"Tahta"
Harris Cinnamon
Singgasana kekuasaan,
kursi kepemimpinan,
empuk, berkilauan...
saat ini, mereka yang dahaga itu tahta
untuk mendudukinya perlu daya upaya
janji baik dan juga tipudaya,
pahit racun dan juga madu bunga...
kita yang melihatnya dari kejauhan
bingung, gundah gulana untuk menentukan...
memilih, takut salah pilih...
diam, kehilangan suara...
baigama?
Ya, Allah, ke dalam tanganMu...
kuserahkan ketentuanku dengan ketentuanMu...
Sehari menjelang Pilpres Indinesia,
7 Juli 2009,
pukul 19:00 WIB
"Sajadah Jiwa" adalah sebuah metafora atau ungkapan puitis yang menggambarkan sajadah bukan sekadar sebagai alas fisik untuk shalat, melainkan sebagai tempat sujud batin, sarana penenangan jiwa, dan ruang komunikasi terdalam antara manusia dengan Allah, tuhan saya. Dan saya membentangkan segala yang ada, disujudkan dengan sepenuh jiwa dan dengan kekhusyukan yang sempurna, dari dan kepada-Nya melalui semesta.
07 Juli 2009
03 Juli 2009
Puisi
Patah
Harris Cinnamon
berjalanlah diri sampai kepada sepi
ada yang terasa patah di dalam:
kita tak lagi bersama.
memang benar katamu dulu:
"berlabuh di dermaga selepasan rindu,
cinta ternyata jarak samar semata."
Harris Cinnamon
berjalanlah diri sampai kepada sepi
ada yang terasa patah di dalam:
kita tak lagi bersama.
memang benar katamu dulu:
"berlabuh di dermaga selepasan rindu,
cinta ternyata jarak samar semata."
04 Mei 2009
Sketsa Rasa
Tak Terduga-duga
Harris Cinnamon
"Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga," demikian Allah menuliskan kalimat kramat itu di dalam Al Quran. Dan kekramatannya itu tidak hanya tertulis di dalam kitab suci umat Islam tersebut, melainkan benar terjadi di alam nyata.
Suatu ketika aku sangat membutuhkan uang sebesar Rp 350.000,- (Tak perlu kujelaskan untuk apanya, yang jelas urgent banget!). Terus, dari mana aku harus mendapatkannya? Sungguh aku sangat bingung. Aku sedang kosong job. Dan aku yakin benar uang di ATM hanya tersisa sebesar Rp 50.000,- Karena bebarapa waktu lalu aku kuras isinya dan kusisakan lima puluh ribu itu saja.
Namun karena saking butuhnya, akhirnya aku putuskan untuk mengambil uang yang tersisa itu di ATM. Begitu hendak mengambilnya, betapa terkejutnya aku, saldo di ATM itu jumlahnya Rp 400.000,- berarti ada yang memasukkan atau mentransfer uang sebesar Rp 350.000,- Aneh. Ajaib. Siapa gerangan yang telah mengirim uang tersebut. Tak ada telepon ataupun SMS yang menyatakan bahwa seseorang telah melakukan mengirim uang tersebut. Bahkan sampai aku menulis Sketsa Rasa ini, sedikitpun tak ada info tentang itu.
Aku coba mengingat-ingat siapa gerangan yang punya hutang atau sangkutan dengan diriku. Tapi tetap tak ada kejelasan. Yang aku ingat hanyalah, bebarapa waktu lalu memang aku bertemu orang yang kehabisan ongkos pulang. Ia minta padaku uang sebesar Rp 20.000,- tapi aku bilang tidak punya. Kalau jumlahnya tidak sebesar itu, Insya Allah ada, kataku. Lalu aku mengambil sisa uang di dompetku sebesar Rp 3.500,- dan kuberikan dengan ikhlas kepadanya.
Jadi, aku berkesimpulan bahwa "Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga" karena sesungguhnya Allah telah melipatgandakan kebaikan yang pernah aku berikan kepada orang tersebut, kepada sesama....
Jakarta, 3 Mei 2009
Harris Cinnamon
"Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga," demikian Allah menuliskan kalimat kramat itu di dalam Al Quran. Dan kekramatannya itu tidak hanya tertulis di dalam kitab suci umat Islam tersebut, melainkan benar terjadi di alam nyata.
Suatu ketika aku sangat membutuhkan uang sebesar Rp 350.000,- (Tak perlu kujelaskan untuk apanya, yang jelas urgent banget!). Terus, dari mana aku harus mendapatkannya? Sungguh aku sangat bingung. Aku sedang kosong job. Dan aku yakin benar uang di ATM hanya tersisa sebesar Rp 50.000,- Karena bebarapa waktu lalu aku kuras isinya dan kusisakan lima puluh ribu itu saja.
Namun karena saking butuhnya, akhirnya aku putuskan untuk mengambil uang yang tersisa itu di ATM. Begitu hendak mengambilnya, betapa terkejutnya aku, saldo di ATM itu jumlahnya Rp 400.000,- berarti ada yang memasukkan atau mentransfer uang sebesar Rp 350.000,- Aneh. Ajaib. Siapa gerangan yang telah mengirim uang tersebut. Tak ada telepon ataupun SMS yang menyatakan bahwa seseorang telah melakukan mengirim uang tersebut. Bahkan sampai aku menulis Sketsa Rasa ini, sedikitpun tak ada info tentang itu.
Aku coba mengingat-ingat siapa gerangan yang punya hutang atau sangkutan dengan diriku. Tapi tetap tak ada kejelasan. Yang aku ingat hanyalah, bebarapa waktu lalu memang aku bertemu orang yang kehabisan ongkos pulang. Ia minta padaku uang sebesar Rp 20.000,- tapi aku bilang tidak punya. Kalau jumlahnya tidak sebesar itu, Insya Allah ada, kataku. Lalu aku mengambil sisa uang di dompetku sebesar Rp 3.500,- dan kuberikan dengan ikhlas kepadanya.
Jadi, aku berkesimpulan bahwa "Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga" karena sesungguhnya Allah telah melipatgandakan kebaikan yang pernah aku berikan kepada orang tersebut, kepada sesama....
Jakarta, 3 Mei 2009
09 Maret 2009
Sketsa Rasa
Remang
Harris Cinnamon
Terkadang kita menyadari sesuatu yang kita perbuat adalah sesuatu yang salah.
Namun pada saat bersamaan malah kita keasyikan melakukannya.
Bahkan ada jalan terang di hadapan kita, namun kita justru membelok, menjejaki lorong kegelapan.
Ada pula tangan miskin terulur, kita mengisinya dengan recehan remeh, padahal pada tangan yang keji terbuka, kita meletakkan lembaran yang tinggi nilai jualnya.....
Surabaya, 2009
Harris Cinnamon
Terkadang kita menyadari sesuatu yang kita perbuat adalah sesuatu yang salah.
Namun pada saat bersamaan malah kita keasyikan melakukannya.
Bahkan ada jalan terang di hadapan kita, namun kita justru membelok, menjejaki lorong kegelapan.
Ada pula tangan miskin terulur, kita mengisinya dengan recehan remeh, padahal pada tangan yang keji terbuka, kita meletakkan lembaran yang tinggi nilai jualnya.....
Surabaya, 2009
24 Januari 2009
Sketsa Rasa
Arah Pandang Salam di Akhir Shalat?
Harris Cinnamon
Selama ini saat menutup shalat dengan salam, aku tak pernah mempersoalkan arah pandang ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi sejak aku mengalami suatu kejadian yang seharus tidak dialami seorang seperti aku ini, maka aku mulai mempersoalkannya dan menganalisanya.
Menurut kalian seharusnya arah pandang saat mengucap salam di penghujung shalat, jauh ke samping atau ke ujung bahu? Coba sejenak pikirkan dan renungkan, tak usah dulu secara agama, secara logika saja dulu.
Kalau menurutku, ke ujung bahu. Ujung bahu kanan dan ujung bahu kiri. Kenapa? Ini alasannya. Alasan yang aku buat berdasarkan realita dari pengalamanku, seperti telah aku singgung di atas.
Suatu ketika aku melakukan perjalanan ke sebuah desa, di daerah Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Begitu ashar tiba, aku langsung singgah untuk segera shalat. Sehabis mengambil air wudhu, aku masuk masjid dan bergabung dengan jamaah yang sudah siap untuk shalat. Aku dapat shaf paling pinggir sebelah kanan.
