanya bisa berangan-angan dengan segala asa. Namun betapa terkejutnya aku, begitu mendengar kabar bahwa kamu memutuskan untuk berhenti menjadi penyiar berita dan berniat menjadi seorang reporter saja.
“Bukan berarti saya mengecilkan profesi penyiar berita,” ungkapmu di salah satu infotainment. “Tapi menjadi reporter, yang terjun langsung di lapangan, bagiku terasa lebih menantang. Aku lebih bisa merasakan secara mendalam apa yang dirasakan oleh narasumber dari setiap peristiwa yang dialaminya, bahkan aku bisa melihat dari dekat kejadian yang sesungguhnya di lapangan.”
Aku terpukau terhadap pernyataanmu itu. Surprise, tapi juga sedikit kurang percaya. Profesi -- penyiar berita -- yang prestisius itu akan kamu tinggalkan begitu saja hanya untuk menjadi seorang reporter lapangan? Sementara puluhan bahkan ratusan orang berebutan untuk bisa menjadi penyiar berita TV dengan kursus broadcasting ini-itu dan dengan biaya yang tidak murah. Sungguh suatu keputusan, yang aneh juga. Dan sesungguhnya, Delia, aku sangat menyayangkan keputusanmu itu. Namun aku yakin kamu punya pilihan, yang pasti pula sudah kamu pertimbangkan dengan matang. Untuk itu, pastinya aku memaklumimu. Tapi …ini yang penting, meskipun aku menyayangkan atas pilihanmu menjadi reporter itu, sisi hatiku kecilku yang lain sebenarnya mensyukuri keputusanmu itu. Karena dengan demikian, harapan untuk bisa bekerja bareng kamu lagi, agaknya akan segera menjadi kenyataan. Dan akan semakin terbuka kesempatanku untuk mengungkapkan ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu, sesuatu yang menyentuh naluriku itu.

***
Aku baru saja meletakkan peralatan syutingku: kamera, tripod, mike dan batere di bagasi mobil, ketika sesosok bayangan yang sudah cukup aku kenal melintas. Delia! Jantungku berdegup kencang.
“Hai!” sapamu ramah padaku. “Tidak disangka kita ketemu lagi.”
Aku merasa tersanjung dengan sapaanmu itu. Namun, aku sedikit pangling melihat penampilanmu. Ternyata ada perbedaan antara saat kamu tampil membacakan berita di laya kaca dengan kamu berada di lapangan seperti ini. Kamu tampak sangat sederhana. Wajahmu yang cantik, kamu biarkan polos saja, tanpa riasan. Pakaian yang kamu kenakan pun biasa pula: kemeja putih dan celana jin yang telah pudar warnanya. Sungguh suatu kebersahajaan yang tak pernah disangka olehku sebelumnya.
“Hai!” sapamu lagi, membuyarkan keterpanaanku. “Aku berbeda ya?” tanyamu kemudian, seakan tahu apa yang berkecamuk dalam benakku.
“Oh iya,” kataku terbata.
Sejenak kamu senyum. Setelah itu kamu masuk ke dalam mobil, duduk di bangku depan dekat sopir. Aku duduk di bangku tengah sendirian.
Hari itu, sesuai jadwal – seperti yang tertera di dalam surat tugas yang aku terima, kita hendak meliput peristiwa penggusuran di kawasan Barito, Jakarta Selatan.
Sepanjang perjalanan, setelah just say hallo itu, komunikasi di antara kamu dan aku terputus. Kamu tenggelam dengan blackberry-mu, agaknya kamu sedang sibuk menyusun pertanyaan-pertanyaan untuk bahan wawancara atau untuk maksud lainnya. Entahlah. Yang jelas dengan kondisi kamu seperti itu, tentu saja aku tak berani mengusikmu. Aku coba menahan diri untuk tidak mengganggu konsentrasimu.
Hanya dari tempat dudukku, aku sesekali mencuri pandang. Aku melihat wajahmu lewat kaca spion yang tergantung di flafon mobil. Melihatmu, aku membayangkan pelangi di cakrawala. Kebiruan langit akan kehilangan keindahannya, jika tanpa bias warna dan cahayamu.
Suara hiruk pikuk, suara orang-orang berteriak, menyadarkanku. Ternyata kita telah sampai di lokasi tujuan peliputan di Barito. Kamu segera melesat kaluar, menerobos kerumunan massa . Aku pun tak mau ketinggalan, aku segera mengangkat kamera, menyalakannya dan mengarahkan lensa ke arah mana kamu melangkah. Tak dinyana, kamu memperlihatkan kegesitan sebagai reporter berita. Tak terlihat canggung sama sekali. Padahal ini adalah kali pertama kamu terjun langsung ke lapangan. Tapi kamu sudah seperti reporter profesional. Kamu menunjukkan diri sebagai seorang reporter kawakan. Luar biasa!

