30 Desember 2008

Puisi

1 Muharam
Harris Cinnamon

: adalah hari yang indah
hari yang suci;
keindahan dalam kesucian,
kesucian dalam keindahan.

ya, Allah, sujudkan aku di dalamnya
sampai sesejadah denganMu

: adalah buku yang penuh cacatan kebaikan,
tulisannya tak terbaca, namun Kau sangat memahfuminya

ya, Allah.

:ya!


pondok gede
29 Desember 2008

23 Desember 2008

Puisi

SEPI
Harris Cinnamon

kepada siapa harus bicara
ketika lidah kelu seperti baja
sementara telinga tak tahu harus mendengar apa
sementara mata hanya bisa nyalang di dalam gelita

: jiwa membaca tanpa tanda,
titik ataupun koma


Pondok Gede, 23 Desember 2008
pkl: 21.30

16 Desember 2008

Puisi

Di Sepertiga Malam
Harris Cinnamon

di sepertiga malam
sepiku mengunjungi heningMu
berbicara dengan lidah kalbu
: sejuk syahdu

tak pernah terdengar jawabMu
namun selalu bergetar telinga jiwaku
: terang syahdu

di sepertiga malam
aku tenggelam
: alhamdulillah, syahdu...


kamar di gang sadar
16 Desember 2008

27 November 2008

Puisi

pintu, kalbu, batu...
Harris Cinnamon

mengetuk pintu
mengutuk kalbu
: mengapa tak setenang batu...?

mengetuk kalbu
mengutuk pintu
: tertutuplah setelah kulempar batu...


Jakarta, 27 November 2008
pukul 21.30 WIB

Sketsa Rasa



Ya, Allah, manusia itu memang lemah imannya. Namun Engkau maha baik. Suatu ketika, aku terburu-buru waktu, mengantar anak untuk casting sinetron di daerah Daan Mogot. Anakku diharuskan datang tepat waktu pukul 17.00 WIB oleh PH yang memanggilnya untuk casting. Karena takut telat, maka saat seharusnya aku melaksanakan shalat ashar terlebih dulu (sekitar pukul 15.25 WIB), aku langsung saja tancap gas dengan mobilku, mengantar anakku ke arah Daan Mogot tersebut. Dan berharap sampai di sana, tepat waktu sehingga aku tetap bisa melaksanakan shalat ashar. Namun aku mendapatkan kenyataan lain. Jalanan begitu macet, sekalipun melalui jalan tol. Bahkan bukan itu saja, saat keluar tol, aku pun keluar di pintu tol

22 Oktober 2008

Sketsa Rasa

Nyaris Lupa Maghriban
Harris Cinnamon

Rapat terkadang membuat kita lupa darat. Apalagi diskusi di dalam rapat tersebut mengasyikkan. Terutama, rapat bidang seni, yang memang aku sukai. Suatu hari, perusahaan tempat aku bekerja akan menyelenggarakan acara pertunjukan Operete untuk memperingati hari Pahlawan, 10 Nopember. Berkait dengan hajat ini, kita mengadakan rapat serius, di sana tentu saja ada bosku, dan beberapa orang penting lainnya. Di samping rapatnya memang urgent, ada perasaan gak enak memang untuk ninggalin ruangan. Sampai-sampai tak terasa, waktu rapat yang dimulai pukul 16.30 WIB itu telah berselancar cukup lama. Suatu ketika, aku melihat seorang teman sedang asyik memainkan HP-nya. Aku jadi teringat dengan HP-ku. Kok dari tadi gak getar ataupun bunyi. Apa memang gak ada yang nelepon. Eh, akhirnya aku tersadar, aku telah "terpisah" dengan HP-ku itu. Waduh di mana gerangan. Aku mencoba mencarinya di saku celana, baju dan jaket yang aku kenakan. Bahkan ke bawah bangku tempat aku duduk pun kuselidiki. Tak kutemukan. Waduh, bisa gawat nih kalo sampe hilang. Langsung tanpa permisi dulu kepada semua yang ada di ruang rapat, aku menuju meja kerjaku yang memang jaraknya cukup jauh dari ruang rapat.

Begitu sampai di mejaku, aku melihat HP-ku tergelatak diam di atasnya. Alhamdulillah. Tidak hilang. Padahal, pernah beberapa kasus teman-temanku kehilangan HP-nya, padahal hanya tertinggal sejenak. Yang lebih merasa membuat aku beruntung, ternyata HP itu seakan "pertanda pengingat" agar aku tidak melukapan shalat. Ternyata, pada saat HP-ku kudapati, itu menunjukkan waktu maghrib sedang berlangsung.18.10 WIB. Padahal, dari ruangan rapat suara adzan tidak terdengar sama sekali. Aku sempat gak percaya. Tapi ketika aku tanyakan kepada salah seorang teman, yang mejanya yang tak jauh dari mejaku, "adzan maghriba baru saja selesai." terangnya. Aku segera bergegas menuju masjid, shalat maghrib sudah berlangsung dua rakaat. Usai ambil air wudhu aku langsung gabung berjamaah. Walau nyaris telat, aku tetap bisa shalat maghrib, padahal tadi begitu asyiknya aku mengikuti jalannya rapat. Nyaris lupa maghriban. Alhamdulillah. Sekali lagi alhamdulilah. Terima kasih juga HP yang "tertinggal", yang di dalamnya terkandung "panggilan gaib" dari yang kasat mata...


Jakarta, 22 Oktober 2008

29 September 2008

Sketsa Rasa

Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS An-Nuur [24]: 22).

Balasan dari kejahatan adalah kejahatan setimpal, tetapi siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka ganjarannya ditanggung oleh Allah (QS Al-Syûrâ [42]: 40).

Apabila kamu memaafkan, melapangkan dada serta melindungi, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Al-Taqhâbun
[64]: 14),

Maafkanlah mereka dan lapangkan dada, sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebajikan (terhadap yang melakukan kesalahan kepadanya) (QS Al-Ma‘idah [5]: 13).

Kami sekeluarga, mohon maaf yang sebesar-besarnya dan setulus-tulusnya, jika selama ini barangkali kami pernah berbuat khilaf dan salah, dan semoga Allah Swt. memberikan balasan berupa rahmat yang tak terhingga.

23 September 2008

Puisi

Lailatul Qadar

Harris Cinnamon

setetas embun tanpa air menyentuh daun
begitu santun
kegersangan tersejukkan, pun

…seberkas sinar tanpa cahaya menyentuh tanah
begitu lembut
kegelapan tercerabut

malam embun dan sinar
malam yang santun dan lembut. Berbinar
malam seribu bulan. Akbar
: i'tikafkan kalbuku,
alqurkan diriku,
ayat-ayat-Mu mengalir dalam nafas dan darahku

alif lam rahasia-Mu tak tabir bagiku


23 Ramadhan 1429 H
23 September 2008
Masjid An Nida, Jakarta Timur

18 September 2008

Kaca Jiwa

Hidayah Datang Saat Maut Menjelang

Harris Cinnamon

Paulus Pujiono, 67 tahun, seharusnya menjadi lelaki yang sangat kesepian, sejak ditinggal mati istri tercintanya. Apalagi kelima orang anaknya, Yanti, Pardi, Leni, Kardi, dan Kunti pun satu persatu pergi meninggalkannya, mengikuti pasangan hidupn mereka masing-masing. Anak-anaknya telah berumah tangga dan punya kehidupan sendiri-sendiri. Tapi ternyata, lelaki tua berdarah Cina Jawa itu tetap riang dan tabah mengarungi hari-harinya.

Kelima orang anaknya, bukan tidak perduli dengannya. Semua sudah pernah menawarinya untuk tinggal di salah satu keluarga dari anak-anaknya itu. Tapi ia tidak mau. Ia merasa nyaman tinggal sendirian, di rumah tua yang ia bangun dengan keringat dan jerih payahnyan sendiri. Yang lebih memprihatinkan adalah orang tua itu, masih tetap memeluk agamanya yang dia anut secara turun temurun, dari kecil hingga setua itu, yaitu Protestan. Sedangkan anak-anaknya sudah berpindah agama, yang secara ikhlas dan penuh penyadaran memeluk Islam.

Yanti, Pardi, Leni, Kardi, dan Kunti merasa sangat yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan diridhoi Allah. Inilah agama yang diyakini akan membawa mereka bisa dengan tenang masuk ke dalam sorga. Sebab Allah telah berjanji bahwa setiap muslim-muslimat, jika telah mengucapkan kalimat syahadat, dipastikan akan masuk ke tempat yang paling dirindukan itu. Mereka sangat sedih, jika nanti berpulang ke Rabbul Izati tidak bisa bersama-sama dengan ayah mereka, yang sekarang seperti hidup terasing dalam agama yang dianutnya sejak kecil itu.

Mereka pernah merayu ayahnya untuk mengikuti jejak mereka masuk Islam. Namun sama seperti saat diajak tinggal seatap, ayahnya menolak dengan halus. "Aku telah mengikhlaskan kalian memeluk Islam, dan sedikit pun aku tak pernah melarang dan marah pada kalian," jawabnya dengan bijak.

Begitulah kenyataannya, ketika anak-anaknya satu persatu pindah agama, karena semua mendapatkan jodohnya orang yang beragama Islam, Paulus Pujiono tidak pernah protes. Malah dengan penuh kelembutan, ia merelakan anak-anaknya meninggalkan agama Protestan, yang juga sejak kecil mereka anut.

Suatu saat Pualus Pujiono sakit keras. Anak-anaknya sangat gelisah dan sedih. Tapi kegelisahan dan kesedihan itu, ternyata bukan disebabkan karena ayahnya sakit, melainkan karena ayahnya ditakutkan mati dalam keadaan kafir. Saat kondisi ayahnya makin kritis, dan telah tampak pula bahwa sang maut sebentar lagi datang menjelang, kegelisahan dan kesedihan itu makin mendera. Yanti, Pardi, Leni, Kardi, dan Kunti tak kuasa menahan air mata yang hendak keluar. Mereka menanngis sejadi-jadinya. Karena tak ada lagi yang bisa diharapkan, untuk memaksakan agar ayahnya segera memeluk Islam. Bukankah, jika nyawa sudah sampai tenggorokan, tak ada pertobatan yang bisa diterima?

Di ujung sakratul maut itu, akhirnya hanya pasrah yang bisa dilakukan oleh Yanti, Pardi, Leni, Kardi, dan Kunti. Namun, sesuatu yang tak disangka, terjadi begitu saja. Tiba-tiba dari mulut ayahnya, terdesis lafas "Ashadu ala ilah hailallah wa ashadu ana Muhammadarasulallah". Tentu saja hal ini membuat kelima anaknya dan orang-orang yang ada di situ, termasuk salah seorang ustadz yang menemani, tercengang. Takjub. Subhanallah. "Inilah hidayah," ujar Ustadz itu tanpa sadar. Setelah mengucapkan kalimat syahadat itu, ayah kelima orang anak itu, Paulus Pujiono pun berpulang ke Rahmatullah. Anak-anaknya menangis terharu, sekaligus bahagia. "Dengan demikian ia telah sah memeluk agama Islam," jelas Ustadz itu kemudian. "Maka layak baginya dimandikan, dikafani, disalatkan dan dimakamkan
secara Islam."

Subhanallah, sungguh Allah Maha berkehendak. Jika Ia menghendaki seseorang itu mendapatkan rahmat dari-Nya, maka akan diberikan rahmat itu. Sebaliknya, jika Ia tidak menghendakinya, sampai binasapun tak kan pernah diberikannya. Beruntunglah Paulus Pujiono, karena ia tidak pernah marah dan malah ikhlas ketika anak-anaknya berpindah agama, memeluk Islam, maka di saat kematiannya tiba ia mendapatkan rahmat dan hidayah dari Allah Swt. Subhanallah. Subhanallah.


