Embun yang Pulang
Harris Cinnamon
Relakan embun yang masih bening itu pulang
Matahari telah menjemputnya
karena kepergian bukanlah hilang
hanya berpindah dimensi: waktu dan ruang
dan keikhlasan kan menenteramkan jiwanya
dan memberi hikmah untuk kehidupan yang berdebu, yang masih berjalan.....
(Puisi untuk Cemung Karjia yang kehilangan putra pertama, 23 Januari 2008)
"Sajadah Jiwa" adalah sebuah metafora atau ungkapan puitis yang menggambarkan sajadah bukan sekadar sebagai alas fisik untuk shalat, melainkan sebagai tempat sujud batin, sarana penenangan jiwa, dan ruang komunikasi terdalam antara manusia dengan Allah, tuhan saya. Dan saya membentangkan segala yang ada, disujudkan dengan sepenuh jiwa dan dengan kekhusyukan yang sempurna, dari dan kepada-Nya melalui semesta.
23 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Film CRISTINE, Bukan sekedar "Tidak Seperti yang kamu Lihat", tapi juga merupakan sampan dengan dayung yang patah. Sampan tersebu...
-
Harris Cinnamon INGIN SEPERTI BATU DAN LUMUT menyentuh bibir tebing, aku mendengar batu bicara lumut bicara sungguh, pitutur yang b...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar