19 September 2011

Sketsa Rasa

Kematian
Harris Cinnamon

Aku melihat kematian berdiri tidak jauh dariku. Dia hanya diam membisu. Tidak tertawa,tidak juga tersenyum. Namun aku merasakan getarannya, yang seakan mengatakan,"Siapkan dirimu hai Si Hidup!" Aku ingin bertanya, tapi takut dia langsung merenggut jantungku. Aku coba menyimpulkannya sendiri, bahwa yang disuruh persiapkan adalah amalku. Lalu aku berpaling malu-malu melihat kalbuku. Ternyata belum ada apa-apa di sana. Astaghfirullah, ini pasti karena aku terlena dan terlalu banyak memikirkan urusan dunia. Sementara akhirat yang kekal dan indah dilalaikan begitu saja. lalu aku menyelinap menjauh darinya. Dari kematian itu. Aku ingin meningkatkan ibadahku, agar ada segenggam amal mengisi kekosongan kalbuku. Namun ternyata dia pun selalu mengikutiku. Bahkan sangat dekat, semakin dekat. Aku tak berani mengusirnya. Sebaliknya, aku memberanikan diri membiarkan dia selalu menguntitku. Dengan demikian aku bisa memotivasi diri, agar berjuang sekuat tenaga meningkatkan keimanan dan ketaqwaanku, sehingga saat ia kelak tiba-tiba merenggut nyawaku, aku telah benar-benar siap menghadapNya.

Jakarta, Agustus 2011.

28 Juli 2010

Sketsa Rasa

Lapar dan Haus
Harris Cinnamon

Lapar dan haus sebentar lagi pasti akan kita alami. Ramadhan memang diciptakan Allah agar kita merasakan hal itu di dalamnya. Namun apakah kita harus menahannya? Ternyata tidak, justru sebaliknya kita itu memang harus lapar, harus haus? Kita harus merasa betapa kita sangat menginginkan makan, bahkan sangat menginginkan minum. Tapi makan dan minum justru bisa membatalkan puasa kita. Itu juga benar.

Lho jadi kita harus bagaimana? Untuk fisik, kita memang harus menahan agar tidak memasukkan apapun yang bersifat mengenyangkan nafsu perut dan nafsu birahi. Tapi untuk ruhani, kita tidak dipantang untuk memasukkan apapun yang mengandung nilai-nilai ibadah dan ketaqwaan kita. Karena itu kita harus menyantap makanan dan mereguk meminum dari segala sumber kaibaikan: dari bacaan Islami, dari ustadz-ustadz, dari guru agama,dll. Lebih-lebih selama ramdahan ini, kita harus tingkatkan rasa lapar dan haus kita untuk dapat mengisi ruhani kita, yang dapat mengenyakan dan melepaskan dahaga kita kelak dengan keindahan surga.

01 Juli 2010

Puisi

Terang Tanah
Harris Cinnamon

Aku melayang...mengalir...menjelajah...
tahajud...hening...witir...tenang...
sunnah mesjid...tahmid...
sunnah subuh...teduh...subuh...
sejuk...

Ya, Allah, terasa begitu dekat denganMu
tapi selalu merinduMu...

Selamanya bersamaMu.
Akangkah alangkahnya. Begitu!
Inginku. Inginku.

Pondok Gede, 28 Juni 2010

21 Desember 2009

Puisi

Ibu, lebih dari buku

Harris Cinnamon

...ketika aku hendak menulis satu kata,
engkau telah menjelma satu buku.

ketika aku usai menulis satu buku,
engkau telah menjadi rak buku.

ketika aku membuat rak buku untuk mengumpulkan beberapa buku,
engkau telah menjadi perpusatakaan...

engkaulah segala ilmuku, ibu......


Sadar I, Lubang Buaya,
22 Desember 2009

11 Desember 2009

Sketsa Rasa

Segala

Harris Cinnamon

Allah adalah segalanya.
Apakah mesti meragukan segalaNya?
Jangan ragukan segalanya Allah!
Ragukan segalamu saja.