Jakarta, 18 Ramadhan 1429 H.
(Kisah Nyata dari Palembang, yang terjadi tahun 1983)

17 September 2008

Kaca Jiwa

Nyamuk di Malam Nuzulul Quran

Harris Cinnamon

Malam diselubungi udara dingin, sehabis gerimis di masjid An Nida'. Bisa jadi, disebabkan sehabis hujan itu, nyamuk-nyamuk berhamburan keluar. Kok lebih banyak ya jumlahnya dibanding sebelum malam Nuzulul Quran. Malam saat diturunkannya surat pertama dari Al Quran, Iqro, 17 Ramadhan, yang pada tahun 2008, bertepatan dengan tanggal 17 September. Banyaknya jumlah nyamuk itu mungkin sudah mencapai ratusan. Tak sebanding dengan orang yang melaksanakan qiyamulail. Di masjid, hanya beberapa orang saja yang ingin i'tikaf sekaligus tadarusan. Ya, tak begitu aku perhatikan. Mungkin sekitar 5 orang saja. Ada juga beberapa orang lagi sih, tapi mereka tidur lelap di teras masjid. Dan mungkin tengah dibuai mimpi indah tentang lebaran yang tak lama lagi akan tiba. Yang ini aku tidak mengkategorikannya sebagai i'tikaf.

Kembali ke soal nyamuk. Nyamuk-nyamuk yang banyak itu, tampaknya agak mengganggu konsentrasi teman-temanku. Mereka ada yang menepuk nyamuk-nyamuk itu sampai mati saat hinggap di kulit dan menghisap secuil darah mereka. Aku miris juga melihatnya.

"Kenapa dibunuh nyamuk-nyamuk itu?" tanyaku.

"Gigitannya sakit," sahut salah seorang temanku.

"Takut kena malaria," timpal yang lainnya.

Astaghfirullah! Sebegitu rugi dan takutnya, pikirku terhadap teman-temanku. "Seharusnya kalian usir saja nyamuk-nyamuk itu," saranku. "Jangan kalian bunuh."

"Memangnya kenapa?" tanya salah seorang temanku yang lain lagi. Aku coba menjelaskan pandanganku. Hanya berdasar pemikiranku saja. Tidak ilmiah, mungkin. Dan tanpa teori apapun, baik teori kesehatan, sosial, ataupun secara agama. Lebih kepada pandangan pribadi semata. "Malam ini, pas malam Nuzulul Quran, kehadiran nyamuk-nyamuk yang demikian banyak itu, -- sikapi secara positif -- sebagai pertanda agar kita tetap bisa melek mata. Supaya, kita yang tadinya ngantuk berat jadi tebangun ketika mendengarkan dengungan suaranya dan gigitannya di kulit kita. Dengan begitu, kita bisa baca Al Quran dan shalat malam.Bisa mendapatkan barokah dari malam yang penuh maghfirah ini."

"Masuk akal juga ya," temanku yang lain lagi tertarik.

"Yang jelas, ini alasannya sedikit agak agamis," jawabku. "Setiap mahluk ciptaan Allah, tidak ada yang sia-sia, termasuk nyamuk-nyamuk ini."

"Karena itu tak ada alasan bagi kita untuk membunuhnya," paparku kemudian agak spesifik. "Seberapa banyakpun nyamuk menggigit dan menghisap darah kita, tidak akan membuat kita kehabisan darah."

"Tapi 'kan bisa menyebabkan malaria dan bahkan kematian," temanku coba menampik.

"Sebenarnya, Allah mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama mahluk hidup. Nyamuk 'kan mahluk hidup, berarti kita harus menghasihinya. Nah, barangkali karena kita tidak mengasihinya -- hanya diambilnya sedikit darah kita, kita lantas membunuhnya. Bahkan, belum digigitnya saja kita sudah sibuk menyemprotkan racun serangga. Takut benar kalau nanti digigitnya. Nah, bisa jadi disebabkan itu, makanya nyamuk-nyamuk itu -- utamanya aedes aegiptibalas dendam; mereka lantas mencari bibit penyakit virus dengue dan menularkannya kepada kita. Kepada yang tidak menyayanginya."

"Subhanallah," teman-temanku serentak menanggapi paparanku. "Masuk akal juga pendapatmu itu...itu termasuk ayat-ayat qauniyyah (fenomena alam)..."

Setelah itu, teman-temanku menjadi khusyuk i'tikaf dan tadarusan, meskipun nyamuk semakin bertambah jumlahnya. Suara dengungannya dan gigitannya sudah tidak dirasakan lagi. Malam yang dingin, begitu lembut menyentuh kalbu. Malam Nuzulul Quran pun bertmbah syahdu.

Jakarta, 17 Ramadhan 1429 H

10 September 2008

Kaca Jiwa

DEKAT DENGAN ALLAH MELALUI NAMA-NAMA-NYA

Harris Cinnamon

Allah membukakan jalan begitu banyak, untuk kita mengunjungi-Nya, dan bisa lebih dekat dengan-Nya. Salah satunya adalah dengan sesering kali menyebut nama-Nya. Kita bisa mengenal orang per orang, yang jumlahnya mungkin ratusan, melalui namanya. Bahkan kita hafal sekali nama orang per orang tersebut. Tapi mengapa, nama-nama Allah Swt . yang baik itu, kita tak begitu mengenal-Nya. Ketika kita bicara dengan seseorang dengan menyebut namanya, maka akan terasa akrab pembicaraan itu. Tentu, jika kita mengenal nama-nama Allah Swt, maka tak pelak bisa diyakini pasti kita akan lebih intim lagi dengan-Nya.

Nama-nama Allah Swt. itu disebutkan oleh Allah sendiri lewat firman-Nya, “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu semua seru, Dia adalah mempunyai nama-nama yang baik.’" (Q.S. Al-Isra:110)

Dengan nama-nama itulah, kita semua diperintah untuk menyerunya. Allah Swt. berfirman, “Bagi Allah-lah nama-nama yang baik, maka serulah dengan menggunakan nama-nama itu.” (Q.S. Al-A’raf:180)

Adapun jumlah nama-nama Allah yang baik (Asma ul Husna) itu ada sembilan puluh sembilan nama. Imam Bukhari, Muslim dan Tirmizi meriwayatkan hadist dari Abu Urairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (tidak genap) dan cinta sekali pada hal yang ganjil (tidak genap).” (H.R. Ibnu Majah)

Imam Tirmizi memberikan tambahan dalam riwayatnya sebagai berikut, “Sembilan puluh sembilan nama Allah Taala yaitu:

1. Allah: Lafal yang Maha Mulia yang merupakan nama dari zat Ilahi yang Maha Suci serta wajib adanya yang berhak memiliki semua macam pujian dan sanjungan. Adapun nama-nama lain, maka setiap nama itu menunjukkan suatu sifat Tuhan yang tertentu dan oleh sebab itu bolehlah dianggap sebagai sifat bagi lafal yang Maha Mulia ini (yakni Allah) atau boleh dijadikan sebagai kata beritanya.
2. Arrahmaan: Maha Pengasih, pemberi kenikmatan yang agung-agung, pengasih di dunia.
3. Arrahiim: Maha Penyayang, pemberi kenikmatan yang pelik-pelik, penyayang di akhirat.
4. Almalik: Maha Merajai, mengatur kerajaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya sendiri.
5. Alqudduus: Maha Suci, tersuci dari segala cela dan kekurangan.
6. Assalaam: Maha Penyelamat, pemberi keamanan dan kesentosaan pada seluruh makhluk-Nya.
7. Almukmin: Maha Pemelihara keamanan, yakni siapa yang bersalah dari makhluk-Nya itu benar-benar akan diberi siksa, sedang kepada yang taat akan benar-benar dipenuhi janji-Nya dengan pahala yang baik.
8. Almuhaimin: Maha Penjaga, memerintah dan melindungi segala sesuatu.
9. Al’aziiz: Maha Mulia, kuasa dan mampu untuk berbuat sekehendak-Nya.
10. Aljabbaar: Maha Perkasa, mencukupi segala kebutuhan, melangsungkan segala perintah-Nya serta memperbaiki keadaan seluruh hamba-Nya.
11. Almutakabbir: Maha Megah, menyendiri dengan sifat keagungan dan kemegahan-Nya.
12. Alkhaalik: Maha Pencipta, mengadakan seluruh makhluk tanpa asal, juga yang menakdirkan adanya semua itu.
13. Albaari’: Maha Pembuat, mengadakan sesuatu yang bernyawa yang ada asal mulanya.
14. Almushawwir: Maha Pembentuk, memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. (Jadi Alkhaalik adalah mengadakan sesuatu yang belum ada asal mulanya atau yang menakdirkan adanya itu. Albaari’ ialah mengeluarkannya dari yang sudah ada asalnya, sedang Almushawwir ialah yang memberinya bentuk yang sesuai dengan keadaan dan keperluannya).
15. Alghaffaar: Maha Pengampun, banyak pemberian maaf-Nya dan menutupi dosa-dosa dan kesalahan.
16. Alqahhaar: Maha Pemaksa, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya serta memaksa segala makhluk menurut kehendak-Nya.
17. Alwahhaab: Maha Pemberi, banyak kenikmatan dan selalu memberi karunia.
18. Arrazzaaq: Maha Pemberi rezeki, membuat berbagai rezeki serta membuat pula sebab-sebab diperolehnya.
19. Alfattaah: Maha Membukakan, yakni membuka gudang penyimpanan rahmat-Nya untuk seluruh hamba-Nya.
20. Al’aliim: Maha Mengetahui, yakni mengetahui segala yang maujud ini dan tidak ada satu benda pun yang tertutup oleh penglihatan-Nya.
21. Alqaabidl: Maha Pencabut, mengambil nyawa atau mempersempit rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
22. Albaasith: Maha Meluaskan, memudahkan terkumpulnya rezeki bagi siapa yang diinginkan oleh-Nya.
23. Alkhaafidl: Maha Menjatuhkan, yakni terhadap orang yang selayaknya dijatuhkan karena akibat kelakuannya sendiri dengan memberinya kehinaan, kerendahan dan siksaan.
24. Arraafi’: Maha Mengangkat, yakni terhadap orang yang selayaknya diangkat kedudukannya karena usahanya yang giat yaitu yang termasuk golongan kaum yang bertakwa.
25. Almu’iz: Maha Pemberi kemuliaan, yakni kepada orang yang berpegang teguh pada agama-Nya dengan memberinya pertolongan dan kemenangan.
26. Almudzil: Maha Pemberi kehinaan, yakni kepada musuh-musuh-Nya dan musuh umat Islam seluruhnya.
27. Assamii’: Maha Mendengar.
28. Albashiir: Maha Melihat.
29. Alhakam: Maha Menetapkan hukum, sebagai hakim yang memutuskan yang tidak seorang pun dapat menolak keputusan-Nya, juga tidak seorang pun yang kuasa merintangi kelangsungan hukum-Nya itu.
30. Al’adl: Maha Adil, serta sangat sempurna dalam keadilan-Nya itu.
31. Allathiif: Maha Halus, yakni mengetahui segala sesuatu yang samar-samar, pelik-pelik dan kecil-kecil.
32. Alkhabiir: Maha Waspada.
33. Alhaliim: Maha Penghiba, penyantun yang tidak tergesa-gesa melakukan kemarahan dan tidak pula gegabah memberikan siksaan.
34. Al’azhiim: Maha Agung, yakni mencapai puncak tertinggi dari keagungan karena bersifat dengan segala macam sifat kebesaran dan kesempurnaan.
35. Alghafuur: Maha Pengampun, banyak pengampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
36. Asysyakuur: Maha Pembalas yakni memberikan balasan yang banyak sekali atas amalan yang kecil dan tidak berarti.
37. Al’aliy: Maha Tinggi, yakni mencapai tingkat yang setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh akal pikiran siapa pun dan tidak dapat dipahami oleh otak yang bagaimana pun pandainya.
38. Alkabiir: Maha Besar, yang kebesaran-Nya tidak dapat diikuti oleh pancaindera atau pun akal manusia.
39. Alhafiiz: Maha Pemelihara yakni menjaga segala sesuatu jangan sampai rusak dan goncang. Juga menjaga segala amal perbuatan hamba-hamba-Nya, sehingga tidak akan disia-siakan sedikit pun untuk memberikan balasan-Nya.
40. Almuqiit: Maha Pemberi kecukupan, baik yang berupa makanan tubuh atau pun makanan rohani.
41. Alhasiib: Maha Penjamin, yakni memberikan jaminan kecukupan kepada seluruh hamba-Nya. Juga dapat diartikan Maha Menghisab amalan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.
42. Aljaliil: Maha Luhur, yang memiliki sifat-sifat keluhuran karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
43. Alkariim: Maha Pemurah, mulia hati dan memberi siapa pun tanpa diminta atau sebagai penggantian dari sesuatu pemberian.
44. Arraqiib: Maha Peneliti, yang mengamat-amati gerak-gerik segala sesuatu dan mengawasinya.
45. Almujiib: Maha Mengabulkan, yang memenuhi permohonan siapa saja yang berdoa pada-Nya.
46. Alwaasi’: Maha Luas, yakni bahwa rahmat-Nya itu merata kepada segala yang maujud dan luas pula ilmu-Nya terhadap segala sesuatu.
47. Alhakiim: Maha Bijaksana yakni memiliki kebijaksanaan yang tertinggi kesempurnaan ilmu-Nya serta kerapian-Nya dalam membuat segala sesuatu.
48. Alwaduud: Maha Pencinta, yang menginginkan segala kebaikan untuk seluruh hamba-Nya dan pula berbuat baik pada mereka itu dalam segala hal-ihwal dan keadaan.
49. Almajiid: Maha Mulia, yakni yang mencapai tingkat teratas dalam hal kemuliaan dan keutamaan.
50. Albaa’its: Maha Membangkitkan, yakni membangkitkan para rasul, membangkitkan semangat dan kemauan, juga membangkitkan orang-orang yang telah mati dari masing-masing kuburnya nanti setelah tibanya hari kiamat.
51. Asysyahiid: Maha Menyaksikan atau Maha Mengetahui keadaan semua makhluk.
52. Alhaq: Maha Haq, Maha Benar yang kekal dan tidak akan berubah sedikit pun.
53. Alwakiil: Maha Memelihara penyerahan, yakni memelihara semua urusan hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka itu.
54. Alqawiy: Maha Kuat, yaitu yang memiliki kekuasaan yang sesempurna-sempurna.
55. Almatiin: Maha Kokoh atau Perkasa, yakni memiliki keperkasaan yang sudah sampai dipuncaknya.
56. Alwaliy: Maha Melindungi, yakni melindungi serta menertibkan semua kepentingan makhluk-Nya karena kecintaan-Nya yang sangat pada mereka itu dan pemberian pertolongan-Nya yang tidak terbatas pada keperluan mereka.
57. Alhamiid: Maha Terpuji, yang memang sudah selayaknya untuk memperoleh pujian dan sanjungan.
58. Almuhshi: Maha Penghitung, yang tidak satu pun tertutup dari pandangan-Nya dan semua amalan itu pun diperhitungkan sebagaimana wajarnya.
59. Almubdi’: Maha Memulai, yang melahirkan sesuatu yang asalnya tidak ada dan belum maujud.
60. Almu’iid: Maha Mengulangi, yakni menumbuhkan kembali setelah lenyapnya atau setelah rusaknya.
61. Almuhyii: Maha Menghidupkan, yakni memberikan daya kehidupan pada setiap sesuatu yang berhak hidup.
62. Almumiit: Yang Mematikan, yakni mengambil kehidupan (ruh) dari apa-apa yang hidup, lalu disebut mati.
63. Alhay: Maha Hidup, kekal pula hidup-Nya itu.
64. Alqayyuum: Maha Berdiri sendiri, baik Dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya. Juga membuat berdiri apa-apa yang selain Dia. Dengan-Nya pula berdiri langit dan bumi ini.
65. Alwaajid: Maha kaya, dapat menemukan apa saja yang diinginkan oleh-Nya, maka tidak membutuhkan pada suatu apa pun karena sifat kaya-Nya yang mutlak.
66. Almaajid: Maha Mulia, (sama dengan nomor 49 yang berbeda hanyalah tulisannya. Ejaan sebenarnya nomor 49 Almajiid sedangkan nomor 66 ini Almaajid).
67. Alwaahid: Maha Esa.
68. Ashshamad: Maha Dibutuhkan, yakni selalu menjadi tujuan dan harapan orang di waktu ada hajat keperluannya.
69. Alqaadir: Maha Kuasa.
70. Almuqtadir: Maha Menentukan.
71. Almuqaddim: Maha Mendahulukan, yakni mendahulukan sebagian benda dari yang lainnya dalam perwujudannya, atau dalam kemuliaan, selisih waktu atau tempatnya.
72. Almu’akhkhir: Maha Mengakhirkan atau Membelakangkan.
73. Alawwal: Maha Pertama, Dahulu sekali dari semua yang maujud.
74. Alaakhir: Maha Penghabisan, Kekal terus setelah habisnya segala sesuatu yang maujud.
75. Azhzhaahir: Maha Nyata, yakni menyatakan dan menampakkan wujud-Nya itu dengan bukti-bukti dan tanda-tanda ciptaan-Nya.
76. Albaathin: Maha Tersembunyi, tidak dapat dimaklumi zat-Nya sehingga tidak seorang pun dapat mengenal zat-Nya itu.
77. Alwaalii: Maha Menguasai, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya dan menjadi milik-Nya.
78. Almuta’aalii: Maha Suci, terpelihara dari segala kekurangan dan kerendahan.
79. Albar: Maha Dermawan, banyak kebaikan-Nya dan besar kenikmatan yang dilimpahkan-Nya.
80. Attawwaab: Maha Penerima tobat, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang bermaksiat untuk melakukan tobat lalu Allah akan menerimanya.
81. Almuntaqim: Maha Penyiksa, kepada orang yang berhak untuk memperoleh siksa-Nya.
82. Al’afuw: Maha Pemaaf, pelebur kesalahan orang yang suka kembali untuk meminta maaf pada-Nya.
83. Arra-uuf: Maha Pengasih, banyak rahmat dan kasih sayang-Nya.
84. Maalikulmulk: Maha Menguasai kerajaan, maka segala perkara yang berlaku di alam semesta, langit, bumi dan sekitarnya serta yang dibaliknya alam semesta itu semuanya sesuai dengan kehendak dan iradat-Nya.
85. Dzuljalaali wal ikraam: Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan. Juga zat yang mempunyai keutamaan dan kesempurnaan, pemberi karunia dan kenikmatan yang amat banyak dan melimpah ruah.
86. Almuqsith: Maha Mengadili, yakni memberikan kemenangan pada orang-orang yang teraniaya dari tindakan orang-orang yang menganiaya dengan keadilan-Nya.
87. Aljaami’: Maha Mengumpulkan, yakni mengumpulkan berbagai hakikat yang telah bercerai-berai dan juga mengumpulkan seluruh umat manusia pada hari pembalasan.
88. Alghaniy: Maha Kaya, maka tidak membutuhkan apa pun dari yang selain zat-Nya sendiri, tetapi yang selain-Nya itu amat membutuhkan kepada-Nya.
89. Almughnii: Maha Pemberi kekayaan yakni memberikan kelebihan yang berupa kekayaan yang berlimpah-limpah kepada siapa saja yang dikehendaki dari golongan hamba-hamba-Nya.
90. Almaani’: Maha Membela atau Maha Menolak, yaitu membela hamba-hamba-Nya yang saleh dan menolak sebab-sebab yang menyebabkan kerusakan.
91. Adldlaar: Maha Pemberi bahaya, yakni dengan menurunkan siksa-siksa-Nya kepada musuh-musuh-Nya.
92. Annaafi’: Maha Pemberi kemanfaatan, yakni merata kebaikan yang dikaruniakan-Nya itu kepada semua hamba dan negeri.
93. Annuur: Maha Bercahaya yakni menonjolkan zat-Nya sendiri dan menampakkan untuk yang selain-Nya dengan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
94. Alhaadi: Maha Pemberi petunjuk, yaitu memberikan jalan yang benar kepada segala sesuatu agar langsung adanya dan terjaga kehidupannya.
95. Albadii’: Maha Pencipta yang baru, sehingga tidak ada contoh dan yang menyamai sebelum keluarnya ciptaan-Nya itu.
96. Albaaqii: Maha Kekal, yakni kekal hidup-Nya untuk selama-lamanya.
97. Alwaarits: Maha Pewaris, yakni kekal setelah musnahnya seluruh makhluk.
98. Arrasyiid: Maha Cendekiawan, yaitu memberi penerangan dan tuntunan pada seluruh hamba-Nya dan yang segala peraturan-Nya itu berjalan menurut ketentuan yang digariskan oleh kebijaksanaan dan kecendikiawanan-Nya.
99. Ashshabuur: Maha Penyabar yang tidak tergesa-gesa memberikan siksaan dan tidak pula cepat-cepat melaksanakan sesuatu sebelum waktunya.


Dalam kitab Addinul Islami disebutkan sebagai berikut: “Nama-nama Allah yang baik-baik (asmaul husna) yang tercantum dalam Alquran yaitu:

1. Nama-nama yang berhubungan dengan zat Allah Taala, yakni:
a. Alwaahid (Maha Esa)
b. Alahad (Maha Esa)
c. Alhaq (Maha Benar)
d. Alqudduus (Maha Suci)
e. Ashshamad (Maha dibutuhkan)
f. Alghaniy (Maha Kaya)
g. Alawwal (Maha Pertama)
h. Alaakhir (Maha Penghabisan).
i. Alqayyuum (Maha Berdiri Sendiri).

2. Nama-nama yang berhubungan dengan penciptaan, yakni:

a. Alkhaalik (Maha Menciptakan)
b. Albaari’ (Maha Pembuat)
c. Almushawwir (Maha Pembentuk)
d. Albadii’ (Maha Pencipta yang baru)

3. Nama-nama yang berhubungan dengan sifat kecintaan dan kerahmatan, selain dari lafal Rab (Tuhan), Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang), yakni:

a. Arra-uuf (Maha Pengasih)
b. Alwaduud (Maha Pencinta)
C. Allathiif (Maha Halus)
d. Alhaliim (Maha Penghiba)
e. Al’afuw (Maha Pemaaf)
f. Asysyakuur (Maha Pembalas, Pemberi karunia)
g. Almukmin (Maha Pemelihara keamanan)
h. Albaar (Maha Dermawan)
i. Rafi’ud darajat (Maha Tinggi derajat-Nya)
j. Arrazzaaq (Maha Pemberi rezeki)
k. Alwahhaab (Maha Pemberi)
l. Alwaasi’ (Maha luas)

4. Nama-nama yang berhubungan dengan keagungan serta kemuliaan Allah Taala yakni:

a. Al’azhiim (Maha Agung)
b. Al’aziiz (Maha Mulia)
C. Al’aliy (Maha Tinggi)
d. Almuta’aalii (Maha Suci)
e. Alqawiy (Maha Kuat)
f. Alqahhaar (Maha Pemaksa)
g. Aljabbaar (Maha Perkasa)
h. Almutakabbir (Maha Megah)
i. Alkabiir (Maha Besar)
j. Alkariim (Maha Pemurah)
k. Alhamiid (Maha Terpuji)
l. Almajiid (Maha Mulia)
m. Almatiin (Maha Kuat)
n. Azhzhaahir (Maha Nyata)
o. Zuljalaali wal ikraam (Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan)

5. Nama-nama yang berhubungan dengan ilmu Allah Taala, yakni:

a. Al’aliim (Maha Mengetahui)
b. Alhakiim (Maha Bijaksana)
C. Assamii’ (Maha Mendengar)
d. Alkhabiir (Maha Waspada)
e. Albashiir (Maha Melihat)
f. Asysyahid (Maha Menyaksikan)
g. Arraqiib (Maha Meneliti)
h. Albaathin (Maha Tersembunyi)
i. Almuhaimin (Maha Menjaga)

6. Nama-nama yang berhubungan dengan kekuasaan Allah serta caranya mengatur segala sesuatu, yakni:

a. Alqaadir (Maha Kuasa)
b. Alwakiil (Maha Memelihara penyerahan)
C. Alwaliy (Maha Melindungi)
d. Alhaafizh (Maha Pemelihara)
e. Almalik (Maha Merajai)
f. Almaalik (Maha Memiliki)
g. Alfattaah (Maha Pembuka)
h. Alhasiib (Maha Penjamin)
i. Almuntaqim (Maha Penyiksa)
j. Almuqiit (Maha Pemberi kecukupan)

7. Ada pula nama-nama yang tidak disebutkan dalam nas Alquran tetapi merupakan sifat-sifat yang erat kaitannya dengan sifat atau perbuatan Allah Taala yang tercantum dalam Alquran, yakni:

a. Alqaabidl (Maha Pencabut)
b. Albaasith (Maha Meluaskan)
C. Arraafi` (Maha Mengangkat)
d. Almu’iz (Maha Pemberi kemuliaan)
e. Almudzil (Maha Pemberi kehinaan)
f. Almujiib (Maha Mengabulkan)
g. Albaa’its (Maha Membangkitkan)
h. Almuhshii (Maha Penghitung)
i. Almubdi’ (Maha Memulai)
j. Almu’iid(Maha Mengulangi)
k. Almuhyii (Maha Menghidupkan)
l. Almumiit (Maha Mematikan)
m. Maalikulmulk (Maha Menguasai kerajaan)
n. Aljaami’ (Maha Mengumpulkan)
o. Almughnii (Maha Pemberi kekayaan)
p. Almu’thii (Maha Pemberi)
q. Almaani’ (Maha Membela, Maha Menolak)
r. Alhaadii (Maha Pemberi Petunjuk)
s. Albaaqii (Maha Kekal)
t. Alwaarits (Maha Pewaris).

