21 Desember 2009

Puisi

Ibu, lebih dari buku

Harris Cinnamon

...ketika aku hendak menulis satu kata,
engkau telah menjelma satu buku.

ketika aku usai menulis satu buku,
engkau telah menjadi rak buku.

ketika aku membuat rak buku untuk mengumpulkan beberapa buku,
engkau telah menjadi perpusatakaan...

engkaulah segala ilmuku, ibu......


Sadar I, Lubang Buaya,
22 Desember 2009

11 Desember 2009

Sketsa Rasa

Segala

Harris Cinnamon

Allah adalah segalanya.
Apakah mesti meragukan segalaNya?
Jangan ragukan segalanya Allah!
Ragukan segalamu saja.

11 Desember 2009
Sadar 1, Jakarta Timur

24 Agustus 2009

Puisi

Aku datang di rumahMu
Harris Cinnamon

Aku datang di rumahMu
di saat tubuhku berdebu
aku ingin numpang mandi:
bersuci.
Bolehkah?

Aku juga lapar dan haus kasihMu.
Bolehkan jiwaku numpang makan dan minum cintaMu?

Pikir dan rasaku juga kelelahan.
Bolehkah aku meminta kasur pijatMu untuk melenyapkan kelelahan itu,
agar aku bisa tenang di dekatMu...

Aku datang di rumahMu.
Oh, banyak sekali permintaanku.
Engkau Maha Tahu, yang mana paling indah bagiku...


23 Agustus 2009
di awal ramadhan

Ziarah

Berziarah Ke Makam Sultan Agung


Komplek Makam Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1718-1727 M) merupakan salah satu kekayaan arkeologi di Palembang. Komplek ini terdapat di kawasan Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, berbatasan dengan lingkungan PT Pusri. Dibatasi sebuah masjid, yaitu Masjid Sultan Agung.
Karena perkembangan kota, letak komplek makam yang merupakan bagian dari Kota Plembang Lamo ini sekarang bersebelahan pula dengan Kantor Kelurahan 1 Ilir, sebelah selatan.
Sebagaimana layaknya komplek pemakaman kuno lain di Palembang, Komplek Makam Sultan Agung berjarak sekitar 45 meter dari tepian sungai, yaitu Sungai Musi. Posisi tanahnya pun lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di sekitarnya. Sultan Agung adalah sultan ketiga di Kesultanan Palembang Darussalam, wafat sebelum Komplek Kawah Tekurep selesai dibangun. Dengan demikian, makamnya pun terpisah dari kompleks makam Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo itu.
Di komplek makam ini, terdapat dua deret makam, yaitu deretan di sebelah utara dan selatan yang masing-masing terdiri atas empat makam. Makam di deretan utara, satu makam utama karena letak tanahnya lebih tinggi dibandingkan makam-makam lainnya, saat ini dibangun pula semacam bangunan pelindung, adalah makam Sultan Agung. Makam ini diapit oleh dua makam yang nama di nisannya tidak terbaca. Ditambah pula dengan satu makam nisan dari unglen dan kini dalam kondisi genting yang juga tidak diketahui namanya.
Di kelompok makam kedua, terdapat satu makam yang dikenal, yaitu Raden Tubagus Karang. Tokoh ini adalah panglima perang dari Banten, kakak kandung Raden (Tu) Bagus Kuning yang makamnya berada di kawasan Patrajaya, bersebelahan dengan Kompleks Pertamina Baguskuning, Kelurahan Baguskuning, Kecamatan Plaju.
Sultan Agung memerintah di Kesultanan Palembang Darussalam selama hampir sepuluh tahun sebelum kekuasaan dikembalikan kepada Pangeran Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1727 M.
Proses peralihan kekuasaan pada masa ini cukup menarik. Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (1706-1718 M) merasa bahwa harus turun tahta, dia menyerahkan tahta di Kraton Beringin Janggut. Saat itu, putra-putranya masih sangat muda, termasuk Pangeran Jayo Wikramo. Karena itu, tahta diserahkannya kepada adiknya, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Komaruddin Seri Teruno. Pangeran Jayo Wikramo akhirnya meninggalkan Palembang dan bertualang di wilayah Nusantara. Saat kembali dia menjadi Sultan Mahmud Badaruddin I.

07 Juli 2009

Sketsa Rasa

"Tahta"
Harris Cinnamon

Singgasana kekuasaan,
kursi kepemimpinan,
empuk, berkilauan...

saat ini, mereka yang dahaga itu tahta
untuk mendudukinya perlu daya upaya
janji baik dan juga tipudaya,
pahit racun dan juga madu bunga...

kita yang melihatnya dari kejauhan
bingung, gundah gulana untuk menentukan...

memilih, takut salah pilih...
diam, kehilangan suara...

baigama?

Ya, Allah, ke dalam tanganMu...
kuserahkan ketentuanku dengan ketentuanMu...

Sehari menjelang Pilpres Indinesia,
7 Juli 2009,
pukul 19:00 WIB

03 Juli 2009

Puisi

Patah
Harris Cinnamon

berjalanlah diri sampai kepada sepi
ada yang terasa patah di dalam:
kita tak lagi bersama.

memang benar katamu dulu:
"berlabuh di dermaga selepasan rindu,
cinta ternyata jarak samar semata."

04 Mei 2009

Sketsa Rasa

Tak Terduga-duga
Harris Cinnamon


"Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga," demikian Allah menuliskan kalimat kramat itu di dalam Al Quran. Dan kekramatannya itu tidak hanya tertulis di dalam kitab suci umat Islam tersebut, melainkan benar terjadi di alam nyata.

Suatu ketika aku sangat membutuhkan uang sebesar Rp 350.000,- (Tak perlu kujelaskan untuk apanya, yang jelas urgent banget!). Terus, dari mana aku harus mendapatkannya? Sungguh aku sangat bingung. Aku sedang kosong job. Dan aku yakin benar uang di ATM hanya tersisa sebesar Rp 50.000,- Karena bebarapa waktu lalu aku kuras isinya dan kusisakan lima puluh ribu itu saja.

Namun karena saking butuhnya, akhirnya aku putuskan untuk mengambil uang yang tersisa itu di ATM. Begitu hendak mengambilnya, betapa terkejutnya aku, saldo di ATM itu jumlahnya Rp 400.000,- berarti ada yang memasukkan atau mentransfer uang sebesar Rp 350.000,- Aneh. Ajaib. Siapa gerangan yang telah mengirim uang tersebut. Tak ada telepon ataupun SMS yang menyatakan bahwa seseorang telah melakukan mengirim uang tersebut. Bahkan sampai aku menulis Sketsa Rasa ini, sedikitpun tak ada info tentang itu.

Aku coba mengingat-ingat siapa gerangan yang punya hutang atau sangkutan dengan diriku. Tapi tetap tak ada kejelasan. Yang aku ingat hanyalah, bebarapa waktu lalu memang aku bertemu orang yang kehabisan ongkos pulang. Ia minta padaku uang sebesar Rp 20.000,- tapi aku bilang tidak punya. Kalau jumlahnya tidak sebesar itu, Insya Allah ada, kataku. Lalu aku mengambil sisa uang di dompetku sebesar Rp 3.500,- dan kuberikan dengan ikhlas kepadanya.

Jadi, aku berkesimpulan bahwa "Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga" karena sesungguhnya Allah telah melipatgandakan kebaikan yang pernah aku berikan kepada orang tersebut, kepada sesama....


Jakarta, 3 Mei 2009

09 Maret 2009

Sketsa Rasa

Remang
Harris Cinnamon

Terkadang kita menyadari sesuatu yang kita perbuat adalah sesuatu yang salah.
Namun pada saat bersamaan malah kita keasyikan melakukannya.
Bahkan ada jalan terang di hadapan kita, namun kita justru membelok, menjejaki lorong kegelapan.
Ada pula tangan miskin terulur, kita mengisinya dengan recehan remeh, padahal pada tangan yang keji terbuka, kita meletakkan lembaran yang tinggi nilai jualnya.....

Surabaya, 2009

24 Januari 2009

Sketsa Rasa

Arah Pandang Salam di Akhir Shalat?
Harris Cinnamon

Selama ini saat menutup shalat dengan salam, aku tak pernah mempersoalkan arah pandang ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi sejak aku mengalami suatu kejadian yang seharus tidak dialami seorang seperti aku ini, maka aku mulai mempersoalkannya dan menganalisanya.

Menurut kalian seharusnya arah pandang saat mengucap salam di penghujung shalat, jauh ke samping atau ke ujung bahu? Coba sejenak pikirkan dan renungkan, tak usah dulu secara agama, secara logika saja dulu.

Kalau menurutku, ke ujung bahu. Ujung bahu kanan dan ujung bahu kiri. Kenapa? Ini alasannya. Alasan yang aku buat berdasarkan realita dari pengalamanku, seperti telah aku singgung di atas.

Suatu ketika aku melakukan perjalanan ke sebuah desa, di daerah Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Begitu ashar tiba, aku langsung singgah untuk segera shalat. Sehabis mengambil air wudhu, aku masuk masjid dan bergabung dengan jamaah yang sudah siap untuk shalat. Aku dapat shaf paling pinggir sebelah kanan.

Masjid yang tempat aku ikut ibadah shalat berjamaah ini adalah masjid desa, tak berdinding, hanya ada beberapa tiang penyanggah saja untuk menopang atapnya. Sehingga masjid ini terasa dekat dan melekat dengan alam. Rasanya memang nyaman beribadah di masjid seperti ini. Angin leluasa berhembus. Perasaan panas yang tadi aku rasakan selama perjalanan, sekarang berubah begitu sejuk.

Dalam kesejukan itu, akupun bisa melaksanakan shalat ashar dengan khusyuk. Sehingga tanpa terasa empat rakaat usai sudah. Namun, kekhusyukan itu tadi terasa lenyap seketika, saat aku melempar pandang ke arah kanan untuk menutup shalat dengan salam, mataku tanpa sengaja melihat "pemandangan" yang bisa membangkitkan syahwat. Pada sebuah jamban yang terbuat dari bambu, yang dindingnya terbuat dari bambu juga, yang dijajar jarang-jarang, mirip sel penjara, ada seorang perempuan pipis dengan paha terbuka lebar dan "itu" nya yang mengeluarkan air seni persis menghadap ke arah bola mataku. Astaghfirullah. Jika aku lelaki jalang, bisa dipastikan aku akan makin menyalangkan mata menatapinya. Namun, karena aku seorang yang -- sesungguhnya tak terlalu alim, namun aku sedang -- dalam ibadah suci, maka aku segera memalingkan pandanganku. Mengarahkan pandangan salam akhir shalatku ke bahu.

Dari pengalaman itulah, aku dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya arah pandang saat mengucap salam penutup shalat adalah ke arah bahu; bahu kanan dan bahu kiri. Bukan melempar pandang jauh ke samping. Karena, dikhawatirkan akan menemukan "sesuatu yang tidak seharusnya dipandang oleh orang yang sedang dalam ibadah suci."

09 Januari 2009

Puisi

Perjalanan Sunyi
Harris Cinnamon

Untuk: Almarhumah Kakakku Danayati Ciknang
- berpulang 3 Januari 2009

Entah, apakah sebelumnya telah engkau rencanakan?
Awal tahun 2009 engkau tiba-tiba melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Engkau memulainya dengan keheningan, kemudian sejenak berbicara tanpa kata-kata hanya lewat mata yang berkaca, lalu mengakhirinya dengan kesunyian pula.
Sangat senyap. Hening…

Entah, apakah engkau tahu ketika kami menangis mengantar perjalananmu?
Wajahmu memancarkan sinar dan bibirmu tersenyum manis.
Bertambah manis karena tahi lalat yang bergelayut di dagumu.
Engkau terlihat sangat sehat, tubuhmu gemuk.
Engkau tenang. Bahagia...

Ya, kakanda! Ya, adinda! Ya, bunda!
Kami sangat ikhlas melepasmu.
Inilah perjalanan muda, perjalanan sunyimu, melalui jalan yang sangat asing...
Bukan jalan aspal, hotmik, apalagi tanah atau bebatuan.
Seluruhnya kristal dan cahaya.
Kami yakin itu jalan Tuhan dan malaikat bersamaNya.
Dan bersamamu.

Entah, apakah engkau berharap kami menunggumu pulang?
Kami yakin engkau tak kan pernah pulang sejak kepergian itu.
Tapi akan bertemu kembali, masih sangat mungkin.
Di akhirat nanti, di sorga nanti.
Untuk memastikan pertemuan itu, kami akan berdoa selalu.
Berdoa untukmu.

Palembang - Jakarta, 3 – 6 Januari 2009

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa

Boleh Dong Numpang Mejeng....

Boleh Dong Numpang  Mejeng....
Mencoba menatap masa depan sebisanya, sesapanya...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...
Ah....kayaknya cukup keren jugalah...

Gadis Aceh

Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.