28 Maret 2008

Sanggau, Kota Kecil Nan Memukau

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika aku akan singgah di kota Kabupaten Sanggau. Mendengar namanya pun belum pernah. Apalagi secara sengaja maupun tidak melihatnya di atlas. Tapi nyatanya, aku telah menginjakkan kaki di kota ini.

Kota Sanggau mempunyai jarak tempuh sekitar 5 jam perjalanan dari kota Provinsi Pontianak, Kalimantan Barat. Selepas menyeberang jembatan yang ada di kota Pontianak, aku bersama 3 orang temanku, Supri, Agus dan Syafrizal, langsung menuju ke kota yang tadi aku sebutkan, Sanggau. Seperti apakah kota Sanggau yang dimaksud, belum bisa dibayangkan sama sekali di benakku. Yang jelas jalan menuju kota itu sempat melalui beberapa dusun kecil, hutan rimba, dan ada sekitar satu jam-an diguncang oleh jalanan tanah yang berundak-undak. Temanku Supri sempat merasakan mual-mual, karena guncangan kendaraan yang disebabkan tidak mulusnya jalan yang dilalui.

Seusai menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, di ujung jalan yang buruk dan sedikit memasuki jalanan beraspal, kami diajak sopir mampir di sebuah kedai di tengah hutan. Sepertinya tidak ada kedai lain di sini. Bahkan perkampungan pun tidak ada. Tapi semua kendaraan yang melintas di jalan ini bisa dipastikan akan singgah di kedai ini. Kedai ini adalah milik suku dayak, yang kebetulan adalah luruh di kampung tersebut. Pegawainya atau anaknya, dua orang perempuan berwajah china. Merekalah yang melayani kami ketika kami mampir di kedai ini.

Ada sekitar 15 menit, aku dan teman-temanku mampir, melepas penat di kedai ini. Aku memesan segelas kopi. Kopi di sini hamper sama dengan kopi Aceh. Berwarna kemerahan dan tanpa ampas. Sementara itu dua orang temanku Supri dan Agus sibuk manawar jamu sarang semut yang tergantung di dinding kedai. Mereka sepakat membeli 2 bungkus jamu sarang semut itu, yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Harga perbungkusnya Rp 12.500.




Ini saat aku menikmati kopi Pontianak




Setelah merasa cukup melepas kepenatan, kami kembali melanjutkan perjalanan। Sekitar satu setengah jam sesudah itu, kami pun tiba di kota yang dimaksudkan. Kota Sanggau. Kota ini sama seperti kota-kota kabupaten lainnya di wilayah jawa. Pertama-tama sasaran kami adalah langsung menuju hotel di mana kami harusnya menginap dan beristirahat. Hotel Grand Narita namanya. Membaca nama hotel itu, seolah sedang berada di Jepang. Tapi tidak. Ini memang hotel yang ada di kota ini. Ini merupakan hotel terbesar dan termegah di sini.




Ini adalah hotel Narita, tempat aku dan teman-teman nginap.

Menjelang sore, aku menuju ke tepi sungai Kapuas. Di tepi sungai yang membentang panjang dan lebar ini terdapat Istana Kraton Suryanegara. Aku sempat bergambar dan mengabadikan beberapa sudut lanskapnya. Ada beberapa buah mariam yang peninggalan kompeni di pajang di halaman istana.

Aku berpose dengan latar belakang Kraton Suryanegara.


Ini adalah mariam peninggalan kompeni.

Tak jauh dari Kraton yang kini juga difungsikan sebagai museum, terdapat masjid tua peninggalan Sultan atau dikenal juga dengan sebutan Syeh Ayub. Mesjid tua ini didirikan pada tahun 1825-1828. Seluruhnya bangunannya didominasi oleh kayu ulin. Dan konon sampai saat ini baru 2 kali mengalami renovasi, tapi tetap tidak menghilangkan jatidiri pada masjid tesebut.

Aku dengan latar belakang masjid Jami Syeh Ayub.

Karena kebetulan ketika sampai di mesjid tersebut azan maghrib berkumandang, maka kamipun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan penduduk setempat.