Masjid yang tempat aku ikut ibadah shalat berjamaah ini adalah masjid desa, tak berdinding, hanya ada beberapa tiang penyanggah saja untuk menopang atapnya. Sehingga masjid ini terasa dekat dan melekat dengan alam. Rasanya memang nyaman beribadah di masjid seperti ini. Angin leluasa berhembus. Perasaan panas yang tadi aku rasakan selama perjalanan, sekarang berubah begitu sejuk.
Dalam kesejukan itu, akupun bisa melaksanakan shalat ashar dengan khusyuk. Sehingga tanpa terasa empat rakaat usai sudah. Namun, kekhusyukan itu tadi terasa lenyap seketika, saat aku melempar pandang ke arah kanan untuk menutup shalat dengan salam, mataku tanpa sengaja melihat "pemandangan" yang bisa membangkitkan syahwat. Pada sebuah jamban yang terbuat dari bambu, yang dindingnya terbuat dari bambu juga, yang dijajar jarang-jarang, mirip sel penjara, ada seorang perempuan pipis dengan paha terbuka lebar dan "itu" nya yang mengeluarkan air seni persis menghadap ke arah bola mataku. Astaghfirullah. Jika aku lelaki jalang, bisa dipastikan aku akan makin menyalangkan mata menatapinya. Namun, karena aku seorang yang -- sesungguhnya tak terlalu alim, namun aku sedang -- dalam ibadah suci, maka aku segera memalingkan pandanganku. Mengarahkan pandangan salam akhir shalatku ke bahu.
Dari pengalaman itulah, aku dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya arah pandang saat mengucap salam penutup shalat adalah ke arah bahu; bahu kanan dan bahu kiri. Bukan melempar pandang jauh ke samping. Karena, dikhawatirkan akan menemukan "sesuatu yang tidak seharusnya dipandang oleh orang yang sedang dalam ibadah suci."
Harris Cinnamon
Selama ini saat menutup shalat dengan salam, aku tak pernah mempersoalkan arah pandang ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. Tapi sejak aku mengalami suatu kejadian yang seharus tidak dialami seorang seperti aku ini, maka aku mulai mempersoalkannya dan menganalisanya.
Menurut kalian seharusnya arah pandang saat mengucap salam di penghujung shalat, jauh ke samping atau ke ujung bahu? Coba sejenak pikirkan dan renungkan, tak usah dulu secara agama, secara logika saja dulu.
Kalau menurutku, ke ujung bahu. Ujung bahu kanan dan ujung bahu kiri. Kenapa? Ini alasannya. Alasan yang aku buat berdasarkan realita dari pengalamanku, seperti telah aku singgung di atas.
Suatu ketika aku melakukan perjalanan ke sebuah desa, di daerah Cisolok, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Begitu ashar tiba, aku langsung singgah untuk segera shalat. Sehabis mengambil air wudhu, aku masuk masjid dan bergabung dengan jamaah yang sudah siap untuk shalat. Aku dapat shaf paling pinggir sebelah kanan.
Masjid yang tempat aku ikut ibadah shalat berjamaah ini adalah masjid desa, tak berdinding, hanya ada beberapa tiang penyanggah saja untuk menopang atapnya. Sehingga masjid ini terasa dekat dan melekat dengan alam. Rasanya memang nyaman beribadah di masjid seperti ini. Angin leluasa berhembus. Perasaan panas yang tadi aku rasakan selama perjalanan, sekarang berubah begitu sejuk.
Dalam kesejukan itu, akupun bisa melaksanakan shalat ashar dengan khusyuk. Sehingga tanpa terasa empat rakaat usai sudah. Namun, kekhusyukan itu tadi terasa lenyap seketika, saat aku melempar pandang ke arah kanan untuk menutup shalat dengan salam, mataku tanpa sengaja melihat "pemandangan" yang bisa membangkitkan syahwat. Pada sebuah jamban yang terbuat dari bambu, yang dindingnya terbuat dari bambu juga, yang dijajar jarang-jarang, mirip sel penjara, ada seorang perempuan pipis dengan paha terbuka lebar dan "itu" nya yang mengeluarkan air seni persis menghadap ke arah bola mataku. Astaghfirullah. Jika aku lelaki jalang, bisa dipastikan aku akan makin menyalangkan mata menatapinya. Namun, karena aku seorang yang -- sesungguhnya tak terlalu alim, namun aku sedang -- dalam ibadah suci, maka aku segera memalingkan pandanganku. Mengarahkan pandangan salam akhir shalatku ke bahu.