8. Ada pula nama-nama Allah Taala yang diambil dari makna atau pengertian nama-nama yang terdapat dalam Alquran, yakni:

a. Annuur (Maha Bercahaya)
b. Ashshabuur (Maha Penyabar)
c. Arrasyiid (Maha Cendekiawan)
d. Almuqsith (Maha Mengadili)
e Alwaalii (Maha Menguasai)
f. Aljaliil (Maha Luhur)
g. Al’adl (Maha Adil)
h. Alkhaafidl (Maha Menjatuhkan)
i. Alwaajid (Maha Kaya)
j. Almuqaddim (Maha Mendahulukan)
k. Almu-akhkhir (Maha Mengakhirkan)
l. Adldlaar (Maha Pemberi bahaya)
m. Annaafi’ (Maha Pemberi kemanfaatan)

Dengan nama-nama di atas dirangkaikan pula sifat-sifat:

a. Takallum (Berfirman) dan
b. Iradat (Berkehendak)

Itulah nama-nama Allah dengan sifat-sifat-Nya. Semoga, kita semua bisa menghafalnya dengan fasih, baik di dalam kalbu dan pikiran kita. Semoga kita mendapat karomah dalam setiap kali kita menyebut nama-Nya, baik salah satunya maupun ke semuanya, yang sembilan puluh sembilan itu. Nama-nama Allah, adalah jalan, adalah cahaya, adalah doa, adalah karomah, adalah adalah-Nya, yang bisa dipastikan akan menuntun kita senantiasa dekat dan “menyatu” dengan-Nya.

Jakarta, 9 September 2008

09 September 2008

Puisi

DIDAH

Harris Cinnamon

Pertama kali bertemu dan menatapmu, dan mengenalmu
Tak ada getar apapun di jantungku, bahkan di jiwaku
Sekalipun kecantikan wajahmu memancar dari balik kerudungmu.
Namun, ketika mendengarmu mengaji dengan tilawah yang merdu dan indah,
seluruh jiwaku serasa terbang melayang ke arasy-Nya.
Engkau menyadarkanku betapa kecilnya diriku di mata Allah.
Ilmu agamaku masih sangat dangkal dan nyaris tiada.
Aku merasa belum ada apa-apanya.
Perlu waktu dan guru untuk lebur dalam keMahaan-Nya.

Kalaulah engkau bisa menyingkap rahasia siapa aku sesungguhnya,
Aku yakin engkau akan merasa gundah.
Dari luar barangkali aku tampak sempurna,
Tapi di dalam, jiwa dan kalbuku sangatlah hampa.

Dan sekali lagi, ketika mendengarmu mengaji dengan tilawah yang merdu dan indah,
segenap kalbuku yang selama ini jauh dari Allah,
menjadi sangat dekat dengan-Nya
Engkau menyadarkanku betapa aku sangat membutuhkan Allah
untuk hadir di dalam kalbu dan jiwaku yang dena.
Aku membayangkan alangkah tenang dan bahagia
Jika engkau bisa berjalan di sampingku menuju rumah-Nya.

Tapi aku yakin itu pasti hanya akan ada dalam angan-angan semata.
Ibarat pujangga, aku hanya bisa melahirkan kata-kata,
tapi belum bisa meniupkan makna di dalam keutuhan bahasa.
Namun, bagiku sesungguhnya kaulah keutuhan bahasa itu
lengkap dengan segala maknanya.
Izinkan aku senantiasa membacanya, di dalam gelap ataupun terang.
Dengan demikian, sekalipun aku tak memilikimu di dalam diriku.
Namun ketenangan darimu – yang bersumber dari-Nya – sejukkan kalbuku…

Jakarta, 7 Ramadhan 1429 H

28 Juli 2008

Catatan Cinnamon

Akhirnya Niken Terjemput Juga...

Sudah dapat diduga, persaingan di 4 besar KDI5 memang sangat ketat. 4 orang kontestan merupakan pilihan terbaik, sehingga sangat sulit menebak siapakah yang bakal menjadi juara KDI5. Dalam penentuan 4 besar menuju 3 besar KDI5, persaingan ketat itu begitu terasa jor-joran para pendukung dalam mengirimkan sms supaya jagoan masing-masing bisa lolos ke 3 besar, dan kemudian tentunya bisa menjadi juara KDI5. Aku yang menjagokan Niken pun ikut tegang dan berdebar-debar, begitu melihat perolehan sms-nya yang selalu berada dibawah, pada dua kawasan, yaitu pada kawasan Dangdut India dan Kawasan Dangdut Etnik. Niken hanya sekali berada di posisi 3, yaitu pada kawasan Dangdut Melayu. Namun sayang, pada saat kawasan Dangdut Pop atau Pop Dut berlangsung, aku sedang melaksakan shalat Isya', jadi tidak bisa melihat hasilnya. Sedang pada saat session tantangan, jumlah sms Niken tidak bisa menanjak secara signifikan. Apa mau dikata, hal ini menyebabkan Niken terpaksa hanya mampu menembus 4besar saja. Itu artinya, Niken akhirnya terjemput juga... Sungguh, aku merasa sangat sedih, harapanku supaya Niken menjadi penyanyi dangdut masa depan dan membawa citra baik pada musik dangdut, setengahnya menjadi kandas. Kenapa aku bilang setengahnya menjadi kandas, itu berarti masih tersisa setengahnya lagi sebuah perjuangan untuk tetap menjadikan Niken "mutiara yang bersinar di laut banda".

Aku tak punya firasat bahwa Niken akan terjemput, namun dari 4 buah lagu yang dibawakannya (seperti yang telah aku rilis pada Catatan Cinnamon sebelumnya), aku agak ragu apakah hal itu bisa membuatnya menjadi sesuatu yang prima dan sempurna. Nyatanya, ke-4 buah lagu itu, Timang-Timang, Sawen Kama Hina, Stasium Balapan, dan Selingkuh, tidak membuat Niken menjadi istimewa. Niken menjadi terlihat biasa. Dan pada malam sebelum episode ke 23, 26 Juli 2008, berlangsung, aku sempat melihat perolehan sementara sms 4 kontestan KDI 5 (4 besar: Dewi, Yofi, Vita dan Niken) di www.kdi.tpi.tv, sms yang diperoleh Niken sangat kecil, hanya sekitar 7 % lebih. Dan inilah, mungkin yang menjadi pertanda (bukan firasat), bahwa Niken akan terjemput. Dan benar Niken terjemput! Sungguh sangat disayangkan, tapi ini sebuah realita yang harus diterima dengan legawa. Karena sesungguhnya, masuk ke 4 besar pun, sudah merupakan prestasi yang luar biasa, tidak semua orang bisa meraihnya. Dan sesungguhnya pula, kemenangan sejati itu bukanlah menjadi juara pertama, tapi bagaimana kita bisa menyukuri setiap keberhasilan yang bisa kita raih. Dan di dalamnya, tidak pula lepas dari campur tangan-Nya. Allah Maha menentukan setiap keberhasilan manusia. 4 besar adalah anugerah-Nya, adalah pula titik awal untuk menjadikannya sebagai hikmah dan hidayah yang berharga, untuk perjuangan menjadi "sesuatu" di masa mendatang.

Untuk Niken, terus terang, sampai saat ini di mataku, kamu tetap "bintang", kalau boleh mengutip lagunya Peterpen, kamu adalah Bintang di Surga. Dalam nyanyimu, kamu bisa membawa kesejukan dan ketenangan, itu selalu terpancar dari raut wajahmu dan keseluruhan fisikmu (ini inner-beauty, yang pernah kusebut itu). Nik, jangan pernah berhenti menjadi yang terbaik dan menjadi dirimu sendiri, di sisi hatiku yang lain, kamu itu adalah perpaduan kepribadian Tjut Nya Dien dan Oshin, kelembutan dan ketegaran menjadi satu senyawa di dalam jiwamu. Aku yakin, masyarakat Aceh dan orang-orang yang agamis, akan selalu mendambakan perempuan muda tapi dewasa seperti kamu.

24 Juli 2008

Catatan Cinnamon

4 besr KDI5, makin berat!

Persaingan di KDI 5 makin berat. Apalagi telah memasuki 4 besar. 4 orang kontestan yang beradu, masing-masing telah pernah merasakan menjadi juara episode dan juga merasakan getirnya berada di daerah kritis. Sampai saat ini, secara jujur aku masih berharap Niken yang menjadi juara pertama KDI 5, meskipun pesaingnya cukup berat. Dewi memiliki suara yang cukup khas dan mempu membawakan segala jenis lagu dangdut. Yofi sangat kuat di rock-dangdut. Vita masih cukup kuat dengan dukungan smsnya, kalau dalam hal menyanyi menurutku masih belum begitu stabil. Masih sering terbawa karakter dan cengkok penyanyi aslinya dan belum mempunyai kekhasan yang mantap. Namun Vita memiliki kelebihan lain, wajahnya cantik, imut dan lucu sekaligus lugu.

Niken sebenarnya punya potensi yang kuat di dangdut. Ia memiliki karakter suara yang cukup khas, mudah dikenali. Tapi range suaranya kurang lebar, kurang bisa bermain di nada-nada tinggi maupun di nada-nada rendah. Jika main di nada-nada tinggi, cenderung halftone, suaranya tidak titinada, menggantung. Sedangkan di nada-nada rendah, cenderung artikulasinya tertelan, kata-kata yang diucapkan nyaris tak terdengar. Namun ia akan aman jika main di nada-nada menengah. Di samping itu, jenis lagu sangat berpengaruh pula dengan "aman"nya Niken main di nada-nada menengah. Seperti lagu "Ditelan Alam", "Perih", atau "Bulan di Ranting Cemara" sangat pas dengan suaran Niken. Sebenarnya ada kekuatan lain juga, menurutku Niken juga cukup mumpuni menyanyikan lagu Melayu dan Arab atau Timur Tengah.

Menghadapi pesaingnya di 4 besar, alami dan manusiawi sekali jika Niken merasa terbebani harus tampil maksimal. Tapi inilah sebuah resiko yang harus dihadapi dalam setiap kompetisi. Aku lihat lagu-lagu yang harus dibawakan Niken di 4 besar, lagi-lagi menurutku, kurang menantang. "Selingkuh" (Kangen Band), "Stasiun Balabpan" (Didi Kempot), "Diambang Sore" (Iis Dahlia) dan "Sawen Kamahina" (India) termasuk jenis lagu-lagu aman, bukan lagu festival. Ruang eksplore dari lagu-lagu tersebut sangat terbatas, tidak bisa dibuat liar. Tapi, aku coba memberikan semangat kepada Niken, agar ia tetap optimis bisa membawakan lagu-lagu itu dengan prima dan sempurna. Memanfaatkan sekecil apapun ruang eksplorasi dari tiap lagu itu. Dan yang paling penting adalah bersikap ikhlas terhadap apapun yang akan terjadi pada kompetisi 4 besar. Bahwa Allah telah memilihkan jalan yang terbaik setiap usaha yang dilakukan oleh manusia. Hilangkan berburuk sangka terhadap siapapun, baik terhadap para sesama kontestan, produser, tim kreatif, pelatih vokal, pemusik maupun para penasehat. Ambil sedapat mungkin energi yang postif dari kesemuanya. Dengan cara demikian, Insya Allah, kita akan mendapatkan kekuatan yang datangnya tidak disangka-sangka.