Warung Bubur Khas Sanggau yang terletak di atas tanah yang menjorok tinggi.

Keesokan harinya, kami menyempatkan diri makan bubur khas Sanggau di warang yang terletak di atas tanah menjorok ke atas di sisi jembatan Sekayam. Dari warung ini, kita bisa memandang ke kejauhan wilayah sekitar kota Sanggau, bahkan dari sini kita juga bisa melihat sungai Kapuas.


Ini adalah lanskap sungai Kapuas, sore hari.









Aku berpose di tepi singai कपुँस.



Jelajah Ranah

Melanglang Negeri Sejuta Masjid, Nangroe Aceh Darussalam
Harris Cinnamon

“Serambi Mekkah” sebutan untuk Provinsi Aceh itu, sudah sering aku dengar ketika aku masih duduk di bangku SD, mungkin saat duduk di kelas 4. Terbayang olehku betapa sakral dan sucinya kota itu. Aku bahkan sempat berangan-angan suatu ketika akan melanglang ke sana. Sampai tragedi referandum berdarah dan guncangan Tsunami mengguncangnya, aku belum juga bisa melaksanakan angan-anganku tersebut. Dan bayanganku pun robeklah sudah, Aceh saat ini pasti tidak lebih baik dari kota-kota yang ada di Indonesia. Aceh sudah bukan “Serambi Mekkah” lagi...
Dan aku pun sempat melupakan angan-anganku untuk berkunjung ke tanah rencong tersebut. Bahkan abang iparku, dr. Muslim, yang bekerja sebagai dokter bedah di Langsa pun, setiap kali aku singgah di Medan, sering kali mengajak aku untuk menjejakkan kaki di negeri yang subur untuk tanaman ganja itu. Tapi aku selalu menampik dengan alasan masih capek, jetleg, atau alasan lainnya. Padahal jarak antara Langsa dan Medan hanya memiliki jarak tempuh sekitar 2 jam-an saja.
Namun tanpa dinyana, mungkin karena sudah jalan hidupku, 7 Maret 2008, aku akhirnya menginjakkan kaki di tanahnya Tjut Nyak Dien ini. Aku menumpang Adam Air, dua minggu menjelang izin terbangnya dibekukan pemerintah, tiba di bandara Blang Bintang atau sekarang lebih dikenal dengan Sultan Iskandar Muda pukul 11.30 WIB.
Aku dijemput Andre, nama lengkapnya Andriansyah Putra dan Bang Dicky, bosnya radio dangdut di Banda Aceh, Toss FM. Mereka berdua adalah teman baruku. Kenal wajahpun baru di bandara ini. Sebelumnya hanya kenal lewat hape. Komunikasi jarak jauh. Setelah seluruh barang bawaan dimasukkan ke dalam bagasi mobil, kita langsung meninggalkan bandara yang kecil dan kalah bagus dibanding dengan stasiun kereta api Gambir di Jakarta. Tapi jangan salah, tak jauh dari bandara kecil itu, sedang dibangun bandara pengganti bertarap internasional, yang kabarnya tahun ini juga selesai dan segera dioperasikan. Mungkin kelak namanya bandara “Serambi Mekah”. Karena di sisi depan gedung yang sedang dibangun itu ada tulisan huruf “B”.


Ini adalah gedung yang akan menjadi bandara Internasionl, NAD,
yang sedang dalam pembangunan.

Selepas bandara, sepanjang perjalanan aku mengedarkan pandanganku। Aku merasa agak surprise, setiap beberapa jengkal aku melihat bangunan masjid। Mungkin antara masjid yang satu dengan masjid yang lainnya hanya berjarak sekitar 50 meteran। Subhanallah। Ternyata, bisikku dalm hati, negeri ini masih “serambi mekkah”. Makin jauh aku berjalan, makin sempurna pandangan mataku. Tak salah, negeri ini memang dipenuhi oleh rumah-rumah Allah. Banyak sekali jumlahnya. Aku sempat menggumam, ini adalah negeri sejuta masjid. Maha Besar Engkau Allah yang menciptakan tanah bertabur tasbih ini.