11 Desember 2009
Sadar 1, Jakarta Timur

24 Agustus 2009

Puisi

Aku datang di rumahMu
Harris Cinnamon

Aku datang di rumahMu
di saat tubuhku berdebu
aku ingin numpang mandi:
bersuci.
Bolehkah?

Aku juga lapar dan haus kasihMu.
Bolehkan jiwaku numpang makan dan minum cintaMu?

Pikir dan rasaku juga kelelahan.
Bolehkah aku meminta kasur pijatMu untuk melenyapkan kelelahan itu,
agar aku bisa tenang di dekatMu...

Aku datang di rumahMu.
Oh, banyak sekali permintaanku.
Engkau Maha Tahu, yang mana paling indah bagiku...


23 Agustus 2009
di awal ramadhan

Ziarah

Berziarah Ke Makam Sultan Agung


Komplek Makam Sultan Agung Komaruddin Sri Teruno (1718-1727 M) merupakan salah satu kekayaan arkeologi di Palembang. Komplek ini terdapat di kawasan Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) II, berbatasan dengan lingkungan PT Pusri. Dibatasi sebuah masjid, yaitu Masjid Sultan Agung.
Karena perkembangan kota, letak komplek makam yang merupakan bagian dari Kota Plembang Lamo ini sekarang bersebelahan pula dengan Kantor Kelurahan 1 Ilir, sebelah selatan.
Sebagaimana layaknya komplek pemakaman kuno lain di Palembang, Komplek Makam Sultan Agung berjarak sekitar 45 meter dari tepian sungai, yaitu Sungai Musi. Posisi tanahnya pun lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di sekitarnya. Sultan Agung adalah sultan ketiga di Kesultanan Palembang Darussalam, wafat sebelum Komplek Kawah Tekurep selesai dibangun. Dengan demikian, makamnya pun terpisah dari kompleks makam Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo itu.
Di komplek makam ini, terdapat dua deret makam, yaitu deretan di sebelah utara dan selatan yang masing-masing terdiri atas empat makam. Makam di deretan utara, satu makam utama karena letak tanahnya lebih tinggi dibandingkan makam-makam lainnya, saat ini dibangun pula semacam bangunan pelindung, adalah makam Sultan Agung. Makam ini diapit oleh dua makam yang nama di nisannya tidak terbaca. Ditambah pula dengan satu makam nisan dari unglen dan kini dalam kondisi genting yang juga tidak diketahui namanya.
Di kelompok makam kedua, terdapat satu makam yang dikenal, yaitu Raden Tubagus Karang. Tokoh ini adalah panglima perang dari Banten, kakak kandung Raden (Tu) Bagus Kuning yang makamnya berada di kawasan Patrajaya, bersebelahan dengan Kompleks Pertamina Baguskuning, Kelurahan Baguskuning, Kecamatan Plaju.
Sultan Agung memerintah di Kesultanan Palembang Darussalam selama hampir sepuluh tahun sebelum kekuasaan dikembalikan kepada Pangeran Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1727 M.
Proses peralihan kekuasaan pada masa ini cukup menarik. Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago (1706-1718 M) merasa bahwa harus turun tahta, dia menyerahkan tahta di Kraton Beringin Janggut. Saat itu, putra-putranya masih sangat muda, termasuk Pangeran Jayo Wikramo. Karena itu, tahta diserahkannya kepada adiknya, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Agung Komaruddin Seri Teruno. Pangeran Jayo Wikramo akhirnya meninggalkan Palembang dan bertualang di wilayah Nusantara. Saat kembali dia menjadi Sultan Mahmud Badaruddin I.