21 Juli 2008

Catatan Cinnamon

Niken masuk 4 besar KDI 5

Pada babak penentuan 4 besar KDI 5, 20 Juli 2008, Niken kembali masuk daerah Kritis bersama Yofi dan Randy. Situasi yang menegangkan kembali terjadi. Sungguh suatu situasi yang tidak terbayangkan. Padahal malam sebelumnya, pada saat penentuan 5 besar, 19 Juli 2008 Niken menjadi suara episode dengan perolehan SMS paling banyak. Dan memang penampilan Niken malam itu cukup prima. Pada saat penentuan dari 6 kontestan menjadi 5 besar, itupun meruapakan siatuasi yang juga menegangkan. Aku yang sampai saat ini masih menjagokan Niken (yang tinggal satu-satunya dari 5 orang lainnya yang aku jagokan di KDI 5), berusaha mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya agar Niken bisa masuk ke 5 besar. Dan alhamdulillah, hal itu menjadi kenyataan. Niken masuk 5 besar. Kenapa aku begitu berharap Niken bisa menjadi juara KDI? Karena aku melihat sinar baik dari Niken sebagai penyanyi dangdut masa depan. Ia cantik, anggun dan mempunyai inner beauty, serta memiliki kecerdasan emosional dan sekaligus intelektual, yang jarang dimiliki penyanyi dangdut kebanyakan. Memang secara kualitas vocal belum begitu prima, tapi jika diasah ia akan menjadi "mutiara yang bersinar di laut banda". Terus terang, sebagai seorang seniman (baca: sutradara), dalam hati terniat sebuah keinginan, aku akan membuat film tentang sukses story Niken atau paling tidak tentang pengalaman seorang gadis manis dari Aceh yang coba memperjuangkan cita-cita, cinta dan kehidupannya, hingga menjadi seleberitis terpopuler, tapi tetap santun dan menjaga nilai-nilai kedaerahan, ketimuran dan agama.

Saat-saat yang menegangkan penentuan 4 besar KDI 5, dimulai. Yang diumumkan pertama kali adalah perolehan SMS dari Yofi, ternyata memperoleh SMS diatas 20%. Cukup tinggi. Kemudian barulah diumumkan pelolehan SMS dari Niken, fantastis! Perolehan SMS Niken mencapai 28 %. Dan Niken dinyatakan masuk 4 besar, bersama Dewi dan Vita yang malam itu menjadi juara episode. Dan, berikutnya dibuka hasil perolehan SMS dari Randy, yang ternyata memperoleh SMS sekitar 15 % saja, yang berarti bahwa Randy tidak bisa mengikuti babak selanjutnya alias terjemput.

14 Juli 2008

Catatan Cinnamon

Niken Masuk Daerah Kritis!

Niken, merupakan salah seorang kontestan KDI 5 yang menduduki peringkat pertama dari 5 orang jagoanku yang telah terjemput. Pada episode ke 20, Minggu, 13 Juli 2008, untuk pertama kalinya Niken masuk ke daerah kritis. Sungguh sebuah situasi yang sangat menegangkan. Niken masuk daerah kritis bersama 2 orang kontestan lainnya di 6 besar KDI 5, yaitu Eka (asal Medan) dan Amini (asal Banjarmasin). Untung pada saat unjuk kebolehan agar bisa masuk ke daerah asyik, Niken berhasil memperoleh SMS terbanyak. Sehingga Niken bisa mengikuti kompetisi selanjutnya.

Malam sebelumnya, Sabtu, 12 Juli 2008, pada saat 7 besar, Okta yang juga merupakan jagoanku di KDI5, yang menduduki peringkat ke dua, setelah Niken, versiku, mengalami nasib tragis. Ia terjemput dengan perolehan SMS terendah, setelah disandingkan dengan Eka dan Amini di derah kritis. Padahal Okta mempunyai warna vokal yang bagus, berakater dan mempunyai keunikan tersendiri dalam hal cengkok dangdutnya. Tapi itulah yang namanya kompetisi, yang penilainnya berdasarkan sumlah SMS. Sehingga kualitas tidak bisa mempengaruhi jumlah SMS yang masuk.

Hal aneh yang aku lakukan, ketika Niken masuk daerah kritis, aku jadi "latah" ikut-ikutan kirim SMS sebanyak-banyaknya untuk Niken agar selamat. Ternyata memang cukup berhasil. Tapi apa iya, harus melalui SMS untuk menjadikan seorang sebagai bintang dangdut masa depan? Seharusnya tidak.

Catatan Cinnamon


Niken Masuk Daerah Kritis!

Niken, merupakan salah seorang kontestan KDI 5 yang menjadi jagoanku

10 Juli 2008

Catatan Cinnamon

Jagoanku di KDI 5, mulai ada yang terjemput lagi...

Sonata pada 5 Juli 2008, terjemput, setelah berusaha sekuat tenaga menampilkan segala kemampuannya dengan baik dalam gelaran Kontes KDI 5 episode ke 17. Demikian juga dengan Mega, yang juga merupakan salah seorang kontestan KDI 5 yang aku jagokan, beberapa minggu lalu, tepatnya pada gelaran KDI 5 episode 11, ia terjemput dan terpaksa harus kembali pulang kampung.

Sekarang makin sedikit jagoanku di KDI 5, semula berjumlah 6 orang, sekarang hanya tinggal 2 orang, yaitu Niken (dari Aceh) dan Okta (dari Palembang). Aku berharap, hingga akhir gelaran, kedua orang ini bisa masuk ke grand final, karena menurutku mereka punya talenta kuat untuk menjadi seleberitis dangdut di masa mendatang.

27 Mei 2008

Sketsa Rasa

Dua Cerita Menarik
Harris Cinnamon

Usai azan ashar berkumandang dari menara masjid An Nida, Pondok Gede. Para jamaah, lelaki dan perempuan, segera berhamburan menuju tempat wudlu di masjid itu. Yang lelaki masuk tempat wudlu pria, yang perempuan ke tempat wudlu wanita. Tapi ada salah seorang mengenakan jilbab masuk ke tempat widlu pria. Lho? Apa jenis kelamin orang ini?

Temanku yang lebih dulu terusik, menegurnya sambil menujuk tempat wudlu wanita yang ada di sisi sebalah barat masjid. "Mbak, tempat wudlu wanita di sebelah sana!" Dengan spontan orang ini menjawab, "Saya laki-laki kok, Mas!" tukasnya sembil melepaskan jilbabnya. Ia pun segera mengguyurkan air ke bagian-bagian tubuh yang telah disyaratkan untuk dibaluri wudlu. Aku lihat temanku terbengong-bengong sendiri dibuatnya. Aku pun tersenyum memperhatikannya.

Tak urung aku pun jadi penasaran, aku ikut memperhatikan orang itu. Dalam hati aku bergumam, orang itu pasti banci atau waria.

Selesai mengambil air wudlu, orang itu masuk ke dalam masjid. Ia tidak mengambil barisan di shaf laki-laki, melainkan masuk ke dalam shaf perempuan. Ia lantas mengenakan mukenah ke badannya. Ha? Aneh benar, tadi ketika berwudlu, ia mengambil air wudlu di tempat pria. Namun ketika shalat, justru ia mengenakan jilbab dan shalat di tempat wanita. Kenapa tadi tidak sekalian saja dia mengambil air wudlu di tempat wanita? Dan kenapa pula ia bilang bahwa dia laki-laki, kalau pada akhirnya ia beribadah dengan tata cara perempuan?

Dunia oh dunia, isimu kok begitu?

Itu cerita pertama. Berikut cerita kedua, yang tak kalah manariknya.

Seminggu kemudian, di masjid yang sama dan waktu yang sama, ashar. Di halaman parkir masjid, tampak sebuah mobil sedan berhenti di tempat yang teduh, di bawah pohon angsana. Tak lama kemudian dari dalamnya keluar seorang perempuan cantik, kulitnya putih. Ia mengenakan baju katun lengan pendek berwarena pink, bagian dadanya agak terbuka lebar. Belahan payudaranya tambak mencekung begitu dalam, menandakan betapa ukurannya cukup besar. Selain itu, perut dan bagian bokongnya juga terbuka lebar, disebabkan celana jin ketatnya sedikit agak melorot ke bagian pinggul. Wow, sungguh sebuah pemandangan yang mengundang birahi. Beberapa temanku yang sedang melepas sepatu, terpukau melihat mahluk Tuhan yang paling seksi itu. Apalagi kemudian cewek itu, dengan langkah tergesa, segera masuk ke dalam masjid. Tepatnya masuk ke tempat wudlu yang menyatu dengan toilet wanita.

Salah seorang berkomentar, "Cewek seperti ini, mantap. Seksi, aurat sedidikit terlihat, tapi tak melupakan ibadah."

Yang lain sepertinya mengamini. "Jarang cewek kayak 'gitu. Ada juga yang tampaknya alim, tapi salat saja susah."

Ada sekitar 3 menit berselang, cewek yang bertubuh aduhai itu keluar dan kembali lagi ke dalam mobilnya. Tak beberapa lama, mobil itu pun berjalan lagi.

Teman yang lain penasaran. Ketika melihat salah seorang teman perempuan yang tadi juga masuk ke dalam tempat wudlu, langsung ditanyainya. "Eh, tadi kamu lihat cewek seksi yang masuk ke tempat wudlu ya?"

"Yang memakai baju warna merah jambu?" teman perempuan itu balik bertanya.

Temanku yang penasaran mengiyakan. "Dia tadi salat ya?"

"Ha?" teman perempuan agak kaget.

"Kok, ha?"

"Iya, iyalah. Dia cuma numpang pipis...."

"Ha?!" sekarang temanku yang ternganga....

Dunia oh dunia, kenapa isimu seperti itu!?


Jakarta, 25 Mei 2008

14 Mei 2008

Sketsa Rasa

Daun Sirsak Obat Migren
Harris Cinnamon

Beberapa hari ini, mulai dari pundak, leher, hingga kepala bagian kiri terasa nyeri. Orang kerap menyebutnya sebagai migren. Aku masih belum begitu peduli untuk mencarikan solusi agar segera sembuh. Aku masih merasa bahwa rasa nyeri yang aku alami hanya temporal. Hanya karena kondisi fisikku saja yang kurang memadai, karena beban pekerjaan yang juga memang lagi padat.

Tapi ketika sedang duduk-duduk di beranda masjid, saat menjelang maghrib, aku coba menceritakan penyakitku itu kepada beberapa temanku — yang juga hendak melaksanakan ibadah solat maghrib. Tiba-tiba ada seseorang melintas, ia mengenakan baju warna kuning dan jalannya agak pincang. Ia menawarkan sebuah tips. “Mas, ” katanya nyeletuk, “coba saja minum rebusan daun sirsak, nanti penyakit migren-nya hilang!”

Aku dan teman-temanku terkesima. Siapa dia? Tanpa diminta, datang seperti malaikat, menawarkan sebuah solusi kesembuhan. “Air daun sirsak itu mirip seduhan teh, tapi tidak berasa pahit, ” katanya menambahkan. “Coba saja, Insya Allah, dengan izin-Nya penyakit migren akan sembuh.”

Aku belum mencoba tips yang ditawarkan lelaki tak dikenal itu. Tapi aku sangat menghormati solusi kesembuhan yang ditawarkannya itu. Dan tentu, bagi siapa saja, tak salah jika ingin mencobanya.

05 Mei 2008

Puisi

Buku Itu Telah Penuh
Harris Cinnamon

Buku itu telah penuh oleh tulisan kehidupan.
Pun sudah saatnya disimpan di rak buku kematian.

Di halaman terakhir ada secuil ruang kosong tersisa.
Tambahkan NB-mu, Rina, tak usah panjang, cukup sepenggal doa.

Semoga ada kenangan dan hikmah yang indah
di dalam tabung pena yang tak lelah menuliskan kisah…

Dan seusai mengurai airmata, ikhlaskanlah!

(Puisi dukacita buat Rina Ridson, atas wafat Ayah-nya tercinta).

Jakarta, 5 Mei 2008

04 Mei 2008

Puisi

Mu
Harris Cinnamon

sepiku adalah Mu
nyanyian kembaraku pun adalah Mu
gelapku adalah Mu
terang tanahku pun adalah Mu
doaku, salatku
hidupku, matiku
adalah Mu
apa pun ku adalah Mu...

sungguh maha segala Mu!
sungguh maha besar Mu!