***
Sejak bersua dan bekerja sama lagi di ranah luar ruang, dimulai dari peristiwa penggusuran di Barito, Jakarta Selatan, beberapa bulan lalu, selanjutnya kita sering mendapatkan tugas jalan berdua. Yang tadinya, hanya bicara seperlunya, hanya sedikit pandangan mata dan sekilas senyuman biasa, sekarang agak lebih leluasa dan bersahaja. Kita pun bisa lebih akrab berdekatan dan berbicara.
Dan hari ini, Delia, barangkali adalah hari yang paling pas untukku berbincang panjang lebar denganmu tentang ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu, sesuatu yang menyentuh naluriku. Mengapa aku katakan paling pas, karena aku menangkap kegembiraan yang sangat luar biasa dari dirimu ketika mendapatkan tugas meliput longsor di Karanganyar. Jadi aku yakin kamu akan menaggapiku dengan serius. Dan sekaligus akan kupakai kesempatan ini untuk mengekspresikan kekagumanku kepadamu.
“Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini,” tukasmu berapi-api atas tugas peliputan longsor di Karangayar itu. “Lewat peristiwa longsor ini aku akan menampilkan reportase terbaikku.”
“Bukankah selama ini tidak ada yang buruk?”
“Tapi harus selalu ada yang meningkat.”
Hebat! Itulah kamu, Delia. Kamu sangat cinta pekerjaanmu. Seakan tak ada kata menyerah, sekalipun pekerjaan itu menantang bahaya. Ini salah satu yang menjadi sebab mengapa aku begitu mengagumimu.
“Dari awal aku mengenalmu,“ ungkapku mencoba menjelaskan mengapa aku mengagumimu, “kamu adalah seorang yang punya potensi besar di dalam karirmu. Aku sangat yakin itu. Dan dalam banyak kesempatan, keyakinan seperti ini ingin sekali kukatakan padamu, tapi tak pernah kesampaian. Dan hari ini aku merasa sangat bahagia, karena akhirnya aku bisa mengungkapkannya padamu.”
Kamu tersenyum. “Terima kasih,” katamu.
“Kamu adalah seorang broadcaster sejati, Del ,” lanjutku kemudian mempertegas kakagumanku. “Kamu pasti bisa lebih hebat dari Toeti Adhitama, Desy Anwar, Ira Kusno ataupun Rosiana Silalahi.”
“Tapi aku sudah bukan penyiar lagi, “ tampikmu. “Aku reporter sekarang. Namun apa kebanggan yang akan didapat dari kehebatan, dari popularitas?”
“Apakah bagimu itu tidak penting?”
“Penting, tapi bukan yang utama.”
“Jadi....?”
“Yang utama adalah makna. Jika kita kerja tidak melahirkan makna, apalah artinya kerja.”
Wow! Aku makin kagum padamu, Delia. Ternyata kekagumanku kepadamu selama ini cukup beralasan pula. Kamu sebuah kepribadian yang kuat dan mempesona. Alasan lainnya adalah tutur katamu indah. Bicaramu rapih tertata dan terkadang mengandung sesuatu yang bijaksana.
Makin kuat keinginanku mengekspresikan kekagumanku kepadamu. Aku tahu kamu masih lajang. Belia, tapi matang. Aku yakin pasti banyak lelaki yang merasa berhati bunga menyebar aroma untuk memikatmu. Tapi sayang, dari dulu kamu masih sendiri saja. Apakah kamu benar-benar lebih cinta kerja ketimbang pada pendamping hidupmu?
Andai aku lelaki, aku pasti akan menyatakan cinta padamu. Akan pertaruhkan jiwa ragaku untuk mendapatkanmu. Kamu sempurna dengan segalamu, Delia. Kamu adalah pelangi di cakrawala. Kamu adalah gugusan warna dan cahaya. Membias lembut dan ramah.