Dari pengalaman itulah, aku dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya arah pandang saat mengucap salam penutup shalat adalah ke arah bahu; bahu kanan dan bahu kiri. Bukan melempar pandang jauh ke samping. Karena, dikhawatirkan akan menemukan "sesuatu yang tidak seharusnya dipandang oleh orang yang sedang dalam ibadah suci."
09 Januari 2009
Puisi
Perjalanan Sunyi
Harris Cinnamon
Untuk: Almarhumah Kakakku Danayati Ciknang
- berpulang 3 Januari 2009
Entah, apakah sebelumnya telah engkau rencanakan?
Awal tahun 2009 engkau tiba-tiba melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Engkau memulainya dengan keheningan, kemudian sejenak berbicara tanpa kata-kata hanya lewat mata yang berkaca, lalu mengakhirinya dengan kesunyian pula.
Sangat senyap. Hening…
Entah, apakah engkau tahu ketika kami menangis mengantar perjalananmu?
Wajahmu memancarkan sinar dan bibirmu tersenyum manis.
Bertambah manis karena tahi lalat yang bergelayut di dagumu.
Engkau terlihat sangat sehat, tubuhmu gemuk.
Engkau tenang. Bahagia...
Ya, kakanda! Ya, adinda! Ya, bunda!
Kami sangat ikhlas melepasmu.
Inilah perjalanan muda, perjalanan sunyimu, melalui jalan yang sangat asing...
Bukan jalan aspal, hotmik, apalagi tanah atau bebatuan.
Seluruhnya kristal dan cahaya.
Kami yakin itu jalan Tuhan dan malaikat bersamaNya.
Dan bersamamu.
Entah, apakah engkau berharap kami menunggumu pulang?
Kami yakin engkau tak kan pernah pulang sejak kepergian itu.
Tapi akan bertemu kembali, masih sangat mungkin.
Di akhirat nanti, di sorga nanti.
Untuk memastikan pertemuan itu, kami akan berdoa selalu.
Berdoa untukmu.
Palembang - Jakarta, 3 – 6 Januari 2009
Harris Cinnamon
Untuk: Almarhumah Kakakku Danayati Ciknang
- berpulang 3 Januari 2009
Entah, apakah sebelumnya telah engkau rencanakan?
Awal tahun 2009 engkau tiba-tiba melakukan perjalanan yang cukup jauh.
Engkau memulainya dengan keheningan, kemudian sejenak berbicara tanpa kata-kata hanya lewat mata yang berkaca, lalu mengakhirinya dengan kesunyian pula.
Sangat senyap. Hening…
Entah, apakah engkau tahu ketika kami menangis mengantar perjalananmu?
Wajahmu memancarkan sinar dan bibirmu tersenyum manis.
Bertambah manis karena tahi lalat yang bergelayut di dagumu.
Engkau terlihat sangat sehat, tubuhmu gemuk.
Engkau tenang. Bahagia...
Ya, kakanda! Ya, adinda! Ya, bunda!
Kami sangat ikhlas melepasmu.
Inilah perjalanan muda, perjalanan sunyimu, melalui jalan yang sangat asing...
Bukan jalan aspal, hotmik, apalagi tanah atau bebatuan.
Seluruhnya kristal dan cahaya.
Kami yakin itu jalan Tuhan dan malaikat bersamaNya.
Dan bersamamu.
Entah, apakah engkau berharap kami menunggumu pulang?
Kami yakin engkau tak kan pernah pulang sejak kepergian itu.
Tapi akan bertemu kembali, masih sangat mungkin.
Di akhirat nanti, di sorga nanti.
Untuk memastikan pertemuan itu, kami akan berdoa selalu.
Berdoa untukmu.