Jakarta, 1 Mei 2008
Pondok Gede

Catatan Cinnamon

Jagoanku di KDI
Harris Cinnamon

Aku mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu tim juri KDI (kontes Dangdut TPI), dimulai pada KDI 4 tahun 2007. Aku kebagian 4 kota, yakni Makassar, Surabaya, Jogyakarta dan Jakarta. Dari keempat kota audisi tersebut, aku cuma menemukan satu orang yang aku anggap layak menjadi bintang dangdut Indonesia, yaitu Frida. Frida adalah kontestan asal kota Solo, tapi ia ikut audisi Jogyakarta. Secara fisik, memang kurang meyakinkan. Wajahnya tidak terlalu cantik, tubuhnya gemuk, dan warna kulitnya gelap, cenderung hitam. Tapi ia mempunyai suara yang sangat bagus, punya warna dan karakter tersendiri, dan tone-nya bisa mencapai ketinggian 4 oktaf di atas nada aslinya. Selain itu ia memiliki gaya panggung yang cukup menarik. Meskipun tubuhnya gemuk, tapi goyangannya sangat lentur dan bisa kayang dengan kepala tanpa menyentuh lantai. Melihat kondisinya seperti itu, aku meyakininya ia bisa menjadi juara. Dan terbukti, ia menjadi juara kedua setelah Nurdin asal Majene, kota audisi Makassar yang menempati urutan pertama.

Tahun 2008, aku kembali menjadi juri audisi KDI 5. Sama seperti tahun kemarin, tahun ini aku kebagian 4 kota audisi. 3 audisi kota kecil (Aceh, Pontianak, Banten), dan 1 audisi kota besar (Palembang). Namun kali ini jagoanku cukup banyak, ada 6 orang. 1 dari Aceh (Niken), 1 dari Pontianak (Sonata), 1 dari Banten (Via) dan 3 dari Palembang (Okta, Mega dan Memey). Tetapi secara peringkat aku mengurutkannya sebagai berikut, Niken peringkat pertama, kedua Okta, ketiga Mega, keempat Sonata, kelima Via dan keenam Memey. Namun pada kenyataannya saat melalui pintu GERBANG KDI 5, dua orang gugur. Memey dan Via tidak bisa tembus ke babak kontes. Tapi empat orang lainnya bisa masuk ke babak kontes.

Aku agak kecewa atas tidak masuknya Memey dan Via ke babak kontes. Tapi itulah kenyataan dari setiap pertandingan atau perlombaan, selalu saja ada yang gugur dan ada yang berhasil. Sekarang masih ada empat orang jagoan-ku yang masuk ke kontes.

Melalui tulisan ini, aku hanya ingin mencatatkan naluriku, bahwa terkadang penilaianku itu meski tak selalu tepat, tapi terkadang pada akhirnya bisa menjadi kenyataan.

11 April 2008

KACA JIWA

Kualat Setelah Ngumpat Saat Shalat
Harris Cinnamon

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Sekitar tahun 1987. Tapi terekam jelas dalam ingatanku. Sehingga sulit bagiku untuk melupakannya. Terutama karena ada hikmah di balik peristiwa itu.

Begini ceritanya, temanku satu kost-an paling sulit untuk diajak beribadah, padahal sewaktu SMA dia pernah menjadi juara MTQ tingkat kotamadya. Tapi kalau urusan cinta dan pacaran, itu menampati urutan pertama.

Meskipun aku tidak begitu alim, namun aku sering mengajaknya untuk melaksanakan shalat. Aku bilang padanya, "Kalaupun kamu tidak bisa memenunaikan ibadah shalat wajib lima waktu, minimal dalam satu minggu kamu shalat Jumat, itu sudah lebih lebih baik dibanding tidak shalat sama sekali." Dia hanya menjawab dengan senyuman yang tak berarti. Dan selalu begitu, setiap kali aku nasehati. Mungkin karena aku bukan ustads, jadi setiap ajakanku tidak pernah digubrisnya.

Tapi sekali waktu, entah karena disentuh angin apa, tiba-tiba ketika aku ajak melaksanakan shalat Jumat, dia mau. Tapi ketika datang ke masjid, ternyata ruangan masjid telah terisi penuh. Sehingga kami hanya dapat tempat di bagian luar masjid. Memang bukan kami saja yang kebagian tempat di bagian luar, tapi ada puluhan orang lainnya yang bernasib sama dengan kami. Saat itu, matahari bersinar sangat terik. Panasnya sangat menyengat bumi dan bisa melepuhkan kulit. Terpaksa, aku dan temanku beserta para jamaah lainnya yang terserak di luar masjid, mencari tempat berteduh. Ada yang berteduh di bawah pohon, di tempat parkir motor, atau di bawah atap tempat mengambil air wudlu. Sehingga beranda masjid, yang seluruh permukaannya terbuat dari keramik dan tanpa atap itu, leluasa menyerap sinar matahari yang panas membara, terlebih tak seorang jamaahpun duduk di atasnya.

Begitu saat shalat Jumat tiba, seluruh jamaah -- termasuk aku dan temanku, berhamburan mengisi beranda masjid itu. Waw, lantai beranda masjid yang seluruh permukaannya dari keramik ini panasnya naudzubilllah min dzalik...Jamaah lain mungkin tidak begitu merasakan panasnya, karena beralaskan sajadah. Sedangkan aku dan temanku hanya beralaskan koran bekas sebagai sajadahnya. Tahap awal berdiri di beranda yang panas itu, barangkali belum begitu terasa. Namun saat imam telah membaca ummul kitab, barulah rasa panas itu menyesap kulit telapak kaki. Dan koran bekas yang tipis itu, tentu saja tak 'kan mampu menghalau panas yang sangat menyengat. Di tengah-tengah kekhusyukanku dan jamaah lain mendengarkan lantunan suara imam membacakan suat Al Fatihah, tiba-tiba temanku mengumpat, karena tidak kuat menahan hawa panas yang merambati telapak kakinya. Kata-katanya sungguh tidak senonoh, kotor, dan jorok. Segala nama binatang, kemaluan lelaki dan perempuan disebutnya. "Ataghfirullahalazim!" aku mengucap dalam hati. Dan lebih parah lagi, tiba-tiba dia menyelinap pergi dan meninggalkan shaf-nya, menjauhi taklim yang sedang berlangsung khidmat itu....

Beberapa tahun ke depan, sekitar 7 tahun kemudian, setelah peristiwa ibadah shalat Jumat itu, menjelang pernikahannya, temanku itu mengalami kecelakaan. Saat menjelang maghrib, ia melajukan sepada motor yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi. Tanpa dinyana, di sebuah tikungan muncul mobil truck dari arah yang berlawanan, dan demi menghindari tabrakan, ia membanting stir motornya dan tergelincir ke tepi jalan, jatuh bergulingan. Motornya rusak berat, sedangkan dia cedera kakinya.

Melihat dua peristiwa itu, seakan tidak berhubungan satu sama lainnya, tapi jika dicermati secara mendalam, kaitannya sangat erat. Kita sering beranggapan dan bahkan meremehkan, bahwa seburuk apapun perbuatan kita tidak akan ada balasannya dari Allah. Seperti peristiwa yang dialami temanku itu. Dia merasa bahwa setelah mengumpat dengan kata-kata yang kotor di saat shalat, dia merasa tidak ada resikonya sama sekali. Dia merasa tidak ada pembalasan apapun dari Sang Ilahi. Tapi ternyata, pembalasan itu tetap ada, namun waktunya yang tidak bisa diduga. Karena sesungguhnya, pembalasan itu memang tidak bersifat spontan. Saat ini berbuat, saat ini juga mendapatkan pembalasan. Tidak selalu demikian. Karena Allah selalu punya cara untuk menimpakan hukuman. Hukuman itu bisa bersifat langsung, bisa juga tertunda beberapa lama, tapi semua orang bisa dipastikan akan tetap merasakannya. Hal itulah yang dialami oleh temanku. Semoga peristiwa yang dialaminya bermanfaat bagi kita semua.

02 April 2008

Jelajah Ranah

Saggau, Kota Kecil Nan Memukau
Harris Cinnamon

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika aku akan singgah di kota Kabupaten Sanggau. Mendengar namanya pun belum pernah. Apalagi secara sengaja maupun tidak melihatnya di atlas. Tapi nyatanya, 15 Maret 2008, aku telah menginjakkan kaki di kota ini.


Lanskap sore kota Kabupaten Sanggau






Kabupaten Sanggau merupakan salah satu daerah yang terletak di tengah-tengah dan berada di bagian utara provinsi Kalimantan Barat dan mempunyai jarak tempuh sekitar 5 jam perjalanan dari kota Provinsi Pontianak. Selepas menyeberang jembatan yang ada di kota Pontianak, aku bersama 3 orang temanku, Supri, Agus dan Syafrizal, langsung menuju ke kota yang tadi aku sebutkan, Sanggau. Seperti apakah kota Sanggau yang dimaksud, belum bisa dibayangkan sama sekali di benakku. Yang jelas jalan menuju kota itu sempat melalui beberapa dusun kecil, hutan rimba, dan ada sekitar satu jam-an diguncang oleh jalanan tanah yang berundak-undak. Temanku Supri sempat merasakan mual-mual, karena guncangan kendaraan yang disebabkan tidak mulusnya jalan yang dilalui.

Seusai menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, di ujung jalan yang buruk dan sedikit memasuki jalanan beraspal, kami diajak sopir mampir di sebuah kedai. Oh, ya hampr lupa, sopir yang membawa kami namanya Bowo, arek Surabaya memang, tapi sudah jadi warga kota jeruk itu. Kedai ini terletak di pinggir jalan dan di tengah hutan. Sepertinya tidak ada kedai lain di sini. Bahkan perkampungan pun tidak ada. Tapi semua kendaraan yang melintas di jalan ini bisa dipastikan akan menyinggahinya. Kedai ini adalah milik suku dayak, yang kebetulan adalah luruh di kampung tersebut. Pegawainya atau anaknya, dua orang perempuan berwajah china. Merekalah yang melayani kami ketika kami mampir di kedai ini.

Ada sekitar 15 menit, aku dan teman-temanku mampir, melepas penat. Aku memesan segelas kopi. Kopi di sini hampir sama dengan kopi Aceh. Berwarna kemerahan dan tanpa ampas. Sementara itu dua orang temanku Supri dan Agus sibuk manawar jamu sarang semut yang tergantung di dinding kedai. Mereka sepakat membeli 2 bungkus jamu sarang semut itu, yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Harga perbungkusnya Rp 12.500. Sedangkan Syafrizal menyempatkan diri nongkrong di kamar kecil di kedai ini, hajatnya tak lain ya buang hajat! Ha ha….


Ini saat aku menikmati kopi Pontianak






Setelah merasa cukup melepas kepenatan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar satu setengah jam sesudah itu, kami pun tiba di kota yang dimaksudkan. Kota Sanggau, Bupatinya Bapak Yansen Akun Effendy. Kota ini sama seperti kota-kota kabupaten lainnya di wilayah jawa, tropis, dataran tinggi berbukit-bukit dan sedikit dilingkupi tanah rawa. Pertama-tama sasaran kami adalah langsung menuju hotel di mana kami harusnya menginap dan beristirahat. Hotel Grand Narita namanya. Membaca nama hotel itu, seolah sedang berada di Jepang. Tapi tidak. Ini memang hotel yang ada di kota ini. Grand Narita merupakan hotel terbesar dan termegah di sini.


Ini adalah hotel Narita, tempat aku dan teman-teman nginap.







Menjelang sore, aku menuju ke tepi sungai Kapuas. Di tepi sungai yang membentang panjang dan lebar ini terdapat Istana Kraton Suryanegara. Aku sempat bergambar dan mengabadikan beberapa sudut lanskapnya. Ada beberapa buah mariam peninggalan kompeni yang dipajang di halaman istana.


Aku berpose dengan latar belakang Kraton Suryanegara.








Ini adalah mariam peninggalan kompeni.

Tak jauh dari Kraton yang kini juga difungsikan sebagai museum, terdapat masjid tua peninggalan Sultan atau dikenal juga dengan sebutan Syeh Ayub. Mesjid tua ini didirikan pada tahun 1825-1828. Seluruhnya bangunannya didominasi oleh kayu ulin. Dan konon sampai saat ini baru 2 kali mengalami renovasi, tapi tetap tidak menghilangkan jatidiri pada masjid tesebut. Yang menarik perhatianku adalah sumur tua dari batu yang terletak dibawah dan sekaligus menjadi penyanggah masjid. Air dari sumur ini berasal dari tampungan air hujan, dan kadang-kadang air Kapuas yang sengaja dimasukkan ke dalamnya apabila musim kemarau.


Aku dengan latar belakang masjid Jami' Syeh Ayub.









Karena kebetulan ketika sampai di mesjid tersebut azan maghrib berkumandang, maka kamipun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan penduduk setempat. Mereka tampaknya asing melihat kami, terutama terhadap diriku. Karena seperti biasa, pakaian yang sering kukenakan sangat standard, celana jins belel -- sedikit robek-robek (tapi tidak bolong) dan kaos oblong. Sementara penampilan fisikku yang paling menonjol adalah rambutku yang gondrong. Tapi dalam keasingan pandangan mereka, terdapat keramahan yang manawan.



Warung Bubur Khas Sanggau yang terletak di atas tanah yang menjorok tinggi.





Keesokan harinya, kami menyempatkan diri makan bubur khas Sanggau di warung yang terletak di atas tanah menjorok ke atas, semacam bukit kecil di tepi jalan, ya kira-kira begitulah! Bubur di sini tidak seperti bubur ayam di Jakarta. Barangkali lebih tepat jika disebut sebagai bubur ikan, karena lauknya memakai ikan bukan ayam. Selain itu buburnya lebih mirip nasi basah yang diberi air hingga banjir. Biasanya ditambah dengan sayur selada, tong chai, minyak bawang putih, garam, kecap dan juga micin. Rasanya pun wow sedap! Apalagi jika ditambah sambal, bisa keluar keringat saat menyantapnya.
Tapi di warung ini udaranya cukup dingin. Mungkin karena berada di dataran tinggi bersebelahan dengan jembatan Sekayam. Dari warung ini, kita bisa memandang ke kejauhan wilayah sekitar kota Sanggau, bahkan dari sini kita juga bisa melihat sungai Kapuas. Sungai Sekayam sendiri dibentangi oleh dua buah jembatan, satu jembatan gantung dan satunya lagi jembatan beton yang ada tiang penyanggahnya. Dua jembatan ini juga menjadi salah satu daya tarik dari kota Sanggau.


Ini adalah lanskap sungai Kapuas, sore hari.











Aku berpose di tepi sungai Kapuas.




Kami tidak lama di kota yang bersebelahan langsung dengan Kuching, Serawak, Malaysia ini. Kami hanya tiga hari saja melanglang di negeri suku dayak Bedayuh, Dili dan dayak Desa ini. 17 Maret 2008, selepas maghrib kami kembali menuju kota Pontianak. Tapi pulangnya tidak melalui jalan yang sama dengan ketika kami datang. Pulangnya melalui jalan lama, menurut istilah orang-orang di sana, yang paling banyak kelak-keloknya. Mirip sirkuit balapan. Sopir-sopir dibutuhkan kehati-hatian bila melalui jalan ini. Semua temanku Supri, Agus dan Syafrizal tertidur nyenyak, mungkin capek. Sedangkan aku tak bias tidur, karena khawatir sopir ikut-ikutan ngantuk. Jadi sepanjang perjalanan, terpaksa sopir aku ajak bicara. Bicara apa saja, tak perlu ada maknanya. Sekitar pukul 22.00 Wib, kita mampir di warung yang juga satu-satunya di tengah hutan. Kita mengisi perut dengan makanan yang mirip dengan masakan Padang. Penutupnya, kita makan beberapa buah duren. Durennya besar-besar, daging buahnya juga tebal. Rasanya manis dan legit. Wow, sempurnalah sudah perjalanan kami kali ini…

Pontianak, 18 Maret 2008.

01.45 WIB.

Hotel Garuda, Pontianak.


Di penghujung tulisan ini, aku juga sempat menuliskan sebuah puisi:


disebabkan oleh anginMu

aku bagai bulu melayang jauh...

seperti tak mengerti maksudMu

namun kuresapkan ke dalam kalbu
apalagi saat singgah di rumahMu
di pinggir Kapuas, di kota Sanggau
aku mencium kesturiMu yang muncul dari abad lampau
oh, terbangkanlah selalu diriku
seperti ini, seperti bulu, ya Rabb-ku!!



















































TSUNAMI ADALAH RENCONG
ADALAH DIDONG
ADALAH RANDAI


Tsunami adalah rencong
adalah pusaka yang dikramatkan
di atas ranah Darussalam kita.
Pusaka yang jarang dirempah bunga
yang langka disintuh doa
akan murka…

Tsunami adalah rencong
yang oleh kita diasah tajam
namun lupa disarungkan,
merobek dan menikam
jantung kita sendiri…

Tsunami adalah didong
adalah dendang kemuliaan
di atas bumi Banda,
namun jarang disenandungkan…
maka gempalah didong-nya…
nyanyian yang menyayat sukma…

Tsunami adalah randai
adalah tarian mengurai damai
di tanah serambi Mekkah…
tapi tubuh-tubuh dan tangan-tangan kita
terlalu kaku untuk menarikannya…
maka badai yang menggoyangkannya…

Tsunami telah meluhluh-lantakkan kita
Tsunami mendukakan luka kita
Tsunami mengubur jiwa-jiwa kita…

Kita patut menangis
Kita patut bersedih
Tapi kita tak boleh berhenti berdoa…

Kalau kita harus marah…
marahlah pada dosa kita
Jangan marah pada Tuhan!
Kalau kita harus benci…
bencilah pada nista kita
Jangan benci pada alam!

Bencana ini terjadi karena tidak pernah dikafani
dengan ketawadhuan dan keimanan kita…
Badan kita hidup, tapi jiwa kita telah lama mati
yang seharusnya sudah pula dimakamkan
tanpa batu nisan di atasnya...


27 Desember 2004
Jakarta








28 Maret 2008

Sanggau, Kota Kecil Nan Memukau

Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika aku akan singgah di kota Kabupaten Sanggau. Mendengar namanya pun belum pernah. Apalagi secara sengaja maupun tidak melihatnya di atlas. Tapi nyatanya, aku telah menginjakkan kaki di kota ini.

Kota Sanggau mempunyai jarak tempuh sekitar 5 jam perjalanan dari kota Provinsi Pontianak, Kalimantan Barat. Selepas menyeberang jembatan yang ada di kota Pontianak, aku bersama 3 orang temanku, Supri, Agus dan Syafrizal, langsung menuju ke kota yang tadi aku sebutkan, Sanggau. Seperti apakah kota Sanggau yang dimaksud, belum bisa dibayangkan sama sekali di benakku. Yang jelas jalan menuju kota itu sempat melalui beberapa dusun kecil, hutan rimba, dan ada sekitar satu jam-an diguncang oleh jalanan tanah yang berundak-undak. Temanku Supri sempat merasakan mual-mual, karena guncangan kendaraan yang disebabkan tidak mulusnya jalan yang dilalui.

Seusai menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, di ujung jalan yang buruk dan sedikit memasuki jalanan beraspal, kami diajak sopir mampir di sebuah kedai di tengah hutan. Sepertinya tidak ada kedai lain di sini. Bahkan perkampungan pun tidak ada. Tapi semua kendaraan yang melintas di jalan ini bisa dipastikan akan singgah di kedai ini. Kedai ini adalah milik suku dayak, yang kebetulan adalah luruh di kampung tersebut. Pegawainya atau anaknya, dua orang perempuan berwajah china. Merekalah yang melayani kami ketika kami mampir di kedai ini.

Ada sekitar 15 menit, aku dan teman-temanku mampir, melepas penat di kedai ini. Aku memesan segelas kopi. Kopi di sini hamper sama dengan kopi Aceh. Berwarna kemerahan dan tanpa ampas. Sementara itu dua orang temanku Supri dan Agus sibuk manawar jamu sarang semut yang tergantung di dinding kedai. Mereka sepakat membeli 2 bungkus jamu sarang semut itu, yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Harga perbungkusnya Rp 12.500.




Ini saat aku menikmati kopi Pontianak




Setelah merasa cukup melepas kepenatan, kami kembali melanjutkan perjalanan। Sekitar satu setengah jam sesudah itu, kami pun tiba di kota yang dimaksudkan. Kota Sanggau. Kota ini sama seperti kota-kota kabupaten lainnya di wilayah jawa. Pertama-tama sasaran kami adalah langsung menuju hotel di mana kami harusnya menginap dan beristirahat. Hotel Grand Narita namanya. Membaca nama hotel itu, seolah sedang berada di Jepang. Tapi tidak. Ini memang hotel yang ada di kota ini. Ini merupakan hotel terbesar dan termegah di sini.




Ini adalah hotel Narita, tempat aku dan teman-teman nginap.

Menjelang sore, aku menuju ke tepi sungai Kapuas. Di tepi sungai yang membentang panjang dan lebar ini terdapat Istana Kraton Suryanegara. Aku sempat bergambar dan mengabadikan beberapa sudut lanskapnya. Ada beberapa buah mariam yang peninggalan kompeni di pajang di halaman istana.

Aku berpose dengan latar belakang Kraton Suryanegara.


Ini adalah mariam peninggalan kompeni.

Tak jauh dari Kraton yang kini juga difungsikan sebagai museum, terdapat masjid tua peninggalan Sultan atau dikenal juga dengan sebutan Syeh Ayub. Mesjid tua ini didirikan pada tahun 1825-1828. Seluruhnya bangunannya didominasi oleh kayu ulin. Dan konon sampai saat ini baru 2 kali mengalami renovasi, tapi tetap tidak menghilangkan jatidiri pada masjid tesebut.

Aku dengan latar belakang masjid Jami Syeh Ayub.

Karena kebetulan ketika sampai di mesjid tersebut azan maghrib berkumandang, maka kamipun segera mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat maghrib berjamaah dengan penduduk setempat.

Warung Bubur Khas Sanggau yang terletak di atas tanah yang menjorok tinggi.

Keesokan harinya, kami menyempatkan diri makan bubur khas Sanggau di warang yang terletak di atas tanah menjorok ke atas di sisi jembatan Sekayam. Dari warung ini, kita bisa memandang ke kejauhan wilayah sekitar kota Sanggau, bahkan dari sini kita juga bisa melihat sungai Kapuas.


Ini adalah lanskap sungai Kapuas, sore hari.









Aku berpose di tepi singai कपुँस.



Jelajah Ranah

Melanglang Negeri Sejuta Masjid, Nangroe Aceh Darussalam
Harris Cinnamon

“Serambi Mekkah” sebutan untuk Provinsi Aceh itu, sudah sering aku dengar ketika aku masih duduk di bangku SD, mungkin saat duduk di kelas 4. Terbayang olehku betapa sakral dan sucinya kota itu. Aku bahkan sempat berangan-angan suatu ketika akan melanglang ke sana. Sampai tragedi referandum berdarah dan guncangan Tsunami mengguncangnya, aku belum juga bisa melaksanakan angan-anganku tersebut. Dan bayanganku pun robeklah sudah, Aceh saat ini pasti tidak lebih baik dari kota-kota yang ada di Indonesia. Aceh sudah bukan “Serambi Mekkah” lagi...
Dan aku pun sempat melupakan angan-anganku untuk berkunjung ke tanah rencong tersebut. Bahkan abang iparku, dr. Muslim, yang bekerja sebagai dokter bedah di Langsa pun, setiap kali aku singgah di Medan, sering kali mengajak aku untuk menjejakkan kaki di negeri yang subur untuk tanaman ganja itu. Tapi aku selalu menampik dengan alasan masih capek, jetleg, atau alasan lainnya. Padahal jarak antara Langsa dan Medan hanya memiliki jarak tempuh sekitar 2 jam-an saja.
Namun tanpa dinyana, mungkin karena sudah jalan hidupku, 7 Maret 2008, aku akhirnya menginjakkan kaki di tanahnya Tjut Nyak Dien ini. Aku menumpang Adam Air, dua minggu menjelang izin terbangnya dibekukan pemerintah, tiba di bandara Blang Bintang atau sekarang lebih dikenal dengan Sultan Iskandar Muda pukul 11.30 WIB.
Aku dijemput Andre, nama lengkapnya Andriansyah Putra dan Bang Dicky, bosnya radio dangdut di Banda Aceh, Toss FM. Mereka berdua adalah teman baruku. Kenal wajahpun baru di bandara ini. Sebelumnya hanya kenal lewat hape. Komunikasi jarak jauh. Setelah seluruh barang bawaan dimasukkan ke dalam bagasi mobil, kita langsung meninggalkan bandara yang kecil dan kalah bagus dibanding dengan stasiun kereta api Gambir di Jakarta. Tapi jangan salah, tak jauh dari bandara kecil itu, sedang dibangun bandara pengganti bertarap internasional, yang kabarnya tahun ini juga selesai dan segera dioperasikan. Mungkin kelak namanya bandara “Serambi Mekah”. Karena di sisi depan gedung yang sedang dibangun itu ada tulisan huruf “B”.


Ini adalah gedung yang akan menjadi bandara Internasionl, NAD,
yang sedang dalam pembangunan.

Selepas bandara, sepanjang perjalanan aku mengedarkan pandanganku। Aku merasa agak surprise, setiap beberapa jengkal aku melihat bangunan masjid। Mungkin antara masjid yang satu dengan masjid yang lainnya hanya berjarak sekitar 50 meteran। Subhanallah। Ternyata, bisikku dalm hati, negeri ini masih “serambi mekkah”. Makin jauh aku berjalan, makin sempurna pandangan mataku. Tak salah, negeri ini memang dipenuhi oleh rumah-rumah Allah. Banyak sekali jumlahnya. Aku sempat menggumam, ini adalah negeri sejuta masjid. Maha Besar Engkau Allah yang menciptakan tanah bertabur tasbih ini.

Kenangan Tsunami
Seharusnya aku langsung menuju hotel Soultan, tempat aku menginap. Menaruh barang bawaan dan mandi, untuk menyegarkan badan yang lengket oleh keringat. Namun itu tidak aku lakukan, karena masih penasaran dengan keadaan tanah leluhur Teuku Umar ini, aku langsung meminta Andre untuk mengajak aku keliling. Oh iya, Bang Dicky tidak ikut, dia turun di jalan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya di radio Toss. Andre langsung mengajak aku pergi ke arah pinggir pantai, wilayah yang sempat lumpuh diterjang tsunami pada 26 Desember 2004. Pertama-tama aku diajaknya mampir di kapal PLN yang terdampar di pemukiman warga di Planggahan atau Kampung Jawa. Kapal ini, sebenarnya bisa diangkut dan dibawa ke laut lagi, tapi biayanya sangat besr untuk itu. Akhirnya diputuskan untuk tetap dibiarkan saja di tempatnya terdampar dan dijadikan museum atau menumen yang menandai pernah terjadinya bencana hebat di ranah ini. Dulu sebelum diguncang tsunami, kapal ini adalah sumber tenaga listrik pengganti bagi masyarakat Banda Aceh, karenanya dikenal dengan PLN Apung. Saat tsunami melanda, kapal ini bagaikan monster merangsak dan menghacurkan beberapa ratus rumah yang dilaluinya. Bahkan di tempatnya terdampar sekarang, di bawahnya ada beberapa buah rumah yang diluluhlantakkannya. Bahkan konon, di bawahnya masih banyak mayat yang tidak bisa dikeluarkan.


Aku berpose di depan kapal PLN Apung yang terdampar di
pemukiman warga. Kapal ini terbawa arus 500-an meter dari tepi laut.

Setelah mampir sejenak di kapal PLN Apung tersebut, Andre lngsung mengajak aku menuju ke komplek pemakaman massal di Ulee Leuhe, yakni makam ribuan orang yang meninggal akibat tsunami.


Aku menyandar di batu prasasti atau boleh disebut sebagi batu
nisan dari ribuan orang korban Tsunami yang dikuburkan
secara massal di tempat ini. Tulisan yang ada di batu prasasti ini
ditulis dalam bahasa Aceh।



Ini adalah pintu gerbang dari kuburan massal. Di pintu ini tertulis
Al Anbiya 35: “Setiap yang berjiwa, pasti akan binasa, dan hanya
Kepada Kamilah kamu kembali.”


Di depan pemakaman massal para syuhada itu, sempat terbayang olehku betapa dahyatnya tsunami yang disiarkan lewat layar kaca televisi secara bertubi-tubi. Air membuncah menggulung segala yang ada, segala yang dilaluinya. Mayat-mayat bergelimpangan di antara tangis dan derita. Peristiwa itu benar-benar sudah seperti kiamat yang sesungguhnya. Sekarang di tempat ini, suasana terasa begitu tenang, angin berhembus lembut, suara ombak terdengar mendesau syahdu, langit di atasnya berwarna begitu biru. Bahkan di tepi pantai, aku sempat melihat kebesaran Allah, (sayangnya aku tidak sempat mengabadikannya dengan kamera, karena baterenya habis), ada gambar Ka’bah pada dinding mushala yang tidak hancur diterjang bencana, sedang mushala-nya sendiri sudah menjadi puing menyatu dengan tanah.

Kopi Saring
Sore hari, menjelang maghrib Andre mengajak aku mampir ke warung kopi CheekYukee, Ulee Kareng. Ternyata parkiran dipenuhi kendaraan roda dua dan empat, juga setiap bangkupun sudah dipadati orang. Rata-rata lelaki berusia remaja yang nongkrong di sini. Hanya ada beberapa gelintir saja perempuan yang ngopi. Kopi di sini sangat khas, warnanya agak kemerahan dan tanpa ampas. Orang di sini menyebutnya kopi saring atau kopi tarik. Kopinya bisa dihidangkan dengan berbagai pilihan. Bisa hanya kopi hitam polos tanpa atau dengan gula, bisa juga dicampur susu atau telor. Atau bagi tidak doyan kopi, bisa juga memesan teh atau minuman lainnya. Temannya minum kopi biasanya dihidangkan berbagai panganan ringan. Ada martabak, pisang goreng, nagasari, lemper ketan, tempe goring, dll. Sebelum ngopi, Andre sempat tanya padaku, “Bang bisanya sehari abang bisa ngopi berapa gelas?” Aku jawab, “Bisa mencapai 20 gelas.” Tapi begitu aku hanya mampu menghabiskan 2 gelas saja, Andre langsung tertawa. “Apa aku bilang, kopi di sini beda, Bang! Ada campurannya, tapi rahasia!”


Ini Andre yang menemani aku keliling Banda Aceh. Ini saat Andre
mengajak aku mampir menikmati wedang kopi
.





Ini kopi khas Aceh dan panganan pendamping minum kopi.






Ini dapur tempat pemasakan kopi khas Aceh. Jadi kopinya disaring
berkali-kali untuk mendapatkan rasa dan citarasa yang khas।



Lhoknga Nan Eksotis
Ternyata, Aceh juga memiliki pantai yang indah luar biasa. Pantai ini tidak kalah dibanding Sanur, Kuta, Senggigi, atau Bunaken. Inilah pantai Lhoknga. Pantai yang sangat indah dan eksotis. Pasirnya lembut dan sangat putih. Saat ini pantai ini memang belum tersentuh modernisasi, tapi suatu saat bisa dipastikan akan menjadi pantai yang ramai dikunjungi karena keeksotisannya. Saat tsunami melanda, hampir 90 % penduduk di sini sirna nyawanya, bahkan beberapa hilang dan tak pernah ditemukan lagi.
Di tepi pantai ini banyak berdiri warung-warung kecil yang menjajakan jagung bakar. Mungkin, kalau kita pernah singgah di Puncak, Bogor, ya suasananya hampir sama dengan puncak yang hawanya dingin itu. Tak jauh dari pantai ini, pula ada berdiri Pabrik Semen. Ombak dipantai ini gelombangnya juga cukup besar, sehingga tidak salah jika sesekali kita melihat bule-bule berselancar di sini.


Aku dengan latar belakang salah satu bukit yang ada di pinggir
pantai Lhoknga






Aku dengan latar belakang pantai Lhoknga, dan dikejauhan tampak
bukit yang membiru
.







Aku dengan latar belakang pantai Lhoknga, dan dikejauhan tampak
bukit yang membiru
.




Masjid Raya Baiturrahman
Rasanya, kalau jauh-jauh melanglang ke negeri orang, apalagi melanglang ke Nangroe Aceh Darussalm, tidak mampir dan beribadah di masjid raya yang bersejarah Masjid Baiturrahman, rsanya tidak afdol.
Karena itu meskipun tubuh masih terasa lelah, aku sempatkan mampir dan bergambar di depan masjid Baiturrahman.


Aku dengan latar belakang masjid raya Baiturrahman.







Aku berdiri, masih dengan latar belakang masjid Baiturrahman.





Saat menjelang pulang kembali ke Jakarta, tanggal 12 Maret 2004, aku menyempatkan melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid yang kokoh ini, yang sempat menyelematkan beberapa ratus nyawa dari badai tsunami। Bahkan dari cerita temanku Andre, ada seorang keturuanan Tionghoa yang ikut naik ke atap mesjid itu ketika air bah tsunami menyerbu kota Banda Aceh। Orang Tionghoa ini melihat lelaki bersorban serba putih dan dengan sorban putihnya itulah ia membendung air bah sehingga tidak menenggelamkan masjid yang anggun itu. Dan sejak saat itu, orang Tionghoa terssebut menyatakan memeluk Islam, dan toko miliknya saat ini menjadi toko yang paling ramai dikunjungi orang. Dulu tulisan di depan tokonya bertuliskan huruf-huruf china, sekarang telah diganti dengan tulisan Bismillah diapit dengn tulisan Allah dan Muhammad.

Tidak banyak orang yang melaksankan shalat subuh di masjid ini, mungkin hanya sekitar 25 orang saja। Tapi meskipun begitu, suasananya terasa sangat khusyuk dan khidmat। Membayangkan jumlah orang yang beribadah di masjid ini, ingatanku terlontar ke sejumlah masjid yang ada di NAD ini। Memang rata-rata orang yang melaksanakan ibadah shalat setiap waktunya tidak banyak, barangkali masing-masing masjid yang (terlihat olehku) hany sekitar 5 orang saja. Ini mungkin disebabkan oleh jumlah masjid yang begitu banyak itu. Jadi orang-orang tersebar di sejumlah masijid tersebut, sehingga terkesan sedikit orang Aceh yang shalat.

Ini suasana ibadah shalat subuh di masjid Baiturrahman.





Aku berpose di depan mihrab. Agak aneh, yang lain berpakaian yang
sangat agamis, sedang aku pake kaos dan celana jins.





Sehabis melaksanakan shalat subuh, aku menyempatkan diri memotret beberapa sudut masjid Baiturrahman. Ternyata lanskap masjid ini terlihat sangat indah dan menggugah jiwa di kala cahaya matahari masih sedikit tersembunyi di balik bumi.


Tampak halaman depan masjid Baiturrahman di kala fajar.







Ini adalah menara masjid Baiturrahman di kala fajar. Indah benar!







Aku berdiri dengan latar belakang pintu gerbang masjid Baiturrahman,
seusai shalat subuh.






Munajat
Ya, Allah yang Maha Rahman, Aceh adalah kota yang indah, adalah juga kota ibadah untuk menuju sorgaMu।
Ya, Allah yang Maha Rahim, lindungilah Aceh dari bencana apapun, sampai kelak kiamat sungguhan menghampirinya.
Ya, Allah, bantulah negeri yang elok ini, untuk dapat menjalankan syariat Islam secara kaffah dan murni.
Ya, Allah, izinkan aku untuk berkunjung kembali ke kota ini, suatu saat nanti.
Terlebih ketika kota ini benar-benar telah menjadi serambi yang bisa langsung membawa siapapun bisa mampir ke rumahMu. Amin.

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..

Lebih Jelas....Wajah Pemilik Site..
Menatap langit, menguak cakrawala, menyentuh cinta dengan sajadah jiwa

Boleh Dong Numpang Mejeng....

Boleh Dong Numpang  Mejeng....
Mencoba menatap masa depan sebisanya, sesapanya...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...

Mejeng lagi tuh...duh ampun...
Ah....kayaknya cukup keren jugalah...

Gadis Aceh

Gadis Aceh
Aku mengenal gadis ini dengan nama Ayu. Nama lengkapnya belum tahu. Tapi menurutku namanaya kurang mencerminkan etnik Aceh, padahal wajahnya sangat pribumi (khas wajah-wajah gadis Aceh). Wajahnya mengingatkan aku pada sosok Tjut Nyak Dhien. Tapi tentu dalam bayanganku, adalah saat Tjut Nyak Dhien masih belia. Selain itu, aku juga jadi terbayang pada para pemeran wanita film Ayat-Ayat Cinta. Menurutku, Ayu sangat pas untuk memerankan salah satu tokoh gadis dalam film garapan Hanung Bramantyo itu. Aku punya saran, kalau nanti ada yang akan membesut film religi Islam, sebaiknya mengikutkan Ayu untuk jadi salah satu pemerannya. Kalau tidak ada, aku sendiri pun berniat untuk mengorbitkannya menjadi salah seorang seleberitis Indonesia dengan wajah kedaerahan Aceh yang kental.