22 Oktober 2008

Sketsa Rasa

Nyaris Lupa Maghriban
Harris Cinnamon

Rapat terkadang membuat kita lupa darat. Apalagi diskusi di dalam rapat tersebut mengasyikkan. Terutama, rapat bidang seni, yang memang aku sukai. Suatu hari, perusahaan tempat aku bekerja akan menyelenggarakan acara pertunjukan Operete untuk memperingati hari Pahlawan, 10 Nopember. Berkait dengan hajat ini, kita mengadakan rapat serius, di sana tentu saja ada bosku, dan beberapa orang penting lainnya. Di samping rapatnya memang urgent, ada perasaan gak enak memang untuk ninggalin ruangan. Sampai-sampai tak terasa, waktu rapat yang dimulai pukul 16.30 WIB itu telah berselancar cukup lama. Suatu ketika, aku melihat seorang teman sedang asyik memainkan HP-nya. Aku jadi teringat dengan HP-ku. Kok dari tadi gak getar ataupun bunyi. Apa memang gak ada yang nelepon. Eh, akhirnya aku tersadar, aku telah "terpisah" dengan HP-ku itu. Waduh di mana gerangan. Aku mencoba mencarinya di saku celana, baju dan jaket yang aku kenakan. Bahkan ke bawah bangku tempat aku duduk pun kuselidiki. Tak kutemukan. Waduh, bisa gawat nih kalo sampe hilang. Langsung tanpa permisi dulu kepada semua yang ada di ruang rapat, aku menuju meja kerjaku yang memang jaraknya cukup jauh dari ruang rapat.

Begitu sampai di mejaku, aku melihat HP-ku tergelatak diam di atasnya. Alhamdulillah. Tidak hilang. Padahal, pernah beberapa kasus teman-temanku kehilangan HP-nya, padahal hanya tertinggal sejenak. Yang lebih merasa membuat aku beruntung, ternyata HP itu seakan "pertanda pengingat" agar aku tidak melukapan shalat. Ternyata, pada saat HP-ku kudapati, itu menunjukkan waktu maghrib sedang berlangsung.18.10 WIB. Padahal, dari ruangan rapat suara adzan tidak terdengar sama sekali. Aku sempat gak percaya. Tapi ketika aku tanyakan kepada salah seorang teman, yang mejanya yang tak jauh dari mejaku, "adzan maghriba baru saja selesai." terangnya. Aku segera bergegas menuju masjid, shalat maghrib sudah berlangsung dua rakaat. Usai ambil air wudhu aku langsung gabung berjamaah. Walau nyaris telat, aku tetap bisa shalat maghrib, padahal tadi begitu asyiknya aku mengikuti jalannya rapat. Nyaris lupa maghriban. Alhamdulillah. Sekali lagi alhamdulilah. Terima kasih juga HP yang "tertinggal", yang di dalamnya terkandung "panggilan gaib" dari yang kasat mata...


Jakarta, 22 Oktober 2008

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa

Boleh Dong Numpang Mejeng....

Boleh Dong Numpang  Mejeng....
Mencoba menatap masa depan sebisanya, sesapanya...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...
Ah....kayaknya cukup keren jugalah...

Gadis Aceh

Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.