Palembang - Jakarta, 3 – 6 Januari 2009
30 Desember 2008
Puisi
1 Muharam
Harris Cinnamon
: adalah hari yang indah
hari yang suci;
keindahan dalam kesucian,
kesucian dalam keindahan.
ya, Allah, sujudkan aku di dalamnya
sampai sesejadah denganMu
: adalah buku yang penuh cacatan kebaikan,
tulisannya tak terbaca, namun Kau sangat memahfuminya
ya, Allah.
:ya!
pondok gede
29 Desember 2008
Harris Cinnamon
: adalah hari yang indah
hari yang suci;
keindahan dalam kesucian,
kesucian dalam keindahan.
ya, Allah, sujudkan aku di dalamnya
sampai sesejadah denganMu
: adalah buku yang penuh cacatan kebaikan,
tulisannya tak terbaca, namun Kau sangat memahfuminya
ya, Allah.
:ya!
pondok gede
29 Desember 2008
23 Desember 2008
Puisi
SEPI
Harris Cinnamon
kepada siapa harus bicara
ketika lidah kelu seperti baja
sementara telinga tak tahu harus mendengar apa
sementara mata hanya bisa nyalang di dalam gelita
: jiwa membaca tanpa tanda,
titik ataupun koma
Pondok Gede, 23 Desember 2008
pkl: 21.30
Harris Cinnamon
kepada siapa harus bicara
ketika lidah kelu seperti baja
sementara telinga tak tahu harus mendengar apa
sementara mata hanya bisa nyalang di dalam gelita
: jiwa membaca tanpa tanda,
titik ataupun koma
Pondok Gede, 23 Desember 2008
pkl: 21.30
16 Desember 2008
Puisi
Di Sepertiga Malam
Harris Cinnamon
di sepertiga malam
sepiku mengunjungi heningMu
berbicara dengan lidah kalbu
: sejuk syahdu
tak pernah terdengar jawabMu
namun selalu bergetar telinga jiwaku
: terang syahdu
di sepertiga malam
aku tenggelam
: alhamdulillah, syahdu...
kamar di gang sadar
16 Desember 2008
Harris Cinnamon
di sepertiga malam
sepiku mengunjungi heningMu
berbicara dengan lidah kalbu
: sejuk syahdu
tak pernah terdengar jawabMu
namun selalu bergetar telinga jiwaku
: terang syahdu
di sepertiga malam
aku tenggelam
: alhamdulillah, syahdu...
kamar di gang sadar
16 Desember 2008
27 November 2008
Puisi
pintu, kalbu, batu...
Harris Cinnamon
mengetuk pintu
mengutuk kalbu
: mengapa tak setenang batu...?
mengetuk kalbu
mengutuk pintu
: tertutuplah setelah kulempar batu...
Jakarta, 27 November 2008
pukul 21.30 WIB
Harris Cinnamon
mengetuk pintu
mengutuk kalbu
: mengapa tak setenang batu...?
mengetuk kalbu
mengutuk pintu
: tertutuplah setelah kulempar batu...
Jakarta, 27 November 2008
pukul 21.30 WIB
Sketsa Rasa
Ya, Allah, manusia itu memang lemah imannya. Namun Engkau maha baik. Suatu ketika, aku terburu-buru waktu, mengantar anak untuk casting sinetron di daerah Daan Mogot. Anakku diharuskan datang tepat waktu pukul 17.00 WIB oleh PH yang memanggilnya untuk casting. Karena takut telat, maka saat seharusnya aku melaksanakan shalat ashar terlebih dulu (sekitar pukul 15.25 WIB), aku langsung saja tancap gas dengan mobilku, mengantar anakku ke arah Daan Mogot tersebut. Dan berharap sampai di sana, tepat waktu sehingga aku tetap bisa melaksanakan shalat ashar. Namun aku mendapatkan kenyataan lain. Jalanan begitu macet, sekalipun melalui jalan tol. Bahkan bukan itu saja, saat keluar tol, aku pun keluar di pintu tol
Langganan:
Postingan (Atom)
Film CRISTINE, Bukan sekedar "Tidak Seperti yang kamu Lihat", tapi juga merupakan sampan dengan dayung yang patah. Sampan tersebu...
-
Film CRISTINE, Bukan sekedar "Tidak Seperti yang kamu Lihat", tapi juga merupakan sampan dengan dayung yang patah. Sampan tersebu...