24 Januari 2009

Sketsa Rasa

Arah Pandang Salam di Akhir Shalat?
Harris Cinnamon

Selama ini saat menutup shalat dengan salam, aku tak pernah mempersoalkan arah pandang ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi sejak aku mengalami suatu kejadian yang seharus tidak dialami seorang seperti aku ini, maka aku mulai mempersoalkannya dan menganalisanya.

Menurut kalian seharusnya arah pandang saat mengucap salam di penghujung shalat, jauh ke samping atau ke ujung bahu? Coba sejenak pikirkan dan renungkan, tak usah dulu secara agama, secara logika saja dulu.

Kalau menurutku, ke ujung bahu. Ujung bahu kanan dan ujung bahu kiri. Kenapa? Ini alasannya. Alasan yang aku buat berdasarkan realita dari pengalamanku, seperti telah aku singgung di atas.

Suatu ketika aku melakukan perjalanan ke sebuah desa, di daerah Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Begitu ashar tiba, aku langsung singgah untuk segera shalat. Sehabis mengambil air wudhu, aku masuk masjid dan bergabung dengan jamaah yang sudah siap untuk shalat. Aku dapat shaf paling pinggir sebelah kanan.

Masjid yang tempat aku ikut ibadah shalat berjamaah ini adalah masjid desa, tak berdinding, hanya ada beberapa tiang penyanggah saja untuk menopang atapnya. Sehingga masjid ini terasa dekat dan melekat dengan alam. Rasanya memang nyaman beribadah di masjid seperti ini. Angin leluasa berhembus. Perasaan panas yang tadi aku rasakan selama perjalanan, sekarang berubah begitu sejuk.

Dalam kesejukan itu, akupun bisa melaksanakan shalat ashar dengan khusyuk. Sehingga tanpa terasa empat rakaat usai sudah. Namun, kekhusyukan itu tadi terasa lenyap seketika, saat aku melempar pandang ke arah kanan untuk menutup shalat dengan salam, mataku tanpa sengaja melihat "pemandangan" yang bisa membangkitkan syahwat. Pada sebuah jamban yang terbuat dari bambu, yang dindingnya terbuat dari bambu juga, yang dijajar jarang-jarang, mirip sel penjara, ada seorang perempuan pipis dengan paha terbuka lebar dan "itu" nya yang mengeluarkan air seni persis menghadap ke arah bola mataku. Astaghfirullah. Jika aku lelaki jalang, bisa dipastikan aku akan makin menyalangkan mata menatapinya. Namun, karena aku seorang yang -- sesungguhnya tak terlalu alim, namun aku sedang -- dalam ibadah suci, maka aku segera memalingkan pandanganku. Mengarahkan pandangan salam akhir shalatku ke bahu.

Dari pengalaman itulah, aku dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya arah pandang saat mengucap salam penutup shalat adalah ke arah bahu; bahu kanan dan bahu kiri. Bukan melempar pandang jauh ke samping. Karena, dikhawatirkan akan menemukan "sesuatu yang tidak seharusnya dipandang oleh orang yang sedang dalam ibadah suci."

09 Januari 2009

Puisi

Perjalanan Sunyi
Harris Cinnamon

Untuk: Almarhumah Kakakku Danayati Ciknang
- berpulang 3 Januari 2009

Entah, apakah sebelumnya telah engkau rencanakan?
Awal tahun 2009 engkau tiba-tiba melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Engkau memulainya dengan keheningan, kemudian sejenak berbicara tanpa kata-kata hanya lewat mata yang berkaca, lalu mengakhirinya dengan kesunyian pula.
Sangat senyap. Hening…

Entah, apakah engkau tahu ketika kami menangis mengantar perjalananmu?
Wajahmu memancarkan sinar dan bibirmu tersenyum manis.
Bertambah manis karena tahi lalat yang bergelayut di dagumu.
Engkau terlihat sangat sehat, tubuhmu gemuk.
Engkau tenang. Bahagia...

Ya, kakanda! Ya, adinda! Ya, bunda!
Kami sangat ikhlas melepasmu.
Inilah perjalanan muda, perjalanan sunyimu, melalui jalan yang sangat asing...
Bukan jalan aspal, hotmik, apalagi tanah atau bebatuan.
Seluruhnya kristal dan cahaya.
Kami yakin itu jalan Tuhan dan malaikat bersamaNya.
Dan bersamamu.

Entah, apakah engkau berharap kami menunggumu pulang?
Kami yakin engkau tak kan pernah pulang sejak kepergian itu.
Tapi akan bertemu kembali, masih sangat mungkin.
Di akhirat nanti, di sorga nanti.
Untuk memastikan pertemuan itu, kami akan berdoa selalu.
Berdoa untukmu.

Palembang - Jakarta, 3 – 6 Januari 2009

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa

Boleh Dong Numpang Mejeng....

Boleh Dong Numpang  Mejeng....
Mencoba menatap masa depan sebisanya, sesapanya...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...
Ah....kayaknya cukup keren jugalah...

Gadis Aceh

Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.