07 Juli 2009

Sketsa Rasa

"Tahta"
Harris Cinnamon

Singgasana kekuasaan,
kursi kepemimpinan,
empuk, berkilauan...

saat ini, mereka yang dahaga itu tahta
untuk mendudukinya perlu daya upaya
janji baik dan juga tipudaya,
pahit racun dan juga madu bunga...

kita yang melihatnya dari kejauhan
bingung, gundah gulana untuk menentukan...

memilih, takut salah pilih...
diam, kehilangan suara...

baigama?

Ya, Allah, ke dalam tanganMu...
kuserahkan ketentuanku dengan ketentuanMu...

Sehari menjelang Pilpres Indinesia,
7 Juli 2009,
pukul 19:00 WIB

03 Juli 2009

Puisi

Patah
Harris Cinnamon

berjalanlah diri sampai kepada sepi
ada yang terasa patah di dalam:
kita tak lagi bersama.

memang benar katamu dulu:
"berlabuh di dermaga selepasan rindu,
cinta ternyata jarak samar semata."

04 Mei 2009

Sketsa Rasa

Tak Terduga-duga
Harris Cinnamon


"Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga," demikian Allah menuliskan kalimat kramat itu di dalam Al Quran. Dan kekramatannya itu tidak hanya tertulis di dalam kitab suci umat Islam tersebut, melainkan benar terjadi di alam nyata.

Suatu ketika aku sangat membutuhkan uang sebesar Rp 350.000,- (Tak perlu kujelaskan untuk apanya, yang jelas urgent banget!). Terus, dari mana aku harus mendapatkannya? Sungguh aku sangat bingung. Aku sedang kosong job. Dan aku yakin benar uang di ATM hanya tersisa sebesar Rp 50.000,- Karena bebarapa waktu lalu aku kuras isinya dan kusisakan lima puluh ribu itu saja.

Namun karena saking butuhnya, akhirnya aku putuskan untuk mengambil uang yang tersisa itu di ATM. Begitu hendak mengambilnya, betapa terkejutnya aku, saldo di ATM itu jumlahnya Rp 400.000,- berarti ada yang memasukkan atau mentransfer uang sebesar Rp 350.000,- Aneh. Ajaib. Siapa gerangan yang telah mengirim uang tersebut. Tak ada telepon ataupun SMS yang menyatakan bahwa seseorang telah melakukan mengirim uang tersebut. Bahkan sampai aku menulis Sketsa Rasa ini, sedikitpun tak ada info tentang itu.

Aku coba mengingat-ingat siapa gerangan yang punya hutang atau sangkutan dengan diriku. Tapi tetap tak ada kejelasan. Yang aku ingat hanyalah, bebarapa waktu lalu memang aku bertemu orang yang kehabisan ongkos pulang. Ia minta padaku uang sebesar Rp 20.000,- tapi aku bilang tidak punya. Kalau jumlahnya tidak sebesar itu, Insya Allah ada, kataku. Lalu aku mengambil sisa uang di dompetku sebesar Rp 3.500,- dan kuberikan dengan ikhlas kepadanya.

Jadi, aku berkesimpulan bahwa "Rezeki itu datang dari arah yang tak terduga-duga" karena sesungguhnya Allah telah melipatgandakan kebaikan yang pernah aku berikan kepada orang tersebut, kepada sesama....


Jakarta, 3 Mei 2009

09 Maret 2009

Sketsa Rasa

Remang
Harris Cinnamon

Terkadang kita menyadari sesuatu yang kita perbuat adalah sesuatu yang salah.
Namun pada saat bersamaan malah kita keasyikan melakukannya.
Bahkan ada jalan terang di hadapan kita, namun kita justru membelok, menjejaki lorong kegelapan.
Ada pula tangan miskin terulur, kita mengisinya dengan recehan remeh, padahal pada tangan yang keji terbuka, kita meletakkan lembaran yang tinggi nilai jualnya.....

Surabaya, 2009

Film CRISTINE,  Bukan sekedar "Tidak Seperti yang kamu Lihat", tapi juga merupakan sampan dengan dayung yang patah. Sampan tersebu...