Kenangan Tsunami
Seharusnya aku langsung menuju hotel Soultan, tempat aku menginap. Menaruh barang bawaan dan mandi, untuk menyegarkan badan yang lengket oleh keringat. Namun itu tidak aku lakukan, karena masih penasaran dengan keadaan tanah leluhur Teuku Umar ini, aku langsung meminta Andre untuk mengajak aku keliling. Oh iya, Bang Dicky tidak ikut, dia turun di jalan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya di radio Toss. Andre langsung mengajak aku pergi ke arah pinggir pantai, wilayah yang sempat lumpuh diterjang tsunami pada 26 Desember 2004. Pertama-tama aku diajaknya mampir di kapal PLN yang terdampar di pemukiman warga di Planggahan atau Kampung Jawa. Kapal ini, sebenarnya bisa diangkut dan dibawa ke laut lagi, tapi biayanya sangat besr untuk itu. Akhirnya diputuskan untuk tetap dibiarkan saja di tempatnya terdampar dan dijadikan museum atau menumen yang menandai pernah terjadinya bencana hebat di ranah ini. Dulu sebelum diguncang tsunami, kapal ini adalah sumber tenaga listrik pengganti bagi masyarakat Banda Aceh, karenanya dikenal dengan PLN Apung. Saat tsunami melanda, kapal ini bagaikan monster merangsak dan menghacurkan beberapa ratus rumah yang dilaluinya. Bahkan di tempatnya terdampar sekarang, di bawahnya ada beberapa buah rumah yang diluluhlantakkannya. Bahkan konon, di bawahnya masih banyak mayat yang tidak bisa dikeluarkan.


Aku berpose di depan kapal PLN Apung yang terdampar di
pemukiman warga. Kapal ini terbawa arus 500-an meter dari tepi laut.

Setelah mampir sejenak di kapal PLN Apung tersebut, Andre lngsung mengajak aku menuju ke komplek pemakaman massal di Ulee Leuhe, yakni makam ribuan orang yang meninggal akibat tsunami.


Aku menyandar di batu prasasti atau boleh disebut sebagi batu
nisan dari ribuan orang korban Tsunami yang dikuburkan
secara massal di tempat ini. Tulisan yang ada di batu prasasti ini
ditulis dalam bahasa Aceh।



Ini adalah pintu gerbang dari kuburan massal. Di pintu ini tertulis
Al Anbiya 35: “Setiap yang berjiwa, pasti akan binasa, dan hanya
Kepada Kamilah kamu kembali.”


Di depan pemakaman massal para syuhada itu, sempat terbayang olehku betapa dahyatnya tsunami yang disiarkan lewat layar kaca televisi secara bertubi-tubi. Air membuncah menggulung segala yang ada, segala yang dilaluinya. Mayat-mayat bergelimpangan di antara tangis dan derita. Peristiwa itu benar-benar sudah seperti kiamat yang sesungguhnya. Sekarang di tempat ini, suasana terasa begitu tenang, angin berhembus lembut, suara ombak terdengar mendesau syahdu, langit di atasnya berwarna begitu biru. Bahkan di tepi pantai, aku sempat melihat kebesaran Allah, (sayangnya aku tidak sempat mengabadikannya dengan kamera, karena baterenya habis), ada gambar Ka’bah pada dinding mushala yang tidak hancur diterjang bencana, sedang mushala-nya sendiri sudah menjadi puing menyatu dengan tanah.

Kopi Saring
Sore hari, menjelang maghrib Andre mengajak aku mampir ke warung kopi CheekYukee, Ulee Kareng. Ternyata parkiran dipenuhi kendaraan roda dua dan empat, juga setiap bangkupun sudah dipadati orang. Rata-rata lelaki berusia remaja yang nongkrong di sini. Hanya ada beberapa gelintir saja perempuan yang ngopi. Kopi di sini sangat khas, warnanya agak kemerahan dan tanpa ampas. Orang di sini menyebutnya kopi saring atau kopi tarik. Kopinya bisa dihidangkan dengan berbagai pilihan. Bisa hanya kopi hitam polos tanpa atau dengan gula, bisa juga dicampur susu atau telor. Atau bagi tidak doyan kopi, bisa juga memesan teh atau minuman lainnya. Temannya minum kopi biasanya dihidangkan berbagai panganan ringan. Ada martabak, pisang goreng, nagasari, lemper ketan, tempe goring, dll. Sebelum ngopi, Andre sempat tanya padaku, “Bang bisanya sehari abang bisa ngopi berapa gelas?” Aku jawab, “Bisa mencapai 20 gelas.” Tapi begitu aku hanya mampu menghabiskan 2 gelas saja, Andre langsung tertawa. “Apa aku bilang, kopi di sini beda, Bang! Ada campurannya, tapi rahasia!”


Ini Andre yang menemani aku keliling Banda Aceh. Ini saat Andre
mengajak aku mampir menikmati wedang kopi
.





Ini kopi khas Aceh dan panganan pendamping minum kopi.






Ini dapur tempat pemasakan kopi khas Aceh. Jadi kopinya disaring
berkali-kali untuk mendapatkan rasa dan citarasa yang khas।



Lhoknga Nan Eksotis
Ternyata, Aceh juga memiliki pantai yang indah luar biasa. Pantai ini tidak kalah dibanding Sanur, Kuta, Senggigi, atau Bunaken. Inilah pantai Lhoknga. Pantai yang sangat indah dan eksotis. Pasirnya lembut dan sangat putih. Saat ini pantai ini memang belum tersentuh modernisasi, tapi suatu saat bisa dipastikan akan menjadi pantai yang ramai dikunjungi karena keeksotisannya. Saat tsunami melanda, hampir 90 % penduduk di sini sirna nyawanya, bahkan beberapa hilang dan tak pernah ditemukan lagi.
Di tepi pantai ini banyak berdiri warung-warung kecil yang menjajakan jagung bakar. Mungkin, kalau kita pernah singgah di Puncak, Bogor, ya suasananya hampir sama dengan puncak yang hawanya dingin itu. Tak jauh dari pantai ini, pula ada berdiri Pabrik Semen. Ombak dipantai ini gelombangnya juga cukup besar, sehingga tidak salah jika sesekali kita melihat bule-bule berselancar di sini.


Aku dengan latar belakang salah satu bukit yang ada di pinggir
pantai Lhoknga






Aku dengan latar belakang pantai Lhoknga, dan dikejauhan tampak
bukit yang membiru
.







Aku dengan latar belakang pantai Lhoknga, dan dikejauhan tampak
bukit yang membiru
.




Masjid Raya Baiturrahman
Rasanya, kalau jauh-jauh melanglang ke negeri orang, apalagi melanglang ke Nangroe Aceh Darussalm, tidak mampir dan beribadah di masjid raya yang bersejarah Masjid Baiturrahman, rsanya tidak afdol.
Karena itu meskipun tubuh masih terasa lelah, aku sempatkan mampir dan bergambar di depan masjid Baiturrahman.


Aku dengan latar belakang masjid raya Baiturrahman.







Aku berdiri, masih dengan latar belakang masjid Baiturrahman.





Saat menjelang pulang kembali ke Jakarta, tanggal 12 Maret 2004, aku menyempatkan melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid yang kokoh ini, yang sempat menyelematkan beberapa ratus nyawa dari badai tsunami। Bahkan dari cerita temanku Andre, ada seorang keturuanan Tionghoa yang ikut naik ke atap mesjid itu ketika air bah tsunami menyerbu kota Banda Aceh। Orang Tionghoa ini melihat lelaki bersorban serba putih dan dengan sorban putihnya itulah ia membendung air bah sehingga tidak menenggelamkan masjid yang anggun itu. Dan sejak saat itu, orang Tionghoa terssebut menyatakan memeluk Islam, dan toko miliknya saat ini menjadi toko yang paling ramai dikunjungi orang. Dulu tulisan di depan tokonya bertuliskan huruf-huruf china, sekarang telah diganti dengan tulisan Bismillah diapit dengn tulisan Allah dan Muhammad.

Tidak banyak orang yang melaksankan shalat subuh di masjid ini, mungkin hanya sekitar 25 orang saja। Tapi meskipun begitu, suasananya terasa sangat khusyuk dan khidmat। Membayangkan jumlah orang yang beribadah di masjid ini, ingatanku terlontar ke sejumlah masjid yang ada di NAD ini। Memang rata-rata orang yang melaksanakan ibadah shalat setiap waktunya tidak banyak, barangkali masing-masing masjid yang (terlihat olehku) hany sekitar 5 orang saja. Ini mungkin disebabkan oleh jumlah masjid yang begitu banyak itu. Jadi orang-orang tersebar di sejumlah masijid tersebut, sehingga terkesan sedikit orang Aceh yang shalat.

Ini suasana ibadah shalat subuh di masjid Baiturrahman.





Aku berpose di depan mihrab. Agak aneh, yang lain berpakaian yang
sangat agamis, sedang aku pake kaos dan celana jins.





Sehabis melaksanakan shalat subuh, aku menyempatkan diri memotret beberapa sudut masjid Baiturrahman. Ternyata lanskap masjid ini terlihat sangat indah dan menggugah jiwa di kala cahaya matahari masih sedikit tersembunyi di balik bumi.


Tampak halaman depan masjid Baiturrahman di kala fajar.







Ini adalah menara masjid Baiturrahman di kala fajar. Indah benar!







Aku berdiri dengan latar belakang pintu gerbang masjid Baiturrahman,
seusai shalat subuh.






Munajat
Ya, Allah yang Maha Rahman, Aceh adalah kota yang indah, adalah juga kota ibadah untuk menuju sorgaMu।
Ya, Allah yang Maha Rahim, lindungilah Aceh dari bencana apapun, sampai kelak kiamat sungguhan menghampirinya.
Ya, Allah, bantulah negeri yang elok ini, untuk dapat menjalankan syariat Islam secara kaffah dan murni.
Ya, Allah, izinkan aku untuk berkunjung kembali ke kota ini, suatu saat nanti.
Terlebih ketika kota ini benar-benar telah menjadi serambi yang bisa langsung membawa siapapun bisa mampir ke rumahMu. Amin.

27 Maret 2008

“Serambi Mekkah” sebutan untuk Provinsi Aceh itu, sudah sering aku dengar ketika aku masih duduk di bangku SD, mungkin saat duduk di kelas 4. Terbayang olehku betapa sakral dan sucinya kota itu. Aku bahkan sempat berangan-angan suatu ketika akan melanglang ke sana. Sampai tragedi referandum berdarah dan guncangan Tsunami mengguncangnya, aku belum juga bisa melaksanakan angan-anganku tersebut. Dan bayanganku pun robeklah sudah, Aceh saat ini pasti tidak lebih baik dari kota-kota yang ada di Indonesia. Aceh sudah bukan “Serambi Mekkah” lagi...
Dan aku pun sempat melupakan angan-anganku untuk berkunjung ke tanah rencong tersebut. Bahkan abang iparku, dr. Muslim, yang bekerja sebagai dokter bedah di Langsa pun, setiap kali aku singgah di Medan, sering kali mengajak aku untuk menjejakkan kaki di negeri yang subur untuk tanaman ganja itu. Tapi aku selalu menampik dengan alasan masih capek, jetleg, atau alasan lainnya. Padahal jarak antara Langsa dan Medan hanya memiliki jarak tempuh sekitar 2 jam-an saja.
Namun tanpa dinyana, mungkin karena sudah jalan hidupku, 7 Maret 2008, aku akhirnya menginjakkan kaki di tanahnya Tjut Nyak Dien ini. Aku menumpang Adam Air, dua minggu menjelang izin terbangnya dibekukan pemerintah, tiba di bandara Blang Bintang atau sekarang lebih dikenal dengan Sultan Iskandar Muda pukul 11.30 WIB.
Aku dijemput Andre, nama lengkapnya Andriansyah Putra dan Bang Dicky, bosnya radio dangdut di Banda Aceh, Toss FM. Mereka berdua adalah teman baruku. Kenal wajahpun baru di bandara ini. Sebelumnya hanya kenal lewat hape. Komunikasi jarak jauh. Setelah seluruh barang bawaan dimasukkan ke dalam bagasi mobil, kita langsung meninggalkan bandara yang kecil dan kalah bagus dibanding dengan stasiun kereta api Gambir di Jakarta. Tapi jangan salah, tak jauh dari bandara kecil itu, sedang dibangun bandara pengganti bertarap internasional, yang kabarnya tahun ini juga selesai dan segera dioperasikan. Mungkin kelak namanya bandara “Serambi Mekah”. Karena di sisi depan gedung yang sedang dibangun itu ada tulisan huruf “B”.


Ini adalah gedung yang akan menjadi bandara Internasionl, NAD,
yang sedang dalam pembangunan.

Selepas bandara, sepanjang perjalanan aku mengedarkan pandanganku. Aku merasa agak surprise, setiap beberapa jengkal aku melihat bangunan masjid. Mungkin antara masjid yang satu dengan masjid yang lainnya hanya berjarak sekitar 50 meteran. Subhanallah. Ternyata, bisikku dalm hati, negeri ini masih “serambi mekkah”. Makin jauh aku berjalan, makin sempurna pandangan mataku. Tak salah, negeri ini memang dipenuhi oleh rumah-rumah Allah. Banyak sekali jumlahnya. Aku sempat menggumam, ini adalah negeri sejuta masjid. Maha Besar Engkau Allah yang menciptakan tanah bertabur tasbih ini.

Kenangan Tsunami
Seharusnya aku langsung menuju hotel Soultan, tempat aku menginap. Menaruh barang bawaan dan mandi, untuk menyegarkan badan yang lengket oleh keringat. Namun itu tidak aku lakukan, karena masih penasaran dengan keadaan tanah leluhur Teuku Umar ini, aku langsung meminta Andre untuk mengajak aku keliling. Oh iya, Bang Dicky tidak ikut, dia turun di jalan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya di radio Toss. Andre langsung mengajak aku pergi ke arah pinggir pantai, wilayah yang sempat lumpuh diterjang tsunami pada 26 Desember 2004. Pertama-tama aku diajaknya mampir di kapal PLN yang terdampar di pemukiman warga di Planggahan atau Kampung Jawa. Kapal ini, sebenarnya bisa diangkut dan dibawa ke laut lagi, tapi biayanya sangat besr untuk itu. Akhirnya diputuskan untuk tetap dibiarkan saja di tempatnya terdampar dan dijadikan museum atau menumen yang menandai pernah terjadinya bencana hebat di ranah ini. Dulu sebelum diguncang tsunami, kapal ini adalah sumber tenaga listrik pengganti bagi masyarakat Banda Aceh, karenanya dikenal dengan PLN Apung. Saat tsunami melanda, kapal ini bagaikan monster merangsak dan menghacurkan beberapa ratus rumah yang dilaluinya. Bahkan di tempatnya terdampar sekarang, di bawahnya ada beberapa buah rumah yang diluluhlantakkannya. Bahkan konon, di bawahnya masih banyak mayat yang tidak bisa dikeluarkan.



Aku berpose di depan kapal PLN Apung yang terdampar di
pemukiman warga. Kapal ini terbawa arus 500-an meter dari tepi laut.

Setelah mampir sejenak di kapal PLN Apung tersebut, Andre lngsung mengajak aku menuju ke komplek pemakaman massal di Ulee Leuhe, yakni makam ribuan orang yang meninggal akibat tsunami.


Aku menyandar di batu prasasti atau boleh disebut sebagi batu
nisan dari ribuan orang korban Tsunami yang dikuburkan
secara massal di tempat ini. Tulisan yang ada di batu prasasti ini
ditulis dalam bahasa Aceh.


Ini adalah pintu gerbang dari kuburan massal. Di pintu ini tertulis
Al Anbiya 35: “Setiap yang berjiwa, pasti akan binasa, dan hanya
Kepada Kamilah kamu kembali.”

Di depan pemakaman massal para syuhada itu, sempat terbayang olehku betapa dahyatnya tsunami yang disiarkan lewat layar kaca televisi secara bertubi-tubi. Air membuncah menggulung segala yang ada, segala yang dilaluinya. Mayat-mayat bergelimpangan di antara tangis dan derita. Peristiwa itu benar-benar sudah seperti kiamat yang sesungguhnya. Sekarang di tempat ini, suasana terasa begitu tenang, angin berhembus lembut, suara ombak terdengar mendesau syahdu, langit di atasnya berwarna begitu biru. Bahkan di tepi pantai, aku sempat melihat kebesaran Allah, (sayangnya aku tidak sempat mengabadikannya dengan kamera, karena baterenya habis), ada gambar Ka’bah pada dinding mushala yang tidak hancur diterjang bencana, sedang mushala-nya sendiri sudah menjadi puing menyatu dengan tanah.


Kopi Saring
Sore hari, menjelang maghrib Andre mengajak aku mampir ke warung kopi CheekYukee, Ulee Kareng. Ternyata parkiran dipenuhi kendaraan roda dua dan empat, juga setiap bangkupun sudah dipadati orang. Rata-rata lelaki berusia remaja yang nongkrong di sini. Hanya ada beberapa gelintir saja perempuan yang ngopi. Kopi di sini sangat khas, warnanya agak kemerahan dan tanpa ampas. Orang di sini menyebutnya kopi saring atau kopi tarik. Kopinya bisa dihidangkan dengan berbagai pilihan. Bisa hanya kopi hitam polos tanpa atau dengan gula, bisa juga dicampur susu atau telor. Atau bagi tidak doyan kopi, bisa juga memesan teh atau minuman lainnya. Temannya minum kopi biasanya dihidangkan berbagai panganan ringan. Ada martabak, pisang goreng, nagasari, lemper ketan, tempe goring, dll. Sebelum ngopi, Andre sempat tanya padaku, “Bang bisanya sehari abang bisa ngopi berapa gelas?” Aku jawab, “Bisa mencapai 20 gelas.” Tapi begitu aku hanya mampu menghabiskan 2 gelas saja, Andre langsung tertawa. “Apa aku bilang, kopi di sini beda, Bang! Ada campurannya, tapi rahasia!”


Ini Andre yang menemani aku keliling Banda Aceh. Ini saat Andre
mengajak aku mampir menikmati wedang kopi.


Ini kopi khas Aceh dan panganan pendamping minum kopi.


Ini dapur tempat pemasakan kopi khas Aceh. Jadi kopinya disaring
berkali-kali untuk mendapatkan rasa dan citarasa yang khas.


Lhoknga Nan Eksotis
Ternyata, Aceh juga memiliki pantai yang indah luar biasa. Pantai ini tidak kalah dibanding Sanur, Kuta, Senggigi, atau Bunaken. Inilah pantai Lhoknga. Pantai yang sangat indah dan eksotis. Pasirnya lembut dan sangat putih. Saat ini pantai ini memang belum tersentuh modernisasi, tapi suatu saat bisa dipastikan akan menjadi pantai yang ramai dikunjungi karena keeksotisannya. Saat tsunami melanda, hampir 90 % penduduk di sini sirna nyawanya, bahkan beberapa hilang dan tak pernah ditemukan lagi.
Di tepi pantai ini banyak berdiri warung-warung kecil yang menjajakan jagung bakar. Mungkin, kalau kita pernah singgah di Puncak, Bogor, ya suasananya hampir sama dengan puncak yang hawanya dingin itu. Tak jauh dari pantai ini, pula ada berdiri Pabrik Semen. Ombak dipantai ini gelombangnya juga cukup besar, sehingga tidak salah jika sesekali kita melihat bule-bule berselancar di sini.


Aku dengan latar belakang salah satu bukit yang ada di pinggir
pantai Lhoknga



Aku dengan latar belakang pantai Lhoknga, dan dikejauhan tampak
bukit yang membiru.

.
Aku berdiri dengan latar belakang Pabrik Semen di pantai Lhoknga.


Masjid Raya Baiturrahman
Rasanya, kalau jauh-jauh melanglang ke negeri orang, apalagi melanglang ke Nangroe Aceh Darussalm, tidak mampir dan beribadah di masjid raya yang bersejarah Masjid Baiturrahman, rsanya tidak afdol.

Karena itu meskipun tubuh masih terasa lelah, aku sempatkan mampir dan bergambar di depan masjid Baiturrahman.


Aku dengan latar belakang masjid raya Baiturrahman.



Aku berdiri, masih dengan latar belakang masjid Baiturrahman.

Saat menjelang pulang kembali ke Jakarta, tanggal 12 Maret 2004, aku menyempatkan melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid yang kokoh ini, yang sempat menyelematkan beberapa ratus nyawa dari badai tsunami. Bahkan dari cerita temanku Andre, ada seorang keturuanan Tionghoa yang ikut naik ke atap mesjid itu ketika air bah tsunami menyerbu kota Banda Aceh. Orang Tionghoa ini melihat lelaki bersorban serba putih dan dengan sorban putihnya itulah ia membendung air bah sehingga tidak menenggelamkan masjid yang anggun itu. Dan sejak saat itu, orang Tionghoa terssebut menyatakan memeluk Islam, dan toko miliknya saat ini menjadi toko yang paling ramai dikunjungi orang. Dulu tulisan di depan tokonya bertuliskan huruf-huruf china, sekarang telah diganti dengan tulisan Bismillah diapit dengn tulisan Allah dan Muhammad.

Tidak banyak orang yang melaksankan shalat subuh di masjid ini, mungkin hanya sekitar 25 orang saja. Tapi meskipun begitu, suasananya terasa sangat khusyuk dan khidmat. Membayangkan jumlah orang yang beribadah di masjid ini, ingatanku terlontar ke sejumlah masjid yang ada di NAD ini. Memang rata-rata orang yang melaksanakan ibadah shalat setiap waktunya tidak banyak, barangkali masing-masing masjid yang (terlihat olehku) hany sekitar 5 orang saja. Ini mungkin disebabkan oleh jumlah masjid yang begitu banyak itu. Jadi orang-orang tersebar di sejumlah masijid tersebut, sehingga terkesan sedikit orang Aceh yang shalat.


Ini suasana ibadah shalat subuh di masjid Baiturrahman.




Aku berpose di depan mihrab. Agak aneh, yang lain berpakaian yang
sangat agamis, sedang aku pake kaos dan celana jins.


Sehabis melaksanakan shalat subuh, aku menyempatkan diri memotret beberapa sudut masjid Baiturrahman. Ternyata lanskap masjid ini terlihat sangat indah dan menggugah jiwa di kala cahaya matahari masih sedikit tersembunyi di balik bumi.


Tampak halaman depan masjid Baiturrahman di kala fajar.




Ini adalah menara masjid Baiturrahman di kala fajar. Indah benar!


Aku berdiri dengan latar belakang pintu gerbang masjid Baitur-
rahman, seusai shalat subuh.

Munajat
Ya, Allah yang Maha Rahman, Aceh adalah kota yang indah, adalah juga kota ibadah untuk menuju sorgaMu.
Ya, Allah yang Maha Rahim, lindungilah Aceh dari bencana apapun, sampai kelak kiamat sungguhan menghampirinya.
Ya, Allah, bantulah negeri yang elok ini, untuk dapat menjalankan syariat Islam secara kaffah dan murni.
Ya, Allah, izinkan aku untuk berkunjung kembali ke kota ini, suatu saat nanti.
Terlebih ketika kota ini benar-benar telah menjadi serambi yang bisa langsung membawa siapapun bisa mampir ke rumahMu. Amin.


Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa

Boleh Dong Numpang Mejeng....

Boleh Dong Numpang  Mejeng....
Mencoba menatap masa depan sebisanya, sesapanya...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...
Ah....kayaknya cukup keren jugalah...

Gadis Aceh

Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.