“Shinta!” teriakmu membuyarkan anganku. “Kita telah sampai!”
Aku melihat keluar kaca jendela mobil yang kita tumpangi. Hujan turun begitu lebat. Suara air bergemuruh, bersitumpuh dengan suara orang-orang yang berlarian dengan segenap kekhawatiran. Aku melihat wajah-wajah penduduk Karanganyar berduka. Petaka longsor begitu dahsyatnya.
Seperti biasa, kamu segera melesat ke luar mobil. Seakan tak mau ketinggalan secuil moment-pun dari bentangan realita yang terjadi.
Sambil mengambil kamera, aku juga meraih mantel hujan. “ Del , pakai mantel ini, biar tidak basah!”
“Tidak perlu. Aku ingin tampil apa adanya. Biar lebih dramatis!”
Rambut dan wajahmu mulai basah diciprati air hujan. Aku tak mau kalah. Biar sama-sama. Akupun membiarkan tubuhku tanpa perlindungan. Mantel hujan yang tadi ditolak olehmu, kujadikan bungkus kamera.
Kamu berlari, menerobos kerumunan orang-orang yang centang perenang. Antara teriakan dan tangisan. Dengan kamera yang terbungkus mantel hujan, aku merekam kegesitan kamu.
Demi mendapatkan berita dengan angle dan gambar yang indah, kamu nekad mendekati luapan air yang membuncah.
“Delia, kamu berdiri di situ saja. Jangan jauh lagi. Gambarnya sudah bagus.” Aku coba meyakinkan kamu, bahwa gambar yang kurekam sudah cukup melukiskan fakta dan realitanya. Kamu berdiri dengan latar belakang air yang meluap-luap dan dengan suara yang menggemuruh pula.
Namun tampaknya kamu kurang puas dengan posisi berdirimu. Kamu beranjak lebih dekat lagi, hanya beberpa jengkal dari lupan air yang membuncah itu. Tanpa diduga, tiba-tiba, luapan air membuncah bertambah dahsyat. Aku melihat tanah tempat kamu berdiri sudah bergetar, tapi kamu tetap tak bergeming, kamu terus meminta aku untuk merekam kamu. Dan belum sempat kamu membuat kalimat berita yang sempurna, kulihat air dan tanah yang longsor menyeretmu. Sejenak kamu berusaha bertahan dengan kabel mike yang terhubung dengan kameraku. Tak kuat, kabel mike putus. Kamu tergerus arus. Aku berlari mencoba mengejarmu. Tapi air yang menerjang begitu kuat dan deras...kamu terus terbawa arus. Dalam gulungan arus, sempat terdengar lirih kamu sebut namaku. “Shintaaa!!!!” Dan....
Aku menyesal tak berhasil mengingatkanmu, agar jangan terlalu dekat dengan air yang membuncah itu. Aku menyesal membiarkanmu terlalu cinta dangan pekerjaanmu. Aku...aku menyesal tak dapat menyelamatkanmu. Dramatis seperti ucapmu, kejadian ini memang dramatis...
Oh, inikah ada sesuatu yang ingin kusampaikan kepadamu, sesuatu yang menyentuh naluriku? Ini ternyata takdir, Delia.
Dalam deras hujan, aku melihat tiga orang tim SAR membopong tubuhmu yang telah terbujur kaku. Aku tak kuasa menahan pedihku. Aku terseduh. Kesedihan terdalam meretas jiwaku. Dari linangan airmataku, aku masih sempat melihat semangatmu, cintamu pada duniamu... terpancar dari wajahmu yang beku...
Sekarang kamu telah tiada, Delia. Tapi kekagumanku terhadapmu tak kan pernah ada ujungnya. Tak ada tepi, tak ‘ kan mati…
Aku kagum padamu karena kamu adalah seorang broadcaster sejati…


Pondok Gede, 8 Februari 2008

02 Februari 2008

KACA JIWA

Andai Tangan adalah Tunas
Harris Cinnamon
E-mail:
harris.cinnamon@tpi.tv
harris.cinnamon@yahoo.com

24 Januari 2008, seusai shalat isya aku mengenakan sepatu di teras masjid An Nida' TPI. Tidak jauh dari aku duduk, ada juga seorang lelaki yang memiliki tubuh yang kurang sempurna. Cacat. Punggungnya bungkuk. Semula aku tak begitu perduli padanya, karena aku pikir dia hanya tamu Allah yang sejenak mampir untuk melaksanakan ibadah, sama seperti orang-orang lainnya. Tak lama kemudian, muncul temanku dari dalam masjid, dan duduk tepat di samping lelaki bungkuk itu. Tiba-tiba lelaki itu mengeluarkan kata-kata dengan bibir bergetar. "Pak, kalau saya minta uang bapak 300 ribu," pintanya kepada teman saya itu, "Bapak punya nggak?"Teman saya itu menoleh sejenak kepada saya, seolah minta pendapat.
Lalu ia berpaling lagi kepada lelaki itu, "Waduh, kalo sebanyak itu, nggak ada!" jawab teman saya.
"Saya diusir dari kontrakan saya, Pak," cerita lelaki cacat itu kemudian. "Sudah tiga bulan saya nggak bisa bayar. Sekarang ini, istri saya, saya titipkan di tempat teman saya. Sedang saya terpaksa pontang-panting mencari pinjaman, dan syukur-syukur ada yang bisa memberi saya secara ikhlas, supaya saya bisa membayar tunggakan kontrak dan bisa mengambil barang-barang saya yang ada di dalam kontrakan itu."
Aku yang mendengar itu tentu saja terenyuh. Sedih. Nuraniku terluka.Temanku tiba-tiba bangkit dan pergi setelah mengucapkan salam. Dan aku melihat betapa bertambah sedihnya lelaki itu.
Sepeninggal temanku, aku bergeser duduk mendekatinya."Saya dulu dagang bubur, Pak," dia kembali melanjutkan ceritanya kepada saya. "Tapi bangkrut, dan sejak saat itu seakan rejeki menjauh dari saya."Nuraniku makin terluka. Aku kemudian coba mereka-reka, ada berapakah uang yang ada di dalam dompetku. Ternyata ada pas Rp 300 ribu.Akhirnya, sekalipun nuraniku terluka dan sangat tak tega dengan segenap kesedihan yang dialami lelaki itu, masih juga aku tak berani mengeluarkan semuanya kepadanya sebagai sedekah. Sebenarnya dengan perhitungan seperti ini, nuraniku semakin terluka, tapi apa boleh buat daripada tidak memberi sama sekali."Pak, ini saya punya 250 ribu," ujar saya kemudian sambil menyodorkan uang pecahan Rp 50.000,-an sebanyak lima lembar. Ia menerima dengan tangan bergetar dan tangisnya pecah. Mataku dan jiwakupun turut menangis seketika. Takut ketahuan kalau aku juga menangis, -- setelah sejenak bertanya namanya, dia menyebutkan bahwa namanya Richard dan berasal dari Tasikmalaya, -- aku lantas pergi meninggalkannya. Setelah menjauh darinya terbetik di hatiku, akan indahnya balasan sedekah dari Allah. Tapi nuraniku yang terluka berkata lain, ya Allah betapa hinanya diriku ini, jika baru bisa memberi orang susah dengan 250 ribu saja, sudah meminta imbalan berkah...Ya, Allah, sungguh jika tangan yang memberi ini adalah tunas, yang bila diputus akan tumbuh tunas yang baru lagi, maka lebih baik kuputus tangan yang memberi itu, biar tumbuh tunas yang baru, tunas yang tidak pamrih....(pernah dipublikasin di www.wisatahati.com)

KACA JIWA

Hikmah Setelah Ditipu
Harris Cinnamon
E-mail:
harris.cinnamon@tpi.tv
harris.cinnamon@yahoo.com

Suatu ketika datang seseorang menawarkan laptop dengan harga terjangkau. Barangnya (laptop) itu tentu saja belum dibawanya. Ia hanya membawa brosurnya saja. Tentu saja saya tertarik, karena memang saat itu saya sedang membutuhkan laptop untuk menyelesaikan proyek saya. Dibrosur tertulis harga laptop tersebut sekitar Rp 6 jutaan. Ia hanya menawarkan dengan harga Rp 3 juta pada saya.
"Saya akan ambil," ujar saya.
"Barangnya akan segera saya antar, tapi saya perlu DP-nya dulu," jawabnya.
Saya sepakat dengannya, saya serahkan uang Rp 1 juta kepadanya sebagai DP.
Kemudian saya dan dia beranjak ke Tanjung Priok untuk mengambil laptop tsb. Sesampai di Tanjung Priok, tepatnya di depan sebuah rumah, dia minta berhenti. Katanya ia akan mengambil laptop di dalam rumah itu. Saya dimintanya menunggu.
15 menit berlalu. 30 menit berlalu. 1 jam berlalu. Dia tidak muncul-muncul. Karena merasa hilang kesabaran, saya datangi rumah itu. Dari dalamnya muncul seseorang. Saya tanya, saya bilang tadi ada seseorang masuk ke sini untuk mengambil laptop, tapi tidak keluar-keluar. Orang itu bilang, nggak ada orang yang masuk ke rumah itu.
"Tapi memang ada jalan tembus ke samping, setelah pagar utama," orang itu menjelaskan.
"Dan menjadi jalan umum oleh orang-orang di sini. Barangkali orang yang anda maksud lewat situ," tambahnya lagi.
Oh, berarti saya telah ditipu. Tentu saja tensi saya naik, saya marah, saya coba mencari sendiri alamat orang yang menawarkan laptop tersebut. Alamatnya ketemu. Malamnya langsung saya datangi dengan membawa seorang preman untuk menghabisinya. Begitu pintunya didobrak, dia tak ada, yang ada cuma istrinya yang sedang hamil. Akhirnya istrinya menjadi luapan kemarahan saya. Tapi kemudian istri saya bilang, "Sudahlah, Pa...jangan marah-marah. Sudah ikhlaskan saja. Mungkin memang bukan rejeki kita...."
Akhirnya saya mencoba melupakannya. Setahun kemudian, setelah peristiwa itu, datang seorang ibu ke rumah saya, mengantarkan uang Rp 1 juta kepada saya. Saya bingung uang apa itu. Lantas dia menjelaskan bahwa itu uang yang pernah diambil oleh anaknya setahun yang lalu (dalam kasus penipuan laptop). Lantas saya tanya, "Ibu siapa?".
Ibu itu menjawab, "Saya ibunya, dan terus terang saya minta maaf atas perbuatan anak saya, saya malu. Oleh karena itu, sekarang datang untuk mengembalikan uang yang diambil oleh anak saya. Dan maaf, saya tidak bisa memberi lebih. "
Lantas ibu itu pergi. Amplop saya buka, ternyata jumlahnya lebih seratus ribu. Kelebihan itu saya coba kembalikan kepada ibu itu, tapi ia menolak. Karena ia merasa uang yang dikembalikannya jumlahnya pas Rp 1 juta. Karena merasa yang seratus ribu itu juga bukan milik saya, langsung saya sumbangkan ke panti asuhan.
Hikmah yang bisa saya ambil dari kejadian ini, ternyata ikhlas dan sabar itu sangat penting......
(Tulisan ini pernah dipublikasikan sebagai Testimoni di www.wisatahati.com)

01 Februari 2008

KACA JIWA

Antara Becak dan Taksi
Harris Cinnamon
E-mail:
harris.cinnamon@tpi.tv
harris.cinnamon@yahoo.com

Jogyakarta, 25 Januari 2008. Ini hari pertama aku menginap di hotel Saphir. Sebagai tempat istirahat, tentu hotel ini cukup mewah dan nyaman. Ada TV dengan multi channel, kulkas, lemari pakaian, mandi hangat-dingin, perlengkapan mandi tersedia, kasurnyapun empuk. Tapi sayangnya dari dalam bangunan berbintang empat ini “energi” kota gudeg, kurang terasa olehku. Karena setiap bepergian, impianku adalah selalu ingin merasakan suasana asli (baca: tradisional) dari setiap kota yang aku singgahi. Rasanya lebih afdol, jika aku tinggal di rumah joglo, yang teras dan pekarangannya terbuat dari batu alam, dipenuhi tumbuhan bunga-bungaan, ada ayam bekisar dan kolam kecil dengan air gemericik yang keluar dari batu.

Karena sejak tiba, suasana seperti itu belum aku dapatkan dan kebetulan perutku terasa lapar, sekitar pukul 21.30 wib, aku putuskan untuk keluar dari kungkungan beton yang semalamnya dihargai lebih dari Rp 350.000,- itu.

Malam mulai larut. Lampu-lampu di pinggir jalan masih menyala, tapi keadaan sekitar sudah mulai lengang. Ada beberapa buah taksi dan juga beberapa buah becak yang terparkir, sedang para pengemudinya terlelap dibuai mimpi di joknya. Ada keinginanku untuk membangunkannya, tapi urung, takut membuyarkan mimpi mereka. Dan untung, tak lama kemudian, ada sebuah becak meluncur. Aku menghentikannya.

“Mas, ke Malioboro berapa?” tanyaku. Sebelumnya aku kurang tahu pasti berapa kilometer jarak hotel Saphir dengan Malioboro.

“Terserah Mas sajalah,” sahut tukang becak itu.

“Waduh, bagaimana ini?” batinku, “Masak soal ongkos aku yang harus menentukan?”

Akhirnya sambil membantin begitu, aku menaiki becanya. Sambil perut keroncongan pula, aku coba menimbang-nimbang kira-kira berapa ongkos yang harus aku bayarkan.
Sambil membayangkan gerobak angkringan di jalan Sosrowijayan, aku ambil dompetku, mengintip isinya. Astaga. Uang recehan yang tersisa, Cuma Rp 10.000,- Sedangkan yang lainnya, ada sekitar empat lembar pecahan Rp 50.000,-an. Celaka, kalo aku bayar dengan pecahan Rp 50.000,-an, takut dia tidak ada kembalian. Akhirnya, aku putusakan, sebarapa jauh jarak yang ditempuh, aku tetap akan memberinya Rp 10.000,- saja. Toh tukang becak itu telah menyerahkan pembayaran padaku.

Setelah menempuh perjalanan dengan waktu sekitar 25 menit-an, sampailah di tempat tujuan. Aku membayarkan uang recehan Rp 10.000,- itu kepada tukang becak. Sambil mengelap peluh di jidatnya dan senyum tulus, ia menerima uang yang aku sodorkan. Bahkan ia sempat mengucapkan, “Terima kasih.” Aku sempat terenyuh. Kalo saja ada uang pecahan Rp 5000,-an lagi, pasti aku akan tambahkan ongkosnya. Karena berdasarkan perkiraanku, jarak antara hotel Saphir dan Malioboro ternyata cukup jauh juga.

Sejenak aku melupakan pengalamanku bersama tukang becak itu. Aku larut dengan aroma arang yang dibakar di gerobak angkringan jalan Sosrowijayan. Aku memesan wedang jahe, untuk mengusir rasa dingin yang menyentuh tubuhku, selama dalam perjalanan dengan becak tadi itu. Aku menyantap dengan lahap sego kucing yang terhidang, dengan lauk beberapa tusuk sate kambing dan 2 potong ceker ayam yang dihangatkan di atas bara arang. Wow, sungguh nikmat, serasa kembali ke alam primitif. Sederhana, tradisonal banget, tapi kenyang. Ini yang penting!

Seusai makan sego kucing, aku tidak langsung pulang ke hotel. Aku jalan-jalan dulu. Mutar-mutar dulu di sepanjang Malioboro. Perhatianku lantas tertuju dengan sekelompok musisi jalanan, yang berpenampilan rada nyentrik. Lagu-lagu yang dinyanyikanpun top fourty-an dengan ala accoustikan atau unpladged. Aku kemudian duduk di bangku taman, yang dijadikan pot untuk tumbuhnya pohon beringin, di depan hotel Inna Garuda. Aku larut dengan suasana dan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh sekelompok pengamen tersebut. Oh, aku merasa inilah Malioboro. Seluruh jalan dan segala aspek yang ada di kawasan ini, menurutku layak dipertahankan oleh Pemda, ini aset budaya, inilah yang senantiasa dirindukan oleh turis mancanegara.

Malam kian larut. Tak lama kemudian, para pemusik itupun bubar. Aku kurang tahu sudah jam berapa. Karena sudah menjadi kebiasaan, aku tidak pernah membawa jam atau penunjuk waktu lainnya. Mungkin sudah di atas jam 23.00. Suasana kembali menjadi hening.

Kemudian, aku putuskan untuk kembali ke hotel Saphir. Semula aku hendak naik becak kembali, seperti ketika aku berangkat menuju Malioboro. Tapi mengingat begitu jauh dan payahnya tukang becak mengayuh dengan jarak tempuh seperti itu, akhirnya aku menyetop taksi saja. Jadi, akhirnya aku pulang ke hotel dengan menumpang taksi. Ternyata tidak sampai sepuluh menit, sudah sampai di depan hotel, dan argonya pun ternyata Cuma Rp 12.500,-

Melihat kenyataan itu, aku cukup kaget. Ternyata perbedaan ongkos yang aku keluarkan (untuk) antara becak dan taksi, tidak begitu signifikan. Sehingga yang terbayang olehku kemudian adalah “wajah kemanusiaan” (lebih dalamnya: hatinurani) kita. Karena ternyata, disebabkan oleh hitung-hitungan yang penuh perhitungan akhirnya kita salah hitung. Pada sopir taksi, kita ketakutan akan dikenai ongkos yang mahal, karena yang akan kita naiki adalah kendaraan mewah. Sedang pada tukang becak, kita masih memperlakukan mereka sebagai sesuatu yang remeh dan murah. Padahal keduanya sama-sama alat angkut. Yang membedakan adalah pada sumber daya kekuatannya. Yang satu mesin, yang satu tenaga manusia. Yang satu menguras bensin, yang satu menguras keringat.

Dari peristiwa ini, aku menjadi mendapatkan sesuatu, bahwa sebagai manusia, kita dituntut pula untuk selalu melihatnya dari sisi “wajah kemanusiaan” (atau hatinurani) itu tadi.

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa

Boleh Dong Numpang Mejeng....

Boleh Dong Numpang  Mejeng....
Mencoba menatap masa depan sebisanya, sesapanya...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...
Ah....kayaknya cukup keren jugalah...

Gadis Aceh